Rabu, Mei 02, 2012
Gerakan
yang Tak Bergerak
Oleh:
Rini Selasi Hulu
Sebenarnya
sebuah opini pasti selalu bersifat subjektif dan beranjak dari kacamata pribadi
yang kenyataannya belum tentu dimaknai sama oleh orang lain. Namun, adapun yang
dipaparkan dalam tulisan ini kiranya dapat membuka sedikit kepekaan kita
tentang beberapa hal yang saya soroti dalam pergerakan yang sudah menginjak 11
tahun ini, walaupun saya baru mengecap 5 tahun dari hitungan tersebut.
Ada
banyak cerita dan ada banyak kisah yang mungkin bila diungkapkan panjang lebar
layaknya sebuah curhatan publik yang dirangkai dalam tulisan, oleh sebab itu
saya hanya menuliskan hal-hal umum yang saya rasakan dan membagikannya melalui
tulisan ini.
Hangat
yang dingin
Komunikasi
tidak dipungkiri merupakan elemen penting dalam hidup berorganisasi. Komunikasi
yang terjalin sedemikian baik merupakan sebuah indikasi kedekatan masing-masing
anggota secara emosional dan bentuk kenyamanan satu sama lain. Namun
kenyataannya, kita tenggelam dalam rutinitas masing-masing, mengatasnamakan
kesibukan untuk menanggapi keabsenan kita dalam berbagai kesempatan. Kita mulai
bicara “aku” dan “kau” yang ingin selalu dimengerti karena mengandalkan
keegoisan.
Seharusnya
teknologi yang kian mumpuni dapat memfasilitasi kita untuk saling berkomunikasi
dan merupakan nilai tambah di era yang serba canggih seperti saat ini. Mulai
dari surat menyurat hingga SMS (Short Message Service) yang begitu cepat
diterima oleh handphone masing-masing
dalam hitungan detik, ditambah lagi berbagai kemudahan dari provider kartu cellular yang rajin memberikan SMS
gratis. Tapi kenapa kita masih berkutat di masalah komunikasi?
Salah
satu jawabannya mungkin bukanlah kuantitas surat undangan yang diberikan
secepatnya itu atau SMS yang berlayar-layar yang diterima, karena “sapaan
hangat” yang diungkapkan dengan tulus dan penuh kasih merupakan cara yang cukup
ampuh untuk semakin dekat. Apakah kini senyuman kita memang seindah yang
terlihat? Atau hanya penghias wajah yang dioleskan sesaat. Kebersamaan yang
dulu terasa hangat kini semakin menguap dan mendingin, yang sepertinya butuh
tungku untuk dipanaskan kembali sebelum benar-benar membeku. Memang bukan hal
mudah merealisasikan ut omnes unum sint dalam
keseharian kita seperti yang senantiasa diucapkan pada setiap kali kita
mengakhiri kalimat, tapi pekerjaan rumah ini layaknya dikerjakan bersama-sama
dan niat tulus untuk semakin memaknai kasih dalam pergerakan ini.
Hitung-menghitung
Dari
awal ketika menyatakan diri bersedia melayani baik dalam kepengurusan maupun
kepanitiaan, saya semakin menghayati arti melayani dan senantiasa diingatkan
bahwa pelayanan adalah tentang ikut ambil bagian dalam menjadi hamba Dia Sang
pemilik hidup yang memilih kita melayani-Nya dalam wadah ini, bukan untuk siapa
dan apa, dan bukan agar terlihat hebat dan gagah di mata manusia, tapi terlebih
hanya untuk menyenangkan Dia. Itulah perbedaan mendasar pelayanan dan bisnis
yang berlandaskan keduniawian yang mengukur segalanya dengan materi. Filosofi ini
hampir membuat saya jenuh karena dituturkan berulang-ulang. Tapi, mau tak mau
untaian kata itu menyihir saya untuk membuka mata tentang arti lelah dan penat
selama kepengurusan dan menjadi penggerak semangat ketika hampir lenyap.
Kita
sering merasa sudah memberikan yang terbaik, merasa sudah banyak berkorban,
merasa sudah sangat menderita untuk pelayanan ini dan mulai menghitung setiap
peluh yang dikeluarkan. Kita juga sering merasa sudah melakukan banyak tapi
yang lain tidak. Gejala ini kemudian berimplikasi pada kualitas pelayanan yang
dilakukan dengan keterpaksaan. Sebenarnya apa yang kita harapkan dari
menonjolkan setiap hal yang kita lakukan dan mulai mempertanyakan apa yang
sudah orang lain lakukan? Lebih baik tidak melakukan apa-apa dan jadi penonton
bila mindset kita terkungkung dalam
“aku sudah melakukan bagianku dan sekarang giliranmu”. Bukankah akan menjadi
berkat bila kita berkata “inilah yang sudah kulakukan Tuhan dan mampukan aku
untuk terus melayani-Mu”.
Terlihat
bahwa sifat militan dan semangat berjuang menjadi hal yang langka untuk
ditemukan dalam kepribadian kader GMKI masa kini. Tak salah kalau disebut
terminal kader di GMKI sedang dalam masa renovasi, entah butuh waktu seberapa
lama lagi hingga mampu aktif beroperasi. Apapun peran kita dalam lingkupan
wadah ini adalah sebuah anugerah yang tak terkira dan tak pantas disia-siakan.
Madu
yang pahit
Ada
peribahasa yang berkata madu yang manis jangan langsung ditelan dan obat yang
pahit jangan langsung dimuntahkan. Kiasan ini mengingatkan tentang sesuatu yang
menurut kita baik belum tentu baik untuk kita dan demikian sebaliknya. Kita
sering terlena tentang segala sesuatu yang indah didengar yang membutakan kita
tentang realita yang terjadi dan menutup telinga terhadap suara-suara sumbang
menurut diri kita yang dirasa hanya berisi kata-kata yang menyakitkan hati.
Kita perlu introspeksi diri dan memandang segala sesuatunya positif. Mereka
yang anti dikritik ibarat bejana yang enggan melalui proses pembentukan dan
pembakaran yang menyakitkan sebelum akhirnya siap dipakai. Hal seperti ini
mulai berkembang diantara kita belakangan. Ketika kritikan yang datang dianggap
bom atom yang menghancurkan dan kita selalu memulai dengan berbagai pembelaan
tentang berkorban dan melakukan yang terbaik, yang terkadang memuakkan utuk
didengar.
Manusia
memang tidak ada yang sempurna, tapi tidak serta merta kita meniadakan usaha
untuk mendekati kesempurnaan yang selalu berlindung dibalik pembelajaran.
Orang-orang yang mau mengakui kesalahan adalah mereka yang pemberani dan
memiliki kepribadian kuat. Kita bukanlah bocah ingusan yang masih butuh ibu
untuk membersihkan ingus sendiri, tapi kita harusnya sudah mampu mancari tisu
dan membersihkan ingus sendiri.
Cara
kita menanggapi sebuah permasalahan mencerminkan kepribadian kita sebagai
pemimpin masa depan. Wujud kedewasaaan tidak selalu berbanding lurus dengan
usia, namun pemikiran dan cara memandang setiap kejadian menjadi salah satu
pembuktian kedewasaan dan tanda kepribadian yang semakin berkembang.
Refleksi
Hati
Bersyukur GMKI masih bisa
menyanyikan selamat ulang tahun untuk yang ke-11 kali. Namun bila kita
menghayati arti kehadiran kita, apa yang dapat diungkapkan? Kita dikenal para
aktivis tapi ibarat macan ompong yang tak mampu menggigit. Bagaimana mau
menggigit bila gigi kita sudah tanggal dimakan zaman. Hedonisme selalu menjadi
pilihan dibandingkan mengisi diri dalam berbagai kegiatan di GMKI dan
memperlengkapi diri menghadapi tantangan dunia. Bila tradisi ini terus
dilestarikan bukan tak mungkin komisariat ini mati, seperti tetangga kita di
Fakultas Kedokteran USU yang hilang ditelan kesibukan.
Moment yang tepat untuk kita merenung
tentang keberadaan kita selama ini. Benarkah sudah melangkah dalam upaya
mewujudkan tinggi iman, tinggi ilmu dan pengabdian? Atau masih jalan di tempat
dan tak bergerak kemanapun, karena untuk masalah internalpu kita belum selesai.
Tidak tahu seberapa banyak yang dapat
saya ungkapkan tentang kecintaan pada gerakan ini. Ketika tertatih-tatih hingga
mampu berlari, saya pelajari dalam gerakan ini. Sosok abang dan adik saya
temukan dalam keluarga ini. Hanya cinta yang dilandasi kasih-Nya menjadi aroma
segar dalam setiap kisah kita di GMKI. Bila hidup sampai seribu tahun lagi
semoga GMKI masih berdiri dan tepukan selamat masih dapat terdengar seperti
saat ini.
Selamat ulang tahun GMKI, tinggilah
imanmu, tinggilah ilmumu dan tinggilah pengabdianmu. Ut omnes unum sint.
Syalom.