Rabu, Mei 02, 2012
Gambaran
Pengkaderan GMKI FKM
Oleh
: Gibeon Silitonga
Proses
regenerasi memiliki peran penting dalam kelangsungan organisasi, bila proses
regenerasi tersebut terhambat maka proses berjalannya organisasi itu juga akan
terganggu. Demikian pentingnya regenerasi menjadikan bagian pengkaderan dalam
organisasi memiliki peran sentral untuk senantiasa menyediakan stok kader agar
sebuah organisasi bisa tetap hidup. Namun demikian proses pengkaderan bukanlah
suatu persoalan sederhana. Hal ini menyangkut keseluruhan pembentukan pemikiran,
kepribadian, dan perilaku yang diharapkan sebuah organisasi terhadap
anggotanya. Sehingga dibutuhkan mekanisme yang baik dalam rangka mencetak
output kader yang diharapkan.
Gerakan
Mahasiswa Kristen Indonesia adalah
terminal kader dimana organisasi ini
mempersiapkan dan menyalurkan kemampuan anggotanya dalam bidang
pelayanan di Perguruan tinggi, Gereja, dan Masyarakat. Disain pengkaderan
dibedakan dalam 3 bentuk: formal, informal dan non-formal. Bentuk formal yaitu
pelatihan-pelatihan yang dilakukan berdasarkan pola dasar sistem pendidikan kader (PDSPK),
bentuk informal umumnya adalah dengan melibatkan kader-kader kedalam
kepantiaan, dan bentuk informal adalah dengan diskusi, seminar, lokakarya baik
yang diselenggarakan GMKI maupun sebagai utusan yang diselenggarakan organisasi
atau lembaga lain.
Berbicara
tentang pengkaderan di GMKI tidak terlepas dari suatu sistem pola pengkaderan
yang sudah dirumuskan bersama yakni pola dasar sistem pendidikan kader atau yang di
kenal dengan sebutan PDSPK. PDSPK ditetapkan tetapkan di kongres yang dilakukan
sekali dalam dua tahun. Namun akhir-akhir ini kongres jarang membicarakan
tentang PDSPK sehingga kebanyakan menggunakan PDSPK tahun 2006.
Akan
tetapi sangat disayangkan, akhr-akhir ini
pengkaderan di GMKI menjadi salah satu permasalahan yang rumit.
Terseok-seok bahkan stagnan kaderisasi adalah sebuah hal yang tak langka
dihadapi GMKI. Banyak yang terpanggil,
hanya sedikit yang terpilih adalah istilah yang sering di dengar d GMKI,
banyak anggota yang diterima melalui proses maper namun ditengah perjalanan,
anggota tumbang satu persatu dan akhirnya hilang semuannya bak ditelan bumi.
Proses
Pengkaderan GMKI FKM
Disetiap awal perjalanan
kepengurusan di komisariat, pada umumnya yang menjadi permasalahan adalah bidang kadersasi yang mempengaruhi
perjalanan organisasi. Diawali dari proses masa perkenalan yang adalah program
wajib GMKI Cabang Medan untuk merekrut anggota baru yang akan menjadi
kader-kader GMKI, maka untuk merekrut anggota baru pengurus GMKI FKM biasanya
akan mengadakan kegiatan-kegiatan pendekatan kepada mahasiswa baru, dimulai
dari acara penyambutan mahasiswa baru sampai kepada sosialisasi tentang GMKI ke
kelas-kelas serta membagi-bagikan brosur . kegiatan pendekatan ini bertujuan
agar mahasiswa baru mau menjadi anggota baru.
Pada umumnya disetiap penerimanaan
anggota baru ,GMKI FKM banyak menerima
anggota baru, namun seiring berjalannya
program yang dilakukan oleh pengurus komisariat anggota-anggota baru mulai
tidak kelihatan atau jarang menghadiri program. Untuk mengaktifkan kembali
anggota anggota baru maka tidak jarang pengurus komisariat melibatkan
anggota-anggota baru dalam kepanitian atau tim kerja.
Untuk meningkatkan pendidikan kader
yang baik dari segi intelektulitas dan spritulitas di GMKI FKM, maka pengurus
komisariat mengadakan diskusi-diskusi dengan senior untuk melakukan
perubahan-perubahan di komisariat. Pada periode tahun 2004-2005 pengurus
komisariat dan senior GMKI FKM mencoba membuat konsep pendidikan kader yang
sistematis dan berjenjang di tingkatan komisariat ini dilakukan karena Badan
Pengurus Cabang di waktu itu belum memiliki konsep pendidikan kader . Pada
Periode 2005-2006 pengurus komisariat mencoba menjalankan konsep pendidikan
kader yang di rancang pada tahun 2004-2005 dengan membentuk diskusi cell group,
konsep ini di jalankan agar dapat meningkatkan daya analisa, pengetahuan, dan
wawasan anggota.
Pada tahun 2006-2007 pengurus
komisariat tetap menjalankan diskusi cell group dan juga membuat english
club yang bertujuan untuk meningkatkan
kemampuan anggota berbahasa asing khususnya bahasa inggeris. Pada periode
2007-2008 pengurus komisariat maengadakan diskusi dengan senior-senior di GMKI
FKM tentang pengkaderan. Kongres pada waktu itu telah mengeluarkan PDSPK
sebagai titik acuan untuk pengkaderan di cabang maupun di komisariat. Dari
hasil diskusi maka pengurus komisariat berhasil mengadakan Latihan Dasar
Kepemimpinan (LDK), LDK ini dilakukan berdasarkan hasil analisa kebutuhan
anggota dan PDSPK tahun 2006. Dari hasil LDK ini komisariat mengalami
perkembangan dalam bidang kader, salah perkembangan itu adalah komisariat tidak
kesulitan untuk mencari pengurus-pengurus yang meneruskan pergerakan pada waktu
itu. Oleh karena melihat ini maka mulai itu LDK diadakan rutin di komisariat
FKM untuk meningkatkan kulitas kader. Pada periode 2008-2009 pengurus komisarat
juga mengadakan LDK yang di dasarkan pada analisa kebutuhan dan PDSPK 2006,
serta aktif membuat diskusi-diskusi formal maupun non formal.
Pada periode 2009-2010 pengurus komisariat
kembali mengadakan diskusi dengan senior-senior dalam rangka peningkatan
kulitas kader, maka disepekati mengadakan Kursus Latihan Kepemimpian (KLK)
untuk pertama kalinya di komisariat GMKI FKM USU serta pengurus juga mangadakan
program cell group serta tentoran untuk meningkatkan wawasan anggota. Pada
periode 2010-2011 pengurus komisariat mengadakan LDK kembali berdasarkan
analisa kebutuhan anggota dan PDSPK 2006. Selain itu juga pengurus komisariat
mengadakan cell group untuk meningkatkan IP dari anggota serta mengadakan bedah
buku. Periode 2011-2012 pengurus komisariat berhasil merekrut anggota 31
annggota baru, setelah diskusi dengan senior-senior GMKI FKM USU, maka pengurus
akan mengadakan LDK untuk membina anggota baru.
Harapan
Proses
pengkaderan adalah hal yang memengang peranan penting dalam sebuah organisasi.
Pengkaderan harus dilakukan secara terus-menerus agar kulitas dan kuantitas
dari organisasi itu meningkat sesuai dengan tuntutan zamanSebagai
salah satu organisasi kader GMKI dituntut harus mampu memperbaiki sistem
pengkaderan yang ada agar keluarnya dapat menjadi kader yang tinggi iman,
tinggi ilmu, dan tinggi pengabdian. GMKI juga harus mampu menciptakan budaya
belajar melalui kegiatan-kegiatan diskusi dan pelatihan-pelatihan. GMKI harus
menganalisa kebutuhan-kebutuhan anggota serta.