Our Diary.
to Share our Life Events


Menggenggam Tongkat Estafet GMKI
oleh : Desima M. Hutapea

Menulis tentang perjalanan GMKI komisariat FKM USU sangat identik dengan cerita regenerasi kader yang ada di dalamnya. Sejak dibentuk pada tanggal  3 Maret 2001 hingga saat ini, berbagai warna telah ditorehkan dalam setiap lembaran perjalanannya. Persoalan demi persoalan tidak henti-hentinya menguji kekuatan karakter seorang kader GMKI. Persoalan yang dihadapi bisa saja timbul dari dalam organisasi itu sendiri, namun tidak sedikit juga yang datangnya dari eksternal organisasi. Namun eksistensi GMKI harus tetap dipertahankan, pergerakan harus tetap berlanjut demi perwujudan visi dan misi GMKI dan tongkat estafet kepemimpinan harus berpindah dari satu periode ke periode berikutnya.
Maper Sebagai Langkah Awal Perjalanan
Perjalanan organisasi seorang kader GMKI dimulai saat dia mengikuti maper (masa perkenalan) dan dinyatakan lulus oleh BPC melalui kriteria penilaian yang ditetapkan kemudian diutus atau disahkan menjadi anggota. Seyogianya, di saat yang sama anggota tersebut sudah harus memahami apa yang menjadi hak dan kewajibannya sebagai seorang anggota GMKI . Sebab maper sebagai jenjang pendidikan kader formal di GMKI telah memperkenalkan GMKI secara mendalam melalui materi-materi yang  telah diatur dalam Statuta Cabang GMKI Medan pasal 2, antara lain materi pokok : Pengenalan AD/ART dan Statuta Cabang, sejarah GMKI, penelaahan Alkitab tentang Ut Omnes Unum Sint, dasar dan tujuan GMKI, pengenalan GMKI Cabang Medan dan program-programnya, dan materi tambahan yaitu materi yang dirasa perlu oleh badan pengurus cabang. Tetapi, pelaksanaan maper saya rasa masih kurang efektif untuk menjawab semua itu. Selain karena jadwal pelaksanaannya yang berbenturan dengan jadwal kuliah dan membuat peserta terlambat mengikuti materi juga karena metode penyampaian yang kesannya membosankan. Namun, jauh lebih penting dari semua itu adalah motivasi yang ada di dalam diri peserta untuk mengikuti maper. Motivasi inilah yang akan mendorong dirinya untuk tetap berusaha memahami apa yang perlu dipahami sebagai seorang anggota baru GMKI. Jika dirunut kembali mengenai motivasi mengikuti maper tersebut akan ditemui bermacam-macam jawaban, antara lain: punya banyak kenalan, mengisi waktu luang, diajak oleh teman atau senior, penasaran dengan GMKI, tertarik dengan program-program, berlatih berbicara di depan umum, ingin belajar organisasi, ingin belajar menjadi pemimpin, dan lain-lain sesuai dengan daya tarik awal yang dilihatnya dari GMKI. Sebagian besar anggota akan mengikuti perjalanan organisasi sesuai dengan gambaran motivasi awal, tetapi hal itu tidak selamanya terjadi karena motivasi tersebut bisa saja berubah menjadi lebih baik atau sebaliknya.

Anggota GMKI Komisariat FKM USU : Aktif atau Tidak Aktif ?
Setiap tahun GMKI komisariat FKM USU berhasil merekrut anggota baru dengan kuantitas yang berbeda-beda. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh cara yang dilakukan oleh Pengurus Komisariat (PK) dalam memperkenalkan GMKI yang juga berbeda-beda setiap tahunnya diantaranya melaui pembagian leaflet, sosialisasi ke ruangan-ruangan kelas mahasiswa baru sampai dengan kegiatan yang  besar yaitu penyambutan mahasiswa baru (PMB) yang biasanya mendapat perhatian yang lebih setiap kali dilakukan, selain karena bertempat di luar kota, metodenya yang menarik,  juga kemeriahan yang terjadi dengan hadirnya wajah-wajah baru calon anggota GMKI. Perekrutan ini harus dilaksanakan karena merupakan sebuah kebutuhan, terutama untuk regenerasi di tubuh organisasi.
Sampai saat ini di ulang tahunnya yang ke sebelas, GMKI komisariat FKM USU telah beranggotakan 180 orang dengan status keanggotaan yang tentunya sudah tidak sama, ada anggota biasa dan anggota luar biasa yang lebih sering kita sebut dengan senior. Jumlah ini tidaklah tergolong banyak mengingat GMKI komisariat FKM USU bukanlah organisasi yang baru dibentuk. Tetapi kuantitas tidak selamanya menjawab kualitas. Sedikit asal berkualitas, itulah yang selalu dikumandangkan oleh sebagian kalangan anggota GMKI komisariat FKM USU.
Membahas tentang keaktifan anggota, hal ini dilihat jelas dari kerajinan anggota tersebut untuk mengikuti program-program atau kegiatan dalam komisariat, komitmen dan tanggung jawab yang ditunjukkannya saat menjadi bagian dari sebuah tim kerja atau kepanitiaan, melunasi iuran, dan hal lainnya yang menyangkut organisasi. Keaktifan anggota memang menjadi hal yang selalu digalakkan, karena hal ini sangat berhubungan dengan kemajuan organisasi. Melalui keaktifan ini jugalah akan dilihat bibit – bibit calon penerima tongkat estafet berikutnya yaitu menjadi pengurus komisariat.
          Sebaliknya, banyaknya anggota yang tidak aktif merupakan masalah internal organisasi yang selalu muncul dan menimbulkan pertanyaan, mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah hal ini memang wajar ditemui di dalam sebuah organisasi? Sebab di GMKI komisariat FKM USU hal ini juga terjadi.
Alasan ketidakhadiran anggota dalam program diantaranya adalah masuk kuliah, mengerjakan tugas-tugas kuliah, kegiatan di luar kuliah sampai pada alasan yang paling miris yaitu kemalasan dan menurunnya daya tarik GMKI di mata anggota. Padahal program dilakukan adalah untuk memenuhi kebutuhan anggota. Tidak dipungkiri memang sistem SKS yang diberlakukan oleh kampus sangat meminimalkan waktu mahasiswa untuk berorganisasi. Namun, dalam hal inilah dituntut komitmen dan kemauan seorang anggota untuk belajar dalam berorganisasi yaitu dengan belajar memanajemen waktu dan memanajemen dirinya sebaik mungkin. Berusaha menyeimbangkan antara perkuliahan dan organisasi.
GMKI Sebagai Organisasi Belajar
Pada kenyataannya, GMKI juga merupakan sebuah organisasi belajar, hal ini sangat erat kaitannya statusnya sebagai organisasi kemahasiswaan. Nancy Dixon (1994) menyatakan  “Inti organisasi belajar adalah kemampuan organisasi untuk memanfaatkan kapasitas mental dari semua anggotanya guna menciptakan sejenis proses yang akan menyempurnakan organisasi”. Hal itu jugalah yang dilakukan GMKI sebagai terminal kader dengan menghadirkan program-program yang mendukung proses belajar, misalnya tentoran mata kuliah yang membantu anggota untuk memperdalam pemahaman mengenai pelajaran yang dikuliahkan dan dianggap sulit untuk dimengerti. Dimana fasilitatornya pun adalah anggota GMKI itu sendiri, jadi sebenarnya yang mendapat pembelajaran bukan hanya peserta tentoran tetapi juga fasilitator dalam memanfaatkan program sebagai wadah melatih diri. Misalnya lagi debat kesehatan, yaitu program yang menghadirkan topik – topik kesehatan yang sedang hangat diperbincangkan dan  dianggap cocok untuk diperdebatkan, selain menambah wawasan program ini juga melatih peserta untuk berbicara di depan umum dan melatih bagaimana metode mempertahankan pendapat dengan percaya diri di tengah sebuah perdebatan. Demikianlah sebuah organisasi belajar dalam bekerja tetapi banyak anggota yang tidak menyadari hal ini sehingga membuatnya setengah hati mengikuti program, atau bahkan tidak menghadiri program sama sekali.
Menjadi anggota yang aktif atau tidak aktif merupakan sebuah pilihan. Sebagai anggota GMKI yang sudah menerima visi dan misi GMKI sebagai tujuan bersama, seharusnya bersama-sama juga lah aktif dalam menggerakkan roda organisasi menuju visi dan misi tersebut sebagai mana tertera di dalan AD / ART pasal 3 ayat 1 dan 2 , yaitu visi: terwujudnya kedamaian, kesejahteraan, keadilan, keutuhan ciptaan, dan demokrasi di Indonesia berdasarkan kasih. Misi : a) mengajak mahasiswa dan warga Perguruan Tinggi lainnya kepada pengenalan akan Yesus Kristus selaku Tuhan dan Penebus dan memperdalam iman dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari, b) membina kesadaran selaku warga gereja yang esa di tengah-tengah mahasiswa dan Perguruan Tinggi dalam kesaksian memperbaharui masyarakat, manusia dan gereja, c) mempersiapkan pemimpin dan penggerak yang ahli dan bertanggung jawab dengan menjalankan panggilan di tengah-tengah masyarakat, negara, gereja, Perguruan Tinggi, dan mahasiswa, dan menjadi sarana bagi terwujudnya kesejahteraan, perdamaian, keadilan, kebenaran, dan cinta kasih di tengah-tengah manusia dan alam semesta. Namun, hal ini kembali lagi kepada diri anggota untuk meresponnya secara pribadi. GMKI adalah wadah pelayanan, tidak ada hal yang dipaksakan di dalamnya.


Menggenggam Tongkat Estafet GMKI
Lari sambung atau lari estafet adalah salah satu lomba lari pada perlombaan atletik yang dilaksanakan secara bergantian atau beranting. Kepengurusan di dalam GMKI tidak ubahnya seperti lari sambung. Setiap tahun keperiodean berganti, orang – orang dalam kepengurusan pun bertukar ke generasi yang lebih muda.
Sebagai orang yang saat ini berada dalam kepengurusan, saya berpendapat bahwa menggenggam tongkat estafet GMKI bukanlah perkara yang mudah. Banyak suka dan duka, pujian, kritikan, sindiran yang datangnya dari berbagai pihak antara lain : dari sesama pengurus, kalangan anggota, senior, komisariat sejajaran, BPC, sesama mahasiswa FKM yang bukan anggota GMKI,organisasi lain di kampus, teman-teman sepermainan bahkan orang tua. Persoalan-persoalan semacam ini memang akan selalu hadir di hadapan seorang pengurus, selain karena GMKI masih dipandang buruk, GMKI juga masih kurang bisa membela diri melalui buah yang bisa ditunjukkannya dalam pelayanan di tiga medan pelayanan, gereja, perguruan tinggi dan masyarakat. Lebih ironisnya lagi, pengurus komisariatlah yang dianggap lebih bertanggung jawab akan hal ini dan kadang-kadang terkesan sebagai orang yang dipersalahkan. Namun, di satu sisi hal ini benar walaupun GMKI bukanlah tanggung jawab pengurus saja tetapi semua civitas yang tergabung di dalamnya. Sebab bagaimanapun juga gambaran tentang baik buruknya citra sebuah organisasi tercermin dari orang-orang yang ada di dalamnya terutama orang yang bertanggung jawab untuk mengurusi organisasi.
Tantangan yang lain timbul dari diri sendiri, bagaimana menghadapi berbagai tuntutan yang diperhadapkan kepada kita, melawan ego, menunda kesenangan demi melaksanakan tugas, mengatur waktu, memanajemen emosi, menyeimbangkan kuliah dengan organisasi dan perjuangan untuk memerangi kemalasan. Menjadi pengurus komisariat tidak boleh malas, sebab menurut saya GMKI selalu mendorong kita untuk terus bergerak, banyak hal yang bisa dikerjakan. Di saat kita terlelap dalam kemalasan maka roda itu juga akan bergerak lambat bahkan bisa saja berhenti. Untuk itulah diperlukan energi yang besar untuk membawa dan menggenggam tongkat estafet tersebut.
Tidak ubahnya seperti anggota yang aktif dan tidak aktif, menjadi pengurus komisariat juga memiliki godaan untuk menjadi pengurus yang tidak aktif. Hal ini kembali diakibatkan oleh motivasi awal menjadi pengurus, tetapi hal ini bukanlah satu-satunya faktor, sebab pengaruh terbesar lain datang dari lingkungannya sebagai sebuah tim di dalam kepengurusan, bagaimana untuk saling berbagi energi di saat salah seorang anggota tim melemah.
Bukan hanya anggota yang perlu mengerti tentang hak dan kewajiban, sebagai pengurus komisariat dituntut untuk lebih mengenali perannya sebagai pemegang jabatan dalam kepengurusan. Sebab dalam melaksanakan program-program yang telah dirancang dan diplenokan banyak hal yang akan berbenturan dengan tugas dan tanggung jawab sebagai pengurus dan menguji kualitas kader pengurus tersebut. Oleh karena itu, pemahaman peran baik sebagai ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, wakil sekretaris bidang organisasi dan komunikasi, wakil sekretaris bidang pendidikan kader dan kerohanian, wakil sekretaris bidang aksi dan pelayanan, biro bidang organisasi dan komunikasi, biro bidang pendidikan kader dan kerohanian, biro bidang aksi dan pelayanan harus benar – benar diperdalam sebelum melangkah lebih jauh.
Keputusan untuk melayani sebagai pengurus merupakan sebuah kerelaan yang dibarengi dengan komitmen untuk berkorban. Sama halnya dengan lari sambung estafet, bukan teknik saja yang diperlukan tetapi pemberian dan kemahiran dalam menerima tongkat dengan cepat di zona atau daerah pergantian serta penyesuaian jarak dan kecepatan dari setiap pelari. Di saat anda memiliki bakat, keinginan ataupun panggilan untuk menjadi penggenggam tongkat estafet berikutnya berdoalah meminta hikmat dari Yesus Sang Kepala Gerakan yang akan memampukanmu dalam menggulirkan roda pergerakan ini ke arah yang lebih baik.Selalu ada harapan di generasi baru, hendaknya kita memberi diri untuk lebih belajar lagi dan menikmati proses pengkaderan yang ada di dalam GMKI dan kegiatan yang terangkum dalam Panca Kegiatan GMKI, yaitu : berdoa, belajar, bersaksi, bersosial dan berkreasi. Akhirnya, tinggilah iman kita, tinggilah ilmu kita, tinggilah pengabdian kita. Ut Omnes Unum Sint. Syalom.
  •  
GMKI Komisariat FKM USU GMKI Komisariat FKM USU Author

FACEBOOK