Rabu, Mei 02, 2012
Menggenggam Tongkat Estafet GMKI
oleh : Desima M. Hutapea
Menulis tentang perjalanan GMKI komisariat FKM USU sangat identik
dengan cerita regenerasi kader yang ada di dalamnya. Sejak dibentuk pada
tanggal 3 Maret 2001 hingga saat ini,
berbagai warna telah ditorehkan dalam setiap lembaran perjalanannya. Persoalan
demi persoalan tidak henti-hentinya menguji kekuatan karakter seorang kader
GMKI. Persoalan yang dihadapi bisa saja timbul dari dalam organisasi itu
sendiri, namun tidak sedikit juga yang datangnya dari eksternal organisasi.
Namun eksistensi GMKI harus tetap dipertahankan, pergerakan harus tetap
berlanjut demi perwujudan visi dan misi GMKI dan tongkat estafet kepemimpinan
harus berpindah dari satu periode ke periode berikutnya.
Maper Sebagai Langkah Awal Perjalanan
Perjalanan organisasi seorang kader GMKI dimulai saat dia
mengikuti maper (masa perkenalan) dan dinyatakan lulus oleh BPC melalui
kriteria penilaian yang ditetapkan kemudian diutus atau disahkan menjadi
anggota. Seyogianya, di saat yang sama anggota tersebut sudah harus memahami
apa yang menjadi hak dan kewajibannya sebagai seorang anggota GMKI . Sebab
maper sebagai jenjang pendidikan kader formal di GMKI telah memperkenalkan GMKI
secara mendalam melalui materi-materi yang
telah diatur dalam Statuta Cabang GMKI Medan pasal 2, antara lain materi
pokok : Pengenalan AD/ART dan Statuta Cabang, sejarah GMKI, penelaahan Alkitab
tentang Ut Omnes Unum Sint, dasar dan tujuan GMKI, pengenalan GMKI Cabang Medan
dan program-programnya, dan materi tambahan yaitu materi yang dirasa perlu oleh
badan pengurus cabang. Tetapi, pelaksanaan maper saya rasa masih kurang efektif
untuk menjawab semua itu. Selain karena jadwal pelaksanaannya yang berbenturan
dengan jadwal kuliah dan membuat peserta terlambat mengikuti materi juga karena
metode penyampaian yang kesannya membosankan. Namun, jauh lebih penting dari
semua itu adalah motivasi yang ada di dalam diri peserta untuk mengikuti maper.
Motivasi inilah yang akan mendorong dirinya untuk tetap berusaha memahami apa
yang perlu dipahami sebagai seorang anggota baru GMKI. Jika dirunut kembali
mengenai motivasi mengikuti maper tersebut akan ditemui bermacam-macam jawaban,
antara lain: punya banyak kenalan, mengisi waktu luang, diajak oleh teman atau
senior, penasaran dengan GMKI, tertarik dengan program-program, berlatih
berbicara di depan umum, ingin belajar organisasi, ingin belajar menjadi
pemimpin, dan lain-lain sesuai dengan daya tarik awal yang dilihatnya dari
GMKI. Sebagian besar anggota akan mengikuti perjalanan organisasi sesuai dengan
gambaran motivasi awal, tetapi hal itu tidak selamanya terjadi karena motivasi
tersebut bisa saja berubah menjadi lebih baik atau sebaliknya.
Anggota GMKI Komisariat FKM USU : Aktif atau Tidak Aktif ?
Setiap tahun GMKI komisariat FKM USU berhasil merekrut anggota
baru dengan kuantitas yang berbeda-beda. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh
cara yang dilakukan oleh Pengurus Komisariat (PK) dalam memperkenalkan GMKI
yang juga berbeda-beda setiap tahunnya diantaranya melaui pembagian leaflet,
sosialisasi ke ruangan-ruangan kelas mahasiswa baru sampai dengan kegiatan
yang besar yaitu penyambutan mahasiswa
baru (PMB) yang biasanya mendapat perhatian yang lebih setiap kali dilakukan,
selain karena bertempat di luar kota, metodenya yang menarik, juga kemeriahan yang terjadi dengan hadirnya
wajah-wajah baru calon anggota GMKI. Perekrutan ini harus dilaksanakan karena
merupakan sebuah kebutuhan, terutama untuk regenerasi di tubuh organisasi.
Sampai saat ini di ulang tahunnya yang ke sebelas, GMKI komisariat
FKM USU telah beranggotakan 180 orang dengan status keanggotaan yang tentunya
sudah tidak sama, ada anggota biasa dan anggota luar biasa yang lebih sering
kita sebut dengan senior. Jumlah ini tidaklah tergolong banyak mengingat GMKI
komisariat FKM USU bukanlah organisasi yang baru dibentuk. Tetapi kuantitas
tidak selamanya menjawab kualitas. Sedikit asal berkualitas, itulah yang selalu
dikumandangkan oleh sebagian kalangan anggota GMKI komisariat FKM USU.
Membahas tentang keaktifan anggota, hal ini dilihat jelas dari
kerajinan anggota tersebut untuk mengikuti program-program atau kegiatan dalam
komisariat, komitmen dan tanggung jawab yang ditunjukkannya saat menjadi bagian
dari sebuah tim kerja atau kepanitiaan, melunasi iuran, dan hal lainnya yang menyangkut
organisasi. Keaktifan anggota memang menjadi hal yang selalu digalakkan, karena
hal ini sangat berhubungan dengan kemajuan organisasi. Melalui keaktifan ini
jugalah akan dilihat bibit – bibit calon penerima tongkat estafet berikutnya
yaitu menjadi pengurus komisariat.
Sebaliknya, banyaknya anggota yang
tidak aktif merupakan masalah internal organisasi yang selalu muncul dan
menimbulkan pertanyaan, mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah hal ini memang
wajar ditemui di dalam sebuah organisasi? Sebab di GMKI komisariat FKM USU hal
ini juga terjadi.
Alasan ketidakhadiran anggota dalam program diantaranya adalah
masuk kuliah, mengerjakan tugas-tugas kuliah, kegiatan di luar kuliah sampai
pada alasan yang paling miris yaitu kemalasan dan menurunnya daya tarik GMKI di
mata anggota. Padahal program dilakukan adalah untuk memenuhi kebutuhan
anggota. Tidak dipungkiri memang sistem SKS yang diberlakukan oleh kampus
sangat meminimalkan waktu mahasiswa untuk berorganisasi. Namun, dalam hal
inilah dituntut komitmen dan kemauan seorang anggota untuk belajar dalam
berorganisasi yaitu dengan belajar memanajemen waktu dan memanajemen dirinya
sebaik mungkin. Berusaha menyeimbangkan antara perkuliahan dan organisasi.
GMKI Sebagai Organisasi Belajar
Pada kenyataannya, GMKI juga merupakan sebuah organisasi belajar,
hal ini sangat erat kaitannya statusnya sebagai organisasi kemahasiswaan. Nancy Dixon (1994)
menyatakan “Inti organisasi belajar
adalah kemampuan organisasi untuk memanfaatkan kapasitas mental dari semua
anggotanya guna menciptakan sejenis proses yang akan menyempurnakan
organisasi”. Hal itu jugalah yang dilakukan GMKI sebagai terminal kader dengan
menghadirkan program-program yang mendukung proses belajar, misalnya tentoran
mata kuliah yang membantu anggota untuk memperdalam pemahaman mengenai
pelajaran yang dikuliahkan dan dianggap sulit untuk dimengerti. Dimana
fasilitatornya pun adalah anggota GMKI itu sendiri, jadi sebenarnya yang
mendapat pembelajaran bukan hanya peserta tentoran tetapi juga fasilitator dalam
memanfaatkan program sebagai wadah melatih diri. Misalnya lagi debat kesehatan,
yaitu program yang menghadirkan topik – topik kesehatan yang sedang hangat
diperbincangkan dan dianggap cocok untuk
diperdebatkan, selain menambah wawasan program ini juga melatih peserta untuk
berbicara di depan umum dan melatih bagaimana metode mempertahankan pendapat
dengan percaya diri di tengah sebuah perdebatan. Demikianlah sebuah organisasi
belajar dalam bekerja tetapi banyak anggota yang tidak menyadari hal ini sehingga
membuatnya setengah hati mengikuti program, atau bahkan tidak menghadiri
program sama sekali.
Menjadi
anggota yang aktif atau tidak aktif merupakan sebuah pilihan. Sebagai anggota GMKI yang sudah
menerima visi dan misi GMKI sebagai tujuan bersama, seharusnya bersama-sama
juga lah aktif dalam menggerakkan roda organisasi menuju visi dan misi tersebut
sebagai mana tertera di dalan AD / ART pasal 3 ayat 1 dan 2 , yaitu visi: terwujudnya kedamaian, kesejahteraan, keadilan, keutuhan
ciptaan, dan demokrasi di Indonesia berdasarkan kasih. Misi : a)
mengajak mahasiswa dan warga Perguruan Tinggi lainnya kepada pengenalan akan
Yesus Kristus selaku Tuhan dan Penebus dan memperdalam iman dalam kehidupan dan
pekerjaan sehari-hari, b) membina kesadaran selaku warga gereja yang esa di
tengah-tengah mahasiswa dan Perguruan Tinggi dalam kesaksian memperbaharui
masyarakat, manusia dan gereja, c) mempersiapkan pemimpin dan penggerak yang
ahli dan bertanggung jawab dengan menjalankan panggilan di tengah-tengah
masyarakat, negara, gereja, Perguruan Tinggi, dan mahasiswa, dan menjadi sarana
bagi terwujudnya kesejahteraan, perdamaian, keadilan, kebenaran, dan cinta
kasih di tengah-tengah manusia dan alam semesta. Namun, hal ini kembali lagi
kepada diri anggota untuk meresponnya secara pribadi. GMKI adalah wadah
pelayanan, tidak ada hal yang dipaksakan di dalamnya.
Menggenggam
Tongkat Estafet GMKI
Lari sambung atau lari estafet adalah salah satu lomba
lari pada perlombaan atletik yang
dilaksanakan secara bergantian atau beranting. Kepengurusan di dalam GMKI tidak
ubahnya seperti lari sambung. Setiap tahun keperiodean berganti, orang – orang
dalam kepengurusan pun bertukar ke generasi yang lebih muda.
Sebagai orang yang saat ini berada dalam kepengurusan, saya
berpendapat bahwa menggenggam tongkat estafet GMKI bukanlah perkara yang mudah.
Banyak suka dan duka, pujian, kritikan, sindiran yang datangnya dari berbagai
pihak antara lain : dari sesama pengurus, kalangan anggota, senior, komisariat
sejajaran, BPC, sesama mahasiswa FKM yang bukan anggota GMKI,organisasi lain di
kampus, teman-teman sepermainan bahkan orang tua. Persoalan-persoalan semacam
ini memang akan selalu hadir di hadapan seorang pengurus, selain karena GMKI
masih dipandang buruk, GMKI juga masih kurang bisa membela diri melalui buah
yang bisa ditunjukkannya dalam pelayanan di tiga medan pelayanan, gereja,
perguruan tinggi dan masyarakat. Lebih ironisnya lagi, pengurus komisariatlah
yang dianggap lebih bertanggung jawab akan hal ini dan kadang-kadang terkesan
sebagai orang yang dipersalahkan. Namun, di satu sisi hal ini benar walaupun
GMKI bukanlah tanggung jawab pengurus saja tetapi semua civitas yang tergabung
di dalamnya. Sebab bagaimanapun juga gambaran tentang baik buruknya citra
sebuah organisasi tercermin dari orang-orang yang ada di dalamnya terutama
orang yang bertanggung jawab untuk mengurusi organisasi.
Tantangan yang lain timbul dari diri sendiri, bagaimana menghadapi
berbagai tuntutan yang diperhadapkan kepada kita, melawan ego, menunda
kesenangan demi melaksanakan tugas, mengatur waktu, memanajemen emosi,
menyeimbangkan kuliah dengan organisasi dan perjuangan untuk memerangi
kemalasan. Menjadi pengurus komisariat tidak boleh malas, sebab menurut saya
GMKI selalu mendorong kita untuk terus bergerak, banyak hal yang bisa
dikerjakan. Di saat kita terlelap dalam kemalasan maka roda itu juga akan
bergerak lambat bahkan bisa saja berhenti. Untuk itulah diperlukan energi yang
besar untuk membawa dan menggenggam tongkat estafet tersebut.
Tidak ubahnya seperti anggota yang aktif dan tidak aktif, menjadi
pengurus komisariat juga memiliki godaan untuk menjadi pengurus yang tidak
aktif. Hal ini kembali diakibatkan oleh motivasi awal menjadi pengurus, tetapi hal
ini bukanlah satu-satunya faktor, sebab pengaruh terbesar lain datang dari
lingkungannya sebagai sebuah tim di dalam kepengurusan, bagaimana untuk saling
berbagi energi di saat salah seorang anggota tim melemah.
Bukan hanya anggota yang perlu mengerti tentang hak dan kewajiban,
sebagai pengurus komisariat dituntut untuk lebih mengenali perannya sebagai
pemegang jabatan dalam kepengurusan. Sebab dalam melaksanakan program-program
yang telah dirancang dan diplenokan banyak hal yang akan berbenturan dengan
tugas dan tanggung jawab sebagai pengurus dan menguji kualitas kader pengurus
tersebut. Oleh karena itu, pemahaman peran baik sebagai ketua, wakil ketua,
sekretaris, bendahara, wakil sekretaris bidang organisasi dan komunikasi, wakil
sekretaris bidang pendidikan kader dan kerohanian, wakil sekretaris bidang aksi
dan pelayanan, biro bidang organisasi dan komunikasi, biro bidang pendidikan
kader dan kerohanian, biro bidang aksi dan pelayanan harus benar – benar
diperdalam sebelum melangkah lebih jauh.
Keputusan untuk melayani sebagai pengurus merupakan sebuah
kerelaan yang dibarengi dengan komitmen untuk berkorban. Sama halnya dengan
lari sambung estafet, bukan teknik saja yang diperlukan tetapi pemberian dan
kemahiran dalam menerima tongkat dengan cepat di zona atau daerah pergantian
serta penyesuaian jarak dan kecepatan dari setiap pelari. Di saat anda memiliki
bakat, keinginan ataupun panggilan untuk menjadi penggenggam tongkat estafet
berikutnya berdoalah meminta hikmat dari Yesus Sang Kepala Gerakan yang akan
memampukanmu dalam menggulirkan roda pergerakan ini ke arah yang lebih
baik.Selalu ada harapan di generasi baru, hendaknya kita memberi diri untuk
lebih belajar lagi dan menikmati proses pengkaderan yang ada di dalam GMKI dan
kegiatan yang terangkum dalam Panca Kegiatan GMKI, yaitu : berdoa, belajar,
bersaksi, bersosial dan berkreasi. Akhirnya, tinggilah iman kita, tinggilah
ilmu kita, tinggilah pengabdian kita. Ut Omnes Unum Sint. Syalom.