Our Diary.
to Share our Life Events


Gerakan yang Tak Bergerak
Oleh: Rini Selasi Hulu

Sebenarnya sebuah opini pasti selalu bersifat subjektif dan beranjak dari kacamata pribadi yang kenyataannya belum tentu dimaknai sama oleh orang lain. Namun, adapun yang dipaparkan dalam tulisan ini kiranya dapat membuka sedikit kepekaan kita tentang beberapa hal yang saya soroti dalam pergerakan yang sudah menginjak 11 tahun ini, walaupun saya baru mengecap 5 tahun dari hitungan tersebut.
Ada banyak cerita dan ada banyak kisah yang mungkin bila diungkapkan panjang lebar layaknya sebuah curhatan publik yang dirangkai dalam tulisan, oleh sebab itu saya hanya menuliskan hal-hal umum yang saya rasakan dan membagikannya melalui tulisan ini.
Hangat yang dingin
Komunikasi tidak dipungkiri merupakan elemen penting dalam hidup berorganisasi. Komunikasi yang terjalin sedemikian baik merupakan sebuah indikasi kedekatan masing-masing anggota secara emosional dan bentuk kenyamanan satu sama lain. Namun kenyataannya, kita tenggelam dalam rutinitas masing-masing, mengatasnamakan kesibukan untuk menanggapi keabsenan kita dalam berbagai kesempatan. Kita mulai bicara “aku” dan “kau” yang ingin selalu dimengerti karena mengandalkan keegoisan.
Seharusnya teknologi yang kian mumpuni dapat memfasilitasi kita untuk saling berkomunikasi dan merupakan nilai tambah di era yang serba canggih seperti saat ini. Mulai dari surat menyurat hingga SMS (Short Message Service) yang begitu cepat diterima oleh handphone masing-masing dalam hitungan detik, ditambah lagi berbagai kemudahan dari provider kartu cellular yang rajin memberikan SMS gratis. Tapi kenapa kita masih berkutat di masalah komunikasi?
Salah satu jawabannya mungkin bukanlah kuantitas surat undangan yang diberikan secepatnya itu atau SMS yang berlayar-layar yang diterima, karena “sapaan hangat” yang diungkapkan dengan tulus dan penuh kasih merupakan cara yang cukup ampuh untuk semakin dekat. Apakah kini senyuman kita memang seindah yang terlihat? Atau hanya penghias wajah yang dioleskan sesaat. Kebersamaan yang dulu terasa hangat kini semakin menguap dan mendingin, yang sepertinya butuh tungku untuk dipanaskan kembali sebelum benar-benar membeku. Memang bukan hal mudah merealisasikan ut omnes unum sint dalam keseharian kita seperti yang senantiasa diucapkan pada setiap kali kita mengakhiri kalimat, tapi pekerjaan rumah ini layaknya dikerjakan bersama-sama dan niat tulus untuk semakin memaknai kasih dalam pergerakan ini.
Hitung-menghitung
Dari awal ketika menyatakan diri bersedia melayani baik dalam kepengurusan maupun kepanitiaan, saya semakin menghayati arti melayani dan senantiasa diingatkan bahwa pelayanan adalah tentang ikut ambil bagian dalam menjadi hamba Dia Sang pemilik hidup yang memilih kita melayani-Nya dalam wadah ini, bukan untuk siapa dan apa, dan bukan agar terlihat hebat dan gagah di mata manusia, tapi terlebih hanya untuk menyenangkan Dia. Itulah perbedaan mendasar pelayanan dan bisnis yang berlandaskan keduniawian yang mengukur segalanya dengan materi. Filosofi ini hampir membuat saya jenuh karena dituturkan berulang-ulang. Tapi, mau tak mau untaian kata itu menyihir saya untuk membuka mata tentang arti lelah dan penat selama kepengurusan dan menjadi penggerak semangat ketika hampir lenyap.
Kita sering merasa sudah memberikan yang terbaik, merasa sudah banyak berkorban, merasa sudah sangat menderita untuk pelayanan ini dan mulai menghitung setiap peluh yang dikeluarkan. Kita juga sering merasa sudah melakukan banyak tapi yang lain tidak. Gejala ini kemudian berimplikasi pada kualitas pelayanan yang dilakukan dengan keterpaksaan. Sebenarnya apa yang kita harapkan dari menonjolkan setiap hal yang kita lakukan dan mulai mempertanyakan apa yang sudah orang lain lakukan? Lebih baik tidak melakukan apa-apa dan jadi penonton bila mindset kita terkungkung dalam “aku sudah melakukan bagianku dan sekarang giliranmu”. Bukankah akan menjadi berkat bila kita berkata “inilah yang sudah kulakukan Tuhan dan mampukan aku untuk terus melayani-Mu”.
Terlihat bahwa sifat militan dan semangat berjuang menjadi hal yang langka untuk ditemukan dalam kepribadian kader GMKI masa kini. Tak salah kalau disebut terminal kader di GMKI sedang dalam masa renovasi, entah butuh waktu seberapa lama lagi hingga mampu aktif beroperasi. Apapun peran kita dalam lingkupan wadah ini adalah sebuah anugerah yang tak terkira dan tak pantas disia-siakan.
Madu yang pahit
Ada peribahasa yang berkata madu yang manis jangan langsung ditelan dan obat yang pahit jangan langsung dimuntahkan. Kiasan ini mengingatkan tentang sesuatu yang menurut kita baik belum tentu baik untuk kita dan demikian sebaliknya. Kita sering terlena tentang segala sesuatu yang indah didengar yang membutakan kita tentang realita yang terjadi dan menutup telinga terhadap suara-suara sumbang menurut diri kita yang dirasa hanya berisi kata-kata yang menyakitkan hati. Kita perlu introspeksi diri dan memandang segala sesuatunya positif. Mereka yang anti dikritik ibarat bejana yang enggan melalui proses pembentukan dan pembakaran yang menyakitkan sebelum akhirnya siap dipakai. Hal seperti ini mulai berkembang diantara kita belakangan. Ketika kritikan yang datang dianggap bom atom yang menghancurkan dan kita selalu memulai dengan berbagai pembelaan tentang berkorban dan melakukan yang terbaik, yang terkadang memuakkan utuk didengar.
Manusia memang tidak ada yang sempurna, tapi tidak serta merta kita meniadakan usaha untuk mendekati kesempurnaan yang selalu berlindung dibalik pembelajaran. Orang-orang yang mau mengakui kesalahan adalah mereka yang pemberani dan memiliki kepribadian kuat. Kita bukanlah bocah ingusan yang masih butuh ibu untuk membersihkan ingus sendiri, tapi kita harusnya sudah mampu mancari tisu dan membersihkan ingus sendiri.
Cara kita menanggapi sebuah permasalahan mencerminkan kepribadian kita sebagai pemimpin masa depan. Wujud kedewasaaan tidak selalu berbanding lurus dengan usia, namun pemikiran dan cara memandang setiap kejadian menjadi salah satu pembuktian kedewasaan dan tanda kepribadian yang semakin berkembang.
Refleksi Hati
          Bersyukur GMKI masih bisa menyanyikan selamat ulang tahun untuk yang ke-11 kali. Namun bila kita menghayati arti kehadiran kita, apa yang dapat diungkapkan? Kita dikenal para aktivis tapi ibarat macan ompong yang tak mampu menggigit. Bagaimana mau menggigit bila gigi kita sudah tanggal dimakan zaman. Hedonisme selalu menjadi pilihan dibandingkan mengisi diri dalam berbagai kegiatan di GMKI dan memperlengkapi diri menghadapi tantangan dunia. Bila tradisi ini terus dilestarikan bukan tak mungkin komisariat ini mati, seperti tetangga kita di Fakultas Kedokteran USU yang hilang ditelan kesibukan.
          Moment yang tepat untuk kita merenung tentang keberadaan kita selama ini. Benarkah sudah melangkah dalam upaya mewujudkan tinggi iman, tinggi ilmu dan pengabdian? Atau masih jalan di tempat dan tak bergerak kemanapun, karena untuk masalah internalpu kita belum selesai.
          Tidak tahu seberapa banyak yang dapat saya ungkapkan tentang kecintaan pada gerakan ini. Ketika tertatih-tatih hingga mampu berlari, saya pelajari dalam gerakan ini. Sosok abang dan adik saya temukan dalam keluarga ini. Hanya cinta yang dilandasi kasih-Nya menjadi aroma segar dalam setiap kisah kita di GMKI. Bila hidup sampai seribu tahun lagi semoga GMKI masih berdiri dan tepukan selamat masih dapat terdengar seperti saat ini.
          Selamat ulang tahun GMKI, tinggilah imanmu, tinggilah ilmumu dan tinggilah pengabdianmu. Ut omnes unum sint.
Syalom.
  •  
GMKI Komisariat FKM USU GMKI Komisariat FKM USU Author

FACEBOOK