Rabu, Mei 02, 2012
KETIKA
GARAM MENJADI TAWAR
(Mempertanyakan
Integritas Kader GMKI?)
Oleh:
Suparlan Lingga
‘Kamu
adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?
Tidak ada lagi gunanya selain dibuan dan diinjak orang.’(Mat 5:13)
Negeri dengan seribu kemerosotan.
Mungkin inilah julukan yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi bangsa
kita sekarang ini. Bangsa yang dulu pernah (dipuja-puji) mengalami masa
keemasan di era Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit kini justru mengalami
kemerosotan luar dan dipandang sebelah mata dalam percaturan dunia
internasional. Berbagai stereotip negatif seperti julukan ‘indon’, negara
pengekspor pembantu hingga pemalas sering diteriakkan bangsa lain. Kita memang
marah dengan ejekan ini, tetapi jujur diakui kita memang tertinggal jauh dengan
negara-negara lain bahkan di tingkat ASEAN sekalipun.
Tidak bisa dimungkiri bahwa bangsa
kita memang sedang mengalami keperpurukan luar biasa akibat krisis multi
dimensi berkepanjangan. Tingginya angka kemiskinan (30,02 juta jiwa, Maret
2011), pengangguran (8,12 juta, Februrari 2011), korupsi, konflik kekerasan,
perdagangan orang (human trafficking),
berbagai tindak kriminalitas, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), hingga wabah
penyakit di berbagai pelosok daerah. Degradasi moral seperti maraknya pelecehan
seksual, pornografi (urutan ke-3 di seluruh dunia), perjudian, dan berbagai
kemaksiatan lainnya. Kondisi ini makin
diperparah dengan krisis kepemimpinan di semua tingkatan mulai dari tingkat
RT/RW hingga Istana Negara.
Bisa
diibaratkan kondisi negara ini seperti ikan yang sedang membusuk muia dari
kepala terus menjalar ke badan hingga ekor. Hal ini terlihat jelas dari
perilaku koruptif dan manipulatif yang dipertontonkan para pemimpin bangsa
(eksekutif, legislatif, judikatif). Mereka yang diberi amanat untuk mengelola
dan melayani rakyat justru sibuk memperkaya diri dengan korupsi berjamaah
(merampok uang rakyat), berpesta-pora (hidup mewah), hingga menjual kekayaan
alam dan martabat negara untuk kepentingan tertentu. Tidak heran jika saban
hari kita menyaksikan berita tentang pejabat yang tertangkap korupsi, berbuat
mesum, tawuran, menerobos jalur bus way,
pesta narkoba, hingga sibuk menonton video porno atau tidur nyenyak waktu rapat
(terutama di senayan). Ironisnya lagi perilaku ini juga menular kepada generasi
muda sehingga para vampir muda penjarah uang rakyat seperti Gayus Tambunan,
Angelina Sondakh, M. Nazaruddin, hingga Dhana Widyatmika kini tampil di depan
publik. Inilah yang sering disebut regenerasi (kaderisasi) koruptor.
Terlibat
Ketika
bangsa kita sedang diterpa keterpurukan luar biasa, ada pertanyaan besar yang
menggelisahkan yaitu dimana peran dan posisi para orang percaya (mengaku
Kristen)? Apakah mereka bertahan dalam dalam proses pembusukan bangsa atau
malah ikut terlibat di dalamnya? Menurut saya, sesungguhnya orang Kristen juga
sudah terlibat dalam proses pembusukan ini.
Jika
dikaji secara cermat, sebenarnya pembusukan (baca: kemerosotan moral) yang
terjadi sekarang ini menjadi faktor utama keterpurukan bangsa. Bagaimanapun
juga, karakter dan cara pikir bangsa menentukan apakah bangsa itu bisa maju
atau tidak. Karakter yang positif tentu akan berkontribusi positif terhadap
kemajuan bangsa begitu pula sebaliknya. Tentu bangsa ini tidak mungkin bisa
maju jika karakter manusia sangat buruk seperti perilaku koruptif, manipulatif,
suka melecehkan orang lain, malas, suka melempar tanggungjawab, dan sebagainya.
Krisis
karakter ini juga menimpa orang Kristen termasuk kader GMKI (Gerakan Mahasiswa
Kristen Indonesia) yang mengaku sebagai anak kandung Gereja. Saat ini susah
sekali menemukan orang (mengaku Kristen) yang berperilaku jujur, toleran,
menghargai orang lain, bertanggungjawab, hingga empati (peduli) terhadap
kondisi orang lain. Kebanyakan terlihat sama seperti orang yang tidak mengenal
kebenaran (Firman Tuhan), bahkan ironisnya lebih parah lagi.
Fakta
ini jelas terlihat dari banyaknya kader GMKI (senior) yang menjadi pejabat
dijebloskan ke dalam penjara karena korupsi atau terlibat kejahatan lain.
Nama-nama seperti Marim Purba, Panda Nababan, dll hanya segelintir contoh dari
sejumlah orang (katanya) senior GMKI yang dibui karena korupsi. Ironis sekali,
kader GMKI yang seharusnya menjadi pelaku kebenaran justru menjadi pelaku
kejahatan. Mereka yang dulu berteriak ‘gantung koruptor’ justru menjaid
koruptor. Mereka yang dulu rajin meneriakkan kebeneran justru mempertontonkan ketidakbenaran
di depan publik.
Garam
‘Yesus Kristus adalah Kepala
Gerakan ini’, ungkapan yang sering diteriakkan (menyemangati) para kader GMKI
di seluruh pelosok tanah air termasuk GMKI Komisariat FKM USU. Kata-kata ini
makanya sangat substansial dimana Tuhan Yesuslah yang memimpin (pusat) GMKI
dimanapun berada. Jadi setiap kader harus melaksanakan tugas (pelayanan) yang
diamanatkan dan mengikuti teladan hidup Yesus dalam perilakunya sehari-hari.
Tugas kader dalam melayani di ketiga
medan pelayanan (Geraja, kampus, dan masyarakat) diibaratkan seperti menggarami
dunia (Mat 5:13). Jadi siapapun kader GMKI seharusnya bisa menggarami
lingkungan pelayanannya. Seperti kita tahu bahwa garam akan berguna
(bermanfaat) jika asin. Kualitas garam tergantung dari kadar keasinannya.
Demikian juga kader GMKI khususnya Komisariat FKM USU.
Kader yang berkualitas tentulah kader
yang memiliki karakter positif. Dalam ajaran Kristen, kader yang mengenal,
melaksanakan, dan menyebarluaskan kebenaran (Firman Tuhan) dalam kehidupan
sehari-hari. Kader seperti inilah garam yang berkualitas baik. Karakter positif
(yang berdasarkan kebenaran) ini sering juga disebut integritas. Vernon Grounds mendefinisikan integritas
sebagai antitesis dari kemunafikan, benar dalam segala hal yang dikerjakannya,
seperti koin emas murni tanpa campuran. Ada keselarasan antara perbuatan dengan
perkataannya.
Pribadi
berintegritas tentu akan selalu berusaha menjaga kekudusan dalam hidupnya (I
Petrus 1:16). Menjaga kekudusan bukan berarti kita harus mengasingkan
(terpisah) dari kehidupan sosial (masyarakat) atau pergi bertapa ke gunung,
namun makna sebenarnya kita harus menjaga perilaku sesuai Firman Tuhan ketika
berinteraksi dalam kehidupan seharihari. Dengan kata lain kita harus hidup
benar dihadapan Tuhan dan manusia.
Pribadi
yang berintegritas ini justru semakin langka di GMKI. Seiring perkembangan
zaman, kualitas integritas para kader (katanya) GMKI dipertanyakan. Miris
sekali ketika melihat banyak kader GMKI yang terlibat berbagai ketidakbenaran
di tengah masyarakat, bangsa, dan negara. Bahkan ketika di kampus (PT), sajapun
ada begitu banyak anggota GMKI yang berperilaku jauh dari nilai-nilai kebenaran
seperti plagiat, free sex,
pengedar/pecandu narkoba, suka menyuap, hingga menjadi anjing peliharaan beberapa
lembaga yang koruptif.
Banyak
juga anggota GMKI yang suka menjauhi persekutuan/kebaktian (terutama Penelaahan
Alkitab/PA) dengan dalih klasik, hendak mencari Tuhan di tempat lain. Jika
ketika menjadi mahasiswa saja sudah seperti ini, lantas bagaimana nanti ketika
diperhadapkan di dunia alumni. Sudah tentu mereka akan menjadi generasi yang
ikut (memotori) pembusukan bangsa dengan perilaku buruk (jahat) mereka.
Saya
teringat kembali dengan pendiri GMKI, Dr. Leimena dimana beliau tertarik pada
bidang politik melalui PA. Leimena mendalamai masalah politik dibahsa dalam
Alkitab sehingga mengembangkan kesadaran komprehensif tentang makan politik
sebagai pelayanan mulia. Kesadaran politik yang didasari Firman Tuhan
(alkitabiah) membawa abang kita itu menjadi tokoh nasional yang sangat disegani
dan diteladani bangsa ini. Kualitas (kecakapan) politik Leimena justru timbul
(beranjak) dari pemahaman (perenungan) holistik terhadap Firman Tuhan.
Spritualitas beliau mendarat dalam segala aktivitas politiknya.
Seperti
Bang Leimena, sesungguhnya setiap kader GMKI juga mencari tujuan hidup dan
melaksanakan segala aktivitas dengan memahami (berdasar) secara komprehensif
Firman Tuhan. Inilah dasar segala pelayanan kita (GMKI). Dengan tetap berfokus
pada kebenaran alkitabiah maka niscaya setiap kader bisa menjaga integritas
dalam kehidupan sehari-hari. Lantas ada pertanyaan? Apakah kalau kita
berintegritas, kita akan tersingkir dari kehidupan? Kalau kita jujur, kita
tidak bisa mendapat pekerjaan atau nilai yang tinggi? Kita akan ditinggalkan
teman-teman kita, keluarga atau bahkan pacar kita?
Ini
pertanyaan yang sangat konyol dan bodoh. Ketika kita mempertanyakan hal ini,
sama saja dengan meragukan Tuhan Yesus sang pemberi mandat agar kita menjaga
kekudusan (berintegritas). Sejarah mencatat, sejak zaman dulu orang-orang besar
yang dihormati dan disegani sepanjang hidupnya bahkan hingga sekarang adalah
orang-orang yang berintegritas. Memang bisa saja kita mendapat tantangan dari
lingkungan yang busuk (bobrok) tapi itu hanya sementara (ujian), sebab yang
menjadi pemenang tentulah para pelaku-pelaku kebenaran. Bahkan beberapa pendiri
GMKI, justru telah membuktikan bahwa orang-orang berintegritas justru tercatat
menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang dihormati seperti Leimena.
Saya
sangat percaya bahwa kader berintegritaslah yang sesungguhnya akan menjadi
tokoh-tokoh besar yag membawa perubahan bangsa ini. Nama-nama mereka akan
dicatat dalam sejarah bangsa dimanapun daerah dan jenis pelayanan mereka.
Melalui tulisan ini saya mengajak kembali para kader GMKI khususnya Komisariat
FKM USU agar menjadi pribadi berintegritas dalam kehidupan sehari-hari Mari
kita sama-sama menjaga dan meningkatkan integritas hidup kita sehingga bisa
melayani secara maksimal di ketiga medan pelayanan. Segala tantangan kita
jadikan sebagai ujian bagi peningkatan kualitas keimanan kita. Memang tidak
mudah menjadi pribadi berintegritas di tengah-tengah pembusukan bangsa. Seperti
Firman Tuhan, ‘kita seperti domba yang diutus ke tengah-tengah serigala,” tetapi
ingat bahwa domba memiliki gembala. Jadi kita tidak perlu takut dan ragu, sebab
Sang Gembala akan melindungi dan memberkati kita sepanjang hidup kita berkenan
kepadaNya. Biarlah GMKI FKM USU yang telah berusia 11 tahun ini menjadi
penghasil kader-kader berintegritas yana akan memimpin transformasi bangsa.
Dengan kekuatan dari Sang Kepala Gerakan Tuha Yesus, kita semua akan bisa
mewujudkannya. Jangan sampai garam menjadi tawar. UOUS.