Our Diary.
to Share our Life Events

GMKI FKM USU, Sudahkah Kau Berjuang?


GMKI FKM USU, Sudahkah Kau Berjuang?
Oleh: Lestari Simanjuntak

Mahasiswa merupakan generasi yang dicetak untuk tujuan mengembangkan profesi yang ia tekuni di dunia kampus.  Merekalah yang kelak memajukan Indonesia sesuai dengan bidang mereka masing-masing. Untuk itulah, hendaknya mahasiswa mulai dari sekarang bisa mengembangkan potensi-potensi yang mereka miliki, hal itu bisa dilakukan dengan melakukan riset, aktif berorganisasi, berprestasi di kampus bahkan dunia. Mahasiswa merupakan bagian dari pemuda, dimana pemuda merupakan generasi penyokong bangsa. Pemuda juga merupakan generasi pengganti generasi tua yang sudah ada dan kini berperan aktif dalam pembangunan bangsa. Oleh karena itu keberadaan pemuda sangatlah diharapkan perannya di Negara Indonesia ini.

MEMAKNAI PERAN DAN FUNGSI MAHASISWA
Kita tentu ingat peran mahasiswa pada umumnya yaitu sebagai Iron Stock,Social Control,Agent of Change,dan Moral Force. Sebagai Iron Stock,mahasiswa adalah ibarat aset bagi suatu bangsa. Ibarat cadangan logam (Iron Stock) di suatu negara yang bisa menjadi tolak ukur kemakmuran suatu negara, demikianlah jumlah mahasiswa yang unggul baik secara wawasan, moral, karakter, dan skill di suatu negara dapat menjadi tolak ukur kemajuan SDM suatu Negara. Ini berarti mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa dan harapan bangsa; karena nantinya mahasiswalah yang harus menggantikan generasi -generasi sebelumnya untuk menduduki posisi-posisi strategis dalam kepemimpinan bangsa.
Sebagai pengusung Moral Force mahasiswa harus mampu bersikap dan bertindak lebih baik dari yang lainnya karena mereka adalah sebagai kaum intelektual, dimana mereka mengatakan yang benar itu adalah benar dengan penuh kejujuran, keberanian, dan rendah hati. Mahasiswa juga dituntut untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya dan terbuka kepada siapa saja. Hal itu semata-mata karena mereka adalah kader-kader calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang, yang memegang kendali negara di masa depan.
Oleh karena itu mereka berhak untuk melakukan kontrol sosial. Sebagai kontrol sosial (Social Control), mahasiswa dapat melakukan peran preventif dengan membantu masyarakat dalam mewujudkan ketentuan dan peraturan yang adil dan berpihak pada rakyat banyak, sekaligus mengkritisi peraturan yang tidak adil dan tidak berpihak pada masyarakat. Kontrol terhadap kebijakan pemerintah tersebut perlu dilakukan karena banyak sekali peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang hanya berpihak pada golongan tertentu saja dan tidak berpihak pada kepentingan masyarakat banyak. Sikap kritis itu merupakan wujud kepedulian mereka terhadap bangsa dan negaranya yang dilakukan dengan ikhlas dan dari hati nurani mereka, bukan atas keterpaksaan maupun intimidasi dari pihak luar. Segala sesuatu yang mereka perjuangkan adalah sesuatu yang mereka yakini adalah baik untuk kehidupan mereka di masa sekarang dan di masa yang akan datang.
Dan akhirnya sebagai Agent of Change, mahasiswa dituntut sebagai agen yang membawa perubahan pada suatu bangsa Mahasiswa selalu menjadi bagian dari perjalanan sebuah bangsa. Mahasiswa merupakan suatu elemen masyarakat yang unik. Jumlahnya tidak banyak, namun sejarah menunjukkan bahwa dinamika bangsa ini tidak lepas dari peran mahasiswa. Roda sejarah demokrasi selalu menyertakan mahasiswa sebagai pelopor, penggerak, bahkan sebagai pengambil keputusan. Hal tersebut telah terjadi di berbagai negara di dunia, baik di Timur maupun di Barat. Pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif selalu lahir dari pola pikir para mahasiswa. Walaupun zaman terus bergerak dan berubah, namun tetap ada yang tidak berubah dari mahasiswa, yaitu semangat dan idealisme. Semangat-semangat yang berkobar terpatri dalam diri mahasiswa, semangat yang mendasari perbuatan untuk melakukan perubahan-perubahan atas keadaan yang dianggapnya tidak adil. Intuisi dan hati kecilnya akan selalu menyerukan idealisme. Mahasiswa tahu  ia harus berbuat sesuatu untuk masyarakat, bangsa, dan negaranya. Suara-suara mahasiswa kerap kali merepresentasikan dan mengangkat realita sosial yang terjadi di masyarakat. Sikap idealisme mendorong mahasiswa untuk memperjuangkan sebuah aspirasi pada penguasa, dengan cara mereka sendiri.Tidak dapat dipungkiri bila generasi muda khususnya para mahasiswa, selalu dihadapkan pada permasalahan global. Setiap ada perubahan, mahasiswa selalu tampil sebagai kekuatan pelopor, kekuatan moral dan kekuatan pendobrak untuk melahirkan perubahan.


REALITA MAHASISWA INDONESIA SAAT INI
Namun apa yang terjadi, kebanyakan mahasiswa bangsa kita lebih senang berhura-hura, malas  berpikir dan berdiskusi, tidak serius belajar serta terlanjur terjerumus dalam modernisasi yang membuat mereka menjadi kaum oportunis. Secara tak sadar, para generasi muda dihinggapi dengan pandangan dan perilaku umum yang mendidik mereka menjadi bermental instan dan bermental bos. Pemuda menjadi malas bekerja dan malas mengatasi kesulitan. Hambatan dan proses pembelajaran tidak diutamakan sehingga etos kerja jadi lemah.
Mereka adalah manusia yang dididik agar menjadi intelektual yang kontributif, mampu mamahami permasalahan di sekitarnya, kemudian menganalisis serta menerapkan solusi masalah tersebut dalam bentuk nyata. Tapi apa daya, definisi tak selaras dengan implementasi. Mereka belum mampu membuat harapan bangsa ini menjadi kenyataan yang lebih baik dari sebelumnya. Kebanyakan mereka tidak memaknai peran yang diemban, posisi di mana mereka berada, serta fungsinya di mata masyarakat. Hanya lebih menonjolkan individualisme yang demikian melambung.
Terkadang mahasiswa Indonesia saat ini  sudah tidak punya hasrat untuk menguasai ilmu yang dipelajarinya, entah karena alasan apa, dan diperburuk dengan mental cepat lulus dengan IPK setinggi-tingginya, mahasiswa ini lalu menggunakan berbagai teknik kreatif untuk menyontek waktu ujian atau mengerjakan tugas. Meski isi kepalanya kosong, mahasiswa yang menyontek itu tetap tertawa-tawa bangga waktu nilai ujiannya A atau justru marah ketika dapat nilai jelek.Tindakan pembohongan ini juga terjadi tidak hanya waktu ujian. Mengapa sering kali tanda tangan di absensi mahasiswa lebih banyak daripada yang hadir di kelas? Berani titip absen tanpa perasaan bersalah atau gelisah sudah umum bagi mahasiswa Indonesia.

MAHASISWA KRISTEN, JATI DIRI YANG RUSAK
Bagaimana dengan mahasiswa Kristen sendiri? Keadaannya juga tidak jauh beda dengan mahasiswa pada umumnya Mahasiswa Kristen pun banyak melakukan tindakan seperti yang disebutkan di atas. Mahasiswa Kristen juga banyak yang melakukan kejahatan. Bahkan peran mahasiswa Kristen sebagai garam dan terang dunia,untuk menerangi dunia yang rusak ini juga tidak terlihat. Malah terkadang mahasiswa Kristen sendiri melakukan hal yang lebih parah. Sungguh memprihatinkan kondisi mahasiswa Kristen saat ini yang telah kebanyakan mengalami krisis identitas sebagai seorang mahasiswa Kristen.
Seperti halnya terkadang mahasiswa Kristen juga terpengaruh sikap yang tidak terpuji, seperti hedonisme, apatisme, dan eksklusivisme. Berapa banyak kita lihat di kampus mahasiswa Kristen yang hanya mau bergaul dengan sesama Kristen, bahkan terkadang hanya ada yang mau bergaul dengan teman gerejanya saja. Nampaknya Pemuda dan mahasiswa Kristen di Indonesia perlu mengubah pandangannya mengenai kemajemukan berbangsa dan bernegara guna menghilangkan sikap eksklusivisme di tengah kehidupan masyarakat.

BAGAIMANA SEHARUSNYA PERAN MAHASISWA KRISTEN?
Jika kita lihat lagi, akar semua permasalahan yang ada pada bangsa ini disebabkan karena permasalahan karakter. Karena itu, karakter mahasiswa Kristen sejati sangat diperlukan. Adalah hal yang mustahil memisahkan antara kepemimpinan Kristen dengan karakternya, antara kepemimpinan Kristen dengan kehidupan spiritualitasnya. Ini adalah yang paling penting bila hendak membangun mahasiswa Kristen yang berhikmat dan berdedikasi tinggi bagi bangsa, seperti Daniel,Sadrakh,Mesakh dan Abednego pada zamannya. Bangsa ini perlu ditolong terutama dalam membangun karakternya, dan kita semua harus berperan di dalamnya.
Seorang mahasiswa Kristen seharusnya memiliki jati diri ganda: warga dunia sekaligus warga surga. Dua jati diri itu tidak dikotomis, melainkan saling mengisi. Dalam perspektif iman Kristen yang holistik, mencintai Tuhan menjadi nyata dalam mencintai sesama dan dalam tingkat berbangsa adalah mencintai negeri. Pertanyaannya, bagaimana seorang Mahasiswa Kristen mewujudkan cinta akan negeri? Pertama, sudah sewajarnya mahasiswa Kristen menjadi bagian dari barisan penegak  demokrasi dalam masyarakat yang majemuk bersama dengan komunitas umat lain yang juga memperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan pluralisme. Kedua, berangkat dari keyakinan bahwa imannya adalah hidup, mahasiswa Kristen ditantang untuk mewujudnyatakan iman itu dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.  Jadi pada dasarnya, iman Kristen diharapkan menjembatani kesenjangan antara agama dan masyarakat. Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh mahasiswa Kristen agar dapat menjadi garam dan terang di dunia kampus maupun di dalam kehidupan sehari-harinya:

1.   Menjadi Murid Kristus
Matius 16:24 menjelaskan 3 langkah untuk menjadi murid Kristus kepada kita, yaitu: “menyangkal diri”, “memikul salib” dan “mengikut Kristus”.
a.    Menyangkal Diri
Menyangkal diri bukan berarti menghilangkan eksistensi dan makna diri dalam hidupnya. Menyangkal diri adalah tidak menempatkan diri sebagai pusat hidupnya, tapi menempatkan Kristus sebagai pusat dan tujuan hidupnya. Orang yang menyangkal diri memahami hidup sebagai kasih karunia Kristus yang patut disyukuri dan dijalani dengan penuh tanggung jawab di hadapan-Nya. Apabila kita senantiasa belajar menyangkal diri, kita akan dapat menjadi murid Kristus yang menempatkan kehendak Kristus sebagai dasar dan pedoman setiap rencana dan langkah hidup kita. Orang yang dapat menyangkal diri juga tidak menganggap diri dan kepentingannya sebagai yang utama, tetapi ia dapat bersikap rendah hati dan memperhatikan kepentingan orang lain. Dengan demikian sebagai murid Kristus, kita tidak hanya menempatkan Kristus sebagai pusat dan tujuan hidupnya, tapi juga senantiasa rendah hati dan peduli pada kepentingan orang lain. Inilah eksistensi dan makna hidup seorang murid Kristus di tengah kehidupan ini.
b.    Memikul Salib
Langkah berikutnya menjadi murid Kristus adalah bersedia memikul salib. Memikul salib artinya merangkul kehendak Allah meskipun kehendak-Nya berbeda total dengan apa yang kita inginkan. Maksudnya memilih hal yang baik meskipun berupa obat yang pahit dan rela menerima kesusahan ataupun pencobaan dan kesakitan apapun dalam jalur jalan kita menuju kehidupan yang kekal. Salib itu adalah sesuatu yang bukan hanya membawa ketidaksenangan, tapi juga berupa beban atau kesakitan. Menerima salib bukan hanya menolak sesuatu yang menyenangkan, tapi juga mengijinkan sesuatu yang tidak menyenangkan masuk dalam kehidupan kita.  Setiap orang pada dasarnya memiliki salibnya masing-masing, yang harus dipikul dengan sabar dan taat kepada Kristus. Dalam memikul salib sebenarnya kita tidak perlu menggembar-gemborkan kesulitan yang kita alami, tetapi justru kita perlu belajar tetap bersukacita dalam Kristus (1 Petrus 4:12-14).
c.    Mengikut Kristus
Mengikut Kristus artinya setia mengikuti Kristus dan taat melaksanakan segala firman-Nya. Ketika Yesus mengajak murid-murid yang pertama (Simon Petrus, Andreas, Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes) untuk menjadi murid Kristus, mereka meninggalkan jala, perahu, dan ayah mereka, dan mengikut Yesus (Matius 4:18-22). Dari peristiwa ini kita belajar komitmen mengikuti panggilan Kristus, dan taat melaksanakan segala firman-Nya dalam hidup kita.
Mengikut Kristus adalah mengutamakan Kristus di atas segalanya, bukan menempatkan Kristus di bawah kepentingan yang lain. Bila kita mau mengikut Kristus, kita perlu taat melaksanakan ajaran Kristus dan mempersaksikan kebenaran Kristus kepada sesama melalui setiap perkataan, sikap, dan perbuatan kita sehari-hari. Hal utama yang perlu kita laksanakan sebagai murid Kristus adalah meneladani gaya hidup Kristus untuk hidup saling mengasihi dengan sesama (Yoh. 13:34-35). Dengan kita hidup saling mengasihi, kita turut mewujudnyatakan misi Kristus dalam menghadirkan kasih dan damai sejahtera bagi dunia.
Menjadi murid Kristus bukan suatu prestasi untuk menunjukkan kehebatan dan kemampuan kita melaksanakan semua ajaran Kristen/gereja. Menjadi murid Kristus adalah suatu pembelajaran kita dapat terus mengenal Kristus, memberi diri dituntun oleh Roh Kudus, serta taat melaksanakan setiap ajaran-Nya. Matius 16:24 (menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus) menjelaskan secara sederhana bagaimana kita dapat terus diproses dan diperlengkapi menjadi murid Kristus. Bila kita senantiasa berusaha menjadi murid Kristus, maka sebenarnya kita turut mewujudkan kehendak Allah agar kita hidup serupa dengan Kristus (Roma 8:29).

2.   Menyeimbangkan Kuliah dengan Organisasi
Selain itu, sebagai mahasiswa Kristen, kita juga harus dapat berperan aktif dalam pelayanan mahasiswa,karena pelayanan mahasiswa adalah pelayanan yang membentuk karakter pribadi tiap mahasiswa, sehingga mampu menciptakan kader-kader handal yang dikemudian hari mampu untuk berkarya dan berbakti dengan integritas yang baik di dalam sistem-sistem birokrasi yang ada.
          Namun saat ini, ketertarikan mahasiswa untuk mengikuti suatu organisasi telah berkurang, hal ini tentunya disebabkan karena bayaknya aktivitas yang ditawarkan oleh lingkungan sekitar dari mahasiswa tersebut, yang kadangkala tanpa disadari telah merugikan mahasiswa tersebut. Setiap hari kita mungkin pernah melihat seperti tempat-tempat perbelanjaan, bar, tempat game online, salon, dan tempat rekreasi semuanya telah dipenuhi oleh pengunjung yang kebanyakan pengunjungnya adalah mahasiswa. Jangankan untuk ikut berorganisasi, saat ini telah jarang kita temukan  mahasiswa yang menghabiskan waktu luangnya untuk pergi ketempat-tempat yang bermanfaat untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya. Mereka lebih memilih untuk pergi ke tempat-tempat yang hanya memberikan kenikmatan sesaat baginya, sehingga kerap sekali mahasiswa ditemukan telah terjerumus ke dunia narkoba dan free seks, hal ini tentunya disebabkan oleh mahasiswa tersebut telah menemukan teman-teman yang membawa dia terjerumus ke dalam dunia yang seperti itu. Jika sudah demikian kondisi mahasiswa yang ada disekeliling kita, bagaimana dengan masa depan bangsa kita nantinya?
Kita juga sering mendengar mahasiswa yang kerjanya hanya belajar, belajar dan belajar demi IP tinggi dan cepat lulus. Mahasiswa ini umumnya semakin terkena penyakit yang penting studi saja. Mahasiswa ini,  kalau di kampus,  paling tahunya cuma jurusannya, lalu perpustakaan, setelah itu, pulang ke rumah atau tempat kosnya. Mahasiswa seperti ini pikirannya cuma belajar saja, sehingga mereka tidak merasa perlu untuk membangun diri dengan terlibat di unit kegiatan mahasiswa atau organisasi yang baik di luar kampus. Bahkan kadang mahasiswa ini menganggap segala aktifitas di luar kelas itu adalah pemborosan waktu.  Begitu bangganya mereka dengan prestasi akademik mereka, seolah-olah kesuksesan hidup setelah lulus kuliah seluruhnya ditentukan oleh angka-angka itu. Tentu lebih baik kalau nilai atau IP bagus itu diperoleh dengan cara jujur dan menunjukkan penguasaan akan materi kuliah.Tetapi,kalau angka-angka itu diperoleh dengan cara yang tidak benar, lalu apa yang sebenarnya patut dibanggakan oleh mahasiswa ini?
Di titik ekstrim lainnya ada mahasiswa yang justru sudah kurang peduli lagi dengan kuliah dan studinya, dan malah fokus dengan kesibukannya di unit kegiatan mahasiswa atau organisasi di luar kampus. Hal itu baik kalau apa yang mereka kerjakan itu memang sungguh berguna buat mereka dan rakyat. Apa jadinya kalau sebenarnya yang mereka kerjakan cuma menghabiskan waktu dan uang, kumpul-kumpul tidak jelas dengan mahasiswa sejenis, diskusi tanpa arah dan tujuan, lalu main bola, main kartu. Apa arti semua itu dibandingkan sekian banyak tahun kuliah dan uang yang terbuang, apalagi kalau akhirnya drop out (DO),lalu apa sebenarnya yang dicari mahasiswa Indonesia macam ini?
Melihat keadaan yang seperti ini, mahasiswa harus mampu menyeimbangkan antara kuliah dengan organisasi yang sedang dia ikuti, agar tidak terjadi ketimpangan. Seorang mahasiswa harus mampu memberikan yang terbaik di organisasi yang dia ikuti, kemudian juga memberikan yang terbaik diperkuliahannya, sehingga nantinya mahasiswa tersebut dapat menjadi panutan bagi mahasiswa lainnnya. Jika keduanya berjalan dengan seimbang dan mahasiswa Kristen tersebut tetap setia untuk menjadi murid Kristus, pastinya mahasiswa seperti inilah yang dibutuhkan untuk memajukan negeri kita.

11 TAHUN PERJALANAN GMKI FKM USU
Saat ini telah banyak organisasi mahasiswa yang ada di kampus, seperti halnya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) merupakan salah satu unit pelayanan mahasiswa Kristen di kampus. GMKI memiliki beberapa cabang di Indonesia, salah satunya di Medan, Sumatera Utara. Kemudian berkat kerja keras mahasiswa sebagai pengurus , GMKI Cabang Medan saat ini telah memiliki anggota di 17 komisariat, salah satunya yaitu GMKI FKM USU yang terdapat di kampus FKM-USU. GMKI FKM USU telah berdiri semenjak 11 tahun yang lalu, telah banyak kader-kader yang handal yang telah dihasilkan oleh GMKI FKM USU. Tentunya itu semua merupakan hasil perjuangan dari beberapa mahasiswa Kristen yang ingin membangun pribadinya lewat GMKI FKM USU.
Melihat adanya berbagai masalah yang dihadapi oleh mahasiswa Kristen di zaman sekarang ini seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, GMKI FKM USU sudah sejauh manakah berjuang untuk memberikan yang terbaik di pelayanannya?  Harapannya pelayanan yang diberikan bukanlah hanya semata-mata untuk melakukan hal-hal yang telah menjadi kebiasaan di GMKI FKM USU selama 11 tahun ini. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Samuel Escobar, General Director IVCF Amerika Serikat tahun 1972-1975 dalam buku “Our Heritage” bahwa:
“Salah satu bahaya besar yang dihadapi oleh pelayanan mahasiswa dan organisasi-organisasi Kristen lainnya adalah menjadi lembaga-lembaga yang kehilangan visi. Generasi penerus melanjutkan kegiatan yang ada namun kehilangan semangat yang mendasari kegiatan tersebut. Nama, dukungan keuangan, dan program tetap ada, tetapi orang-orangnya tidak lagi berpegang pada visi yang sama dengan pendirinya. Mereka meneruskan tradisi hanya secara pasif, bukan karena mengalami sendiri dorongan dan pimpinan Roh Kudus. Akhirnya terjadi kekecewaan, kehilangan motivasi dan gerakan Kristen tersebut mengalami krisis atau bahkan kehancuran.”
          Sebagai suatu organisasi Kristen yang berdiri di tengah-tengah kampus FKM-USU, GMKI FKM USU harus mampu menentang keadaan lingkungan yang sering mengajak kita untuk melakukan hal-hal yang kadang kurang berguna bagi kehidupan kita. Memberikan pelayanan yang terbaik yang sesuai dengan visi dari GMKI yaitu untuk “menghadirkan syalom Allah” merupakan salah satu cara yang tepat yang dapat kita lakukan di dalam pelayanan kita di GMKI FKM USU. Segala kekurangan yang terjadi selama 11 tahun ini harapannya dapat diperbaiki kedepannya dan yang baik itu tetap dipertahankan. Sehingga kedepannya GMKI FKM USU dapat menjadi lebih baik dan juga dapat dijadikan sebagai panutan di tengah-tengah kampus. Pengurus dan anggota harus memiliki tanggung jawab yang sama untuk membangun ke arah yang lebih baik di kemudian hari, sehingga pandangan-pandangan buruk dari orang lain terhadap kita, dapat kita dipatahkan. Kita harus mampu memberikan perubahan di kampus FKM USU.
          Anggota GMKI FKM USU yang telah memberikan diri untuk melayani, haruslah bersungguh-sungguh untuk memberikan pelayanan baik sebagai pengurus maupun sebagai anggota. Selain itu, anggota juga harus mampu menyeimbangkan antara organisasi dengan perkuliahan agar tidak terjadi ketimpangan. Jika setiap anggota mampu menyeimbangkan kedua hal tersebut, pastinya pola pikir mahasiswa lain yang tidak mau mengikuti oganisasi karena takut IP nya akan hancur, nantinya mereka tidak lagi mempunyai pikiran yang buruk lagi terhadap mahasiswa yang aktif mengikuti organisasi.
Walaupun kita perhatikan selama ini, di GMKI FKM USU masih ada kita temukan krisis identitas sebagai anggota maupun pengurus, dimana keduanya tidak sadar akan tugas dan tanggungjawabnya baik sebagai pengurus dan anggota. Selain itu, sebutan “mahasiswa lama tamat” masih sering dilontarkan kepada kita anggota GMKI FKM USU. Tidak tahu salah siapa, apakah selama ini kita terlalu disibukkan dengan program yang ada di GMKI FKM USU atau memang semuanya berasal dari pribadi kita yang malas belajar untuk memperoleh nilai yang memuaskan. Semuanya tergantung pribadi kita masing-masing, mari kita kembali mengintropeksi diri kita melihat sudah sejauh mana kita berjuang untuk memberikan yang terbaik di tengah-tengah kehidupan kita. Dan disini juga diperlukan suatu kerja sama antara seluruh anggota, baik yang masih anggota maupun sudah sebagai senior. Segala pandangan buruk terhadap GMKI FKM USU yang dilontarkan oleh orang lain, harus dijadikan obat untuk melangkah ke arah yang lebih baik. Setiap anggota harus saling menopang dan saling memiliki rasa kekeluargaan antara yang satu dengan yang lainnya. Sehingga semangat yang dimiliki oleh setiap anggota untuk mengembangkan diri di GMKI FKM USU tidak akan tergoyahkan lagi oleh keadaan apapun juga.
GMKI FKM USU harus mampu menjadi garam dan terang di tengah-tengah kampus, sehingga tujuan dari mahasiswa sebagai Iron Stock,Social Control,Agent of Change,dan Moral Force dapat dicapai oleh setiap anggota GMKI FKM USU yang telah member diri untuk melayani. Anggota juga harus mampu menjadi murid Kristus dan juga dapat menyeimbangkan antara perkuliahan dengan mengikuti organisasi. Marilah terus berlatih di dunia kampus dan organisasi, agar kita dapat menjadi pribadi yang benar-benar bermanfaat bagi bangsa dan Negara kita nantinya.  Sebab sepatah kata dari seorang pemuda akan lebih berharga daripada 100 pemuda yang hanya melihat dan menikmati. Cobalah untuk ambil peran dalam setiap pembangunan dan pengembangan di lingkungan sosial kita, peran jiwa pemuda kita sangat berarti dalam prosesnya,
Jadi sudah sejauh mana usaha peran kita untuk diri kita sendiri dan lingkungan sosial di tempat kita? Perhatikan diri kita dan lingkungan sosial kita, apa yang perlu dilakukan untuk meraih masa depan kita dan lingkungan kita yang lebih baik. Karena itu marilah kita berusaha untuk tetap selalu memberikan yang terbaik di dalam pelayanan kita.
  •  
GMKI Komisariat FKM USU GMKI Komisariat FKM USU Author

FACEBOOK