Our Diary.
to Share our Life Events


KETIKA GARAM MENJADI TAWAR
(Mempertanyakan Integritas Kader GMKI?)
Oleh: Suparlan Lingga
‘Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuan dan diinjak orang.’(Mat 5:13)

          Negeri dengan seribu kemerosotan. Mungkin inilah julukan yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi bangsa kita sekarang ini. Bangsa yang dulu pernah (dipuja-puji) mengalami masa keemasan di era Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit kini justru mengalami kemerosotan luar dan dipandang sebelah mata dalam percaturan dunia internasional. Berbagai stereotip negatif seperti julukan ‘indon’, negara pengekspor pembantu hingga pemalas sering diteriakkan bangsa lain. Kita memang marah dengan ejekan ini, tetapi jujur diakui kita memang tertinggal jauh dengan negara-negara lain bahkan di tingkat ASEAN sekalipun.
          Tidak bisa dimungkiri bahwa bangsa kita memang sedang mengalami keperpurukan luar biasa akibat krisis multi dimensi berkepanjangan. Tingginya angka kemiskinan (30,02 juta jiwa, Maret 2011), pengangguran (8,12 juta, Februrari 2011), korupsi, konflik kekerasan, perdagangan orang (human trafficking), berbagai tindak kriminalitas, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), hingga wabah penyakit di berbagai pelosok daerah. Degradasi moral seperti maraknya pelecehan seksual, pornografi (urutan ke-3 di seluruh dunia), perjudian, dan berbagai kemaksiatan lainnya.  Kondisi ini makin diperparah dengan krisis kepemimpinan di semua tingkatan mulai dari tingkat RT/RW hingga Istana Negara.
Bisa diibaratkan kondisi negara ini seperti ikan yang sedang membusuk muia dari kepala terus menjalar ke badan hingga ekor. Hal ini terlihat jelas dari perilaku koruptif dan manipulatif yang dipertontonkan para pemimpin bangsa (eksekutif, legislatif, judikatif). Mereka yang diberi amanat untuk mengelola dan melayani rakyat justru sibuk memperkaya diri dengan korupsi berjamaah (merampok uang rakyat), berpesta-pora (hidup mewah), hingga menjual kekayaan alam dan martabat negara untuk kepentingan tertentu. Tidak heran jika saban hari kita menyaksikan berita tentang pejabat yang tertangkap korupsi, berbuat mesum, tawuran, menerobos jalur bus way, pesta narkoba, hingga sibuk menonton video porno atau tidur nyenyak waktu rapat (terutama di senayan). Ironisnya lagi perilaku ini juga menular kepada generasi muda sehingga para vampir muda penjarah uang rakyat seperti Gayus Tambunan, Angelina Sondakh, M. Nazaruddin, hingga Dhana Widyatmika kini tampil di depan publik. Inilah yang sering disebut regenerasi (kaderisasi) koruptor.
Terlibat
Ketika bangsa kita sedang diterpa keterpurukan luar biasa, ada pertanyaan besar yang menggelisahkan yaitu dimana peran dan posisi para orang percaya (mengaku Kristen)? Apakah mereka bertahan dalam dalam proses pembusukan bangsa atau malah ikut terlibat di dalamnya? Menurut saya, sesungguhnya orang Kristen juga sudah terlibat dalam proses pembusukan ini.
Jika dikaji secara cermat, sebenarnya pembusukan (baca: kemerosotan moral) yang terjadi sekarang ini menjadi faktor utama keterpurukan bangsa. Bagaimanapun juga, karakter dan cara pikir bangsa menentukan apakah bangsa itu bisa maju atau tidak. Karakter yang positif tentu akan berkontribusi positif terhadap kemajuan bangsa begitu pula sebaliknya. Tentu bangsa ini tidak mungkin bisa maju jika karakter manusia sangat buruk seperti perilaku koruptif, manipulatif, suka melecehkan orang lain, malas, suka melempar tanggungjawab, dan sebagainya.
Krisis karakter ini juga menimpa orang Kristen termasuk kader GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) yang mengaku sebagai anak kandung Gereja. Saat ini susah sekali menemukan orang (mengaku Kristen) yang berperilaku jujur, toleran, menghargai orang lain, bertanggungjawab, hingga empati (peduli) terhadap kondisi orang lain. Kebanyakan terlihat sama seperti orang yang tidak mengenal kebenaran (Firman Tuhan), bahkan ironisnya lebih parah lagi.
Fakta ini jelas terlihat dari banyaknya kader GMKI (senior) yang menjadi pejabat dijebloskan ke dalam penjara karena korupsi atau terlibat kejahatan lain. Nama-nama seperti Marim Purba, Panda Nababan, dll hanya segelintir contoh dari sejumlah orang (katanya) senior GMKI yang dibui karena korupsi. Ironis sekali, kader GMKI yang seharusnya menjadi pelaku kebenaran justru menjadi pelaku kejahatan. Mereka yang dulu berteriak ‘gantung koruptor’ justru menjaid koruptor. Mereka yang dulu rajin meneriakkan kebeneran justru mempertontonkan ketidakbenaran di depan publik.
Garam
          ‘Yesus Kristus adalah Kepala Gerakan ini’, ungkapan yang sering diteriakkan (menyemangati) para kader GMKI di seluruh pelosok tanah air termasuk GMKI Komisariat FKM USU. Kata-kata ini makanya sangat substansial dimana Tuhan Yesuslah yang memimpin (pusat) GMKI dimanapun berada. Jadi setiap kader harus melaksanakan tugas (pelayanan) yang diamanatkan dan mengikuti teladan hidup Yesus dalam perilakunya sehari-hari.
          Tugas kader dalam melayani di ketiga medan pelayanan (Geraja, kampus, dan masyarakat) diibaratkan seperti menggarami dunia (Mat 5:13). Jadi siapapun kader GMKI seharusnya bisa menggarami lingkungan pelayanannya. Seperti kita tahu bahwa garam akan berguna (bermanfaat) jika asin. Kualitas garam tergantung dari kadar keasinannya. Demikian juga kader GMKI khususnya Komisariat FKM USU.
          Kader yang berkualitas tentulah kader yang memiliki karakter positif. Dalam ajaran Kristen, kader yang mengenal, melaksanakan, dan menyebarluaskan kebenaran (Firman Tuhan) dalam kehidupan sehari-hari. Kader seperti inilah garam yang berkualitas baik. Karakter positif (yang berdasarkan kebenaran) ini sering juga disebut integritas. Vernon Grounds mendefinisikan integritas sebagai antitesis dari kemunafikan, benar dalam segala hal yang dikerjakannya, seperti koin emas murni tanpa campuran. Ada keselarasan antara perbuatan dengan perkataannya.
Pribadi berintegritas tentu akan selalu berusaha menjaga kekudusan dalam hidupnya (I Petrus 1:16). Menjaga kekudusan bukan berarti kita harus mengasingkan (terpisah) dari kehidupan sosial (masyarakat) atau pergi bertapa ke gunung, namun makna sebenarnya kita harus menjaga perilaku sesuai Firman Tuhan ketika berinteraksi dalam kehidupan seharihari. Dengan kata lain kita harus hidup benar dihadapan Tuhan dan manusia.
Pribadi yang berintegritas ini justru semakin langka di GMKI. Seiring perkembangan zaman, kualitas integritas para kader (katanya) GMKI dipertanyakan. Miris sekali ketika melihat banyak kader GMKI yang terlibat berbagai ketidakbenaran di tengah masyarakat, bangsa, dan negara. Bahkan ketika di kampus (PT), sajapun ada begitu banyak anggota GMKI yang berperilaku jauh dari nilai-nilai kebenaran seperti plagiat, free sex, pengedar/pecandu narkoba, suka menyuap, hingga menjadi anjing peliharaan beberapa lembaga yang koruptif.
Banyak juga anggota GMKI yang suka menjauhi persekutuan/kebaktian (terutama Penelaahan Alkitab/PA) dengan dalih klasik, hendak mencari Tuhan di tempat lain. Jika ketika menjadi mahasiswa saja sudah seperti ini, lantas bagaimana nanti ketika diperhadapkan di dunia alumni. Sudah tentu mereka akan menjadi generasi yang ikut (memotori) pembusukan bangsa dengan perilaku buruk (jahat) mereka.
Saya teringat kembali dengan pendiri GMKI, Dr. Leimena dimana beliau tertarik pada bidang politik melalui PA. Leimena mendalamai masalah politik dibahsa dalam Alkitab sehingga mengembangkan kesadaran komprehensif tentang makan politik sebagai pelayanan mulia. Kesadaran politik yang didasari Firman Tuhan (alkitabiah) membawa abang kita itu menjadi tokoh nasional yang sangat disegani dan diteladani bangsa ini. Kualitas (kecakapan) politik Leimena justru timbul (beranjak) dari pemahaman (perenungan) holistik terhadap Firman Tuhan. Spritualitas beliau mendarat dalam segala aktivitas politiknya. 
Seperti Bang Leimena, sesungguhnya setiap kader GMKI juga mencari tujuan hidup dan melaksanakan segala aktivitas dengan memahami (berdasar) secara komprehensif Firman Tuhan. Inilah dasar segala pelayanan kita (GMKI). Dengan tetap berfokus pada kebenaran alkitabiah maka niscaya setiap kader bisa menjaga integritas dalam kehidupan sehari-hari. Lantas ada pertanyaan? Apakah kalau kita berintegritas, kita akan tersingkir dari kehidupan? Kalau kita jujur, kita tidak bisa mendapat pekerjaan atau nilai yang tinggi? Kita akan ditinggalkan teman-teman kita, keluarga atau bahkan pacar kita?
Ini pertanyaan yang sangat konyol dan bodoh. Ketika kita mempertanyakan hal ini, sama saja dengan meragukan Tuhan Yesus sang pemberi mandat agar kita menjaga kekudusan (berintegritas). Sejarah mencatat, sejak zaman dulu orang-orang besar yang dihormati dan disegani sepanjang hidupnya bahkan hingga sekarang adalah orang-orang yang berintegritas. Memang bisa saja kita mendapat tantangan dari lingkungan yang busuk (bobrok) tapi itu hanya sementara (ujian), sebab yang menjadi pemenang tentulah para pelaku-pelaku kebenaran. Bahkan beberapa pendiri GMKI, justru telah membuktikan bahwa orang-orang berintegritas justru tercatat menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang dihormati seperti Leimena.
Saya sangat percaya bahwa kader berintegritaslah yang sesungguhnya akan menjadi tokoh-tokoh besar yag membawa perubahan bangsa ini. Nama-nama mereka akan dicatat dalam sejarah bangsa dimanapun daerah dan jenis pelayanan mereka. Melalui tulisan ini saya mengajak kembali para kader GMKI khususnya Komisariat FKM USU agar menjadi pribadi berintegritas dalam kehidupan sehari-hari Mari kita sama-sama menjaga dan meningkatkan integritas hidup kita sehingga bisa melayani secara maksimal di ketiga medan pelayanan. Segala tantangan kita jadikan sebagai ujian bagi peningkatan kualitas keimanan kita. Memang tidak mudah menjadi pribadi berintegritas di tengah-tengah pembusukan bangsa. Seperti Firman Tuhan, ‘kita seperti domba yang diutus ke tengah-tengah serigala,” tetapi ingat bahwa domba memiliki gembala. Jadi kita tidak perlu takut dan ragu, sebab Sang Gembala akan melindungi dan memberkati kita sepanjang hidup kita berkenan kepadaNya. Biarlah GMKI FKM USU yang telah berusia 11 tahun ini menjadi penghasil kader-kader berintegritas yana akan memimpin transformasi bangsa. Dengan kekuatan dari Sang Kepala Gerakan Tuha Yesus, kita semua akan bisa mewujudkannya. Jangan sampai garam menjadi tawar. UOUS.
  •  
GMKI Komisariat FKM USU GMKI Komisariat FKM USU Author

FACEBOOK