GMKI FKM USU, Sudahkah Kau Berjuang?
Rabu, Mei 02, 2012
GMKI FKM USU, Sudahkah Kau
Berjuang?
Oleh: Lestari Simanjuntak
Mahasiswa
merupakan generasi yang dicetak untuk tujuan mengembangkan profesi yang ia
tekuni di dunia kampus. Merekalah yang
kelak memajukan Indonesia sesuai dengan bidang mereka masing-masing. Untuk
itulah, hendaknya mahasiswa mulai dari sekarang bisa mengembangkan
potensi-potensi yang mereka miliki, hal itu bisa dilakukan dengan melakukan
riset, aktif berorganisasi, berprestasi di kampus bahkan dunia. Mahasiswa
merupakan bagian dari pemuda, dimana pemuda merupakan generasi penyokong
bangsa. Pemuda juga merupakan generasi pengganti generasi tua yang sudah
ada dan kini berperan aktif dalam pembangunan bangsa. Oleh karena itu
keberadaan pemuda sangatlah diharapkan perannya di Negara Indonesia ini.
MEMAKNAI PERAN DAN
FUNGSI MAHASISWA
Kita tentu ingat peran mahasiswa
pada umumnya yaitu sebagai Iron Stock,Social Control,Agent of Change,dan
Moral Force. Sebagai Iron Stock,mahasiswa adalah ibarat aset bagi
suatu bangsa. Ibarat cadangan logam (Iron Stock) di suatu negara yang
bisa menjadi tolak ukur kemakmuran suatu negara, demikianlah jumlah mahasiswa
yang unggul baik secara wawasan, moral, karakter, dan skill di suatu negara dapat menjadi tolak ukur kemajuan SDM suatu
Negara. Ini berarti mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa dan harapan bangsa;
karena nantinya mahasiswalah yang harus menggantikan generasi -generasi
sebelumnya untuk menduduki posisi-posisi strategis dalam kepemimpinan bangsa.
Sebagai pengusung Moral
Force mahasiswa harus mampu bersikap dan bertindak lebih baik dari yang
lainnya karena mereka adalah sebagai kaum intelektual, dimana mereka mengatakan
yang benar itu adalah benar dengan penuh kejujuran, keberanian, dan rendah
hati. Mahasiswa juga dituntut untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya dan
terbuka kepada siapa saja. Hal itu semata-mata karena mereka adalah kader-kader
calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang, yang memegang kendali negara di
masa depan.
Oleh karena itu mereka berhak
untuk melakukan kontrol sosial. Sebagai kontrol sosial (Social Control),
mahasiswa dapat melakukan peran preventif dengan membantu masyarakat dalam
mewujudkan ketentuan dan peraturan yang adil dan berpihak pada rakyat banyak,
sekaligus mengkritisi peraturan yang tidak adil dan tidak berpihak pada
masyarakat. Kontrol terhadap kebijakan pemerintah tersebut perlu dilakukan
karena banyak sekali peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang hanya
berpihak pada golongan tertentu saja dan tidak berpihak pada kepentingan
masyarakat banyak. Sikap kritis itu merupakan wujud kepedulian mereka terhadap
bangsa dan negaranya yang dilakukan dengan ikhlas dan dari hati nurani mereka,
bukan atas keterpaksaan maupun intimidasi dari pihak luar. Segala sesuatu yang
mereka perjuangkan adalah sesuatu yang mereka yakini adalah baik untuk
kehidupan mereka di masa sekarang dan di masa yang akan datang.
Dan akhirnya sebagai Agent
of Change, mahasiswa dituntut sebagai agen yang membawa perubahan pada
suatu bangsa Mahasiswa selalu menjadi bagian dari perjalanan sebuah bangsa.
Mahasiswa merupakan suatu elemen masyarakat yang unik. Jumlahnya tidak banyak,
namun sejarah menunjukkan bahwa dinamika bangsa ini tidak lepas dari peran
mahasiswa. Roda sejarah demokrasi selalu menyertakan mahasiswa sebagai pelopor,
penggerak, bahkan sebagai pengambil keputusan. Hal tersebut telah terjadi di
berbagai negara di dunia, baik di Timur maupun di Barat. Pemikiran kritis,
demokratis, dan konstruktif selalu lahir dari pola pikir para mahasiswa.
Walaupun zaman terus bergerak dan berubah, namun tetap ada yang tidak berubah
dari mahasiswa, yaitu semangat dan idealisme. Semangat-semangat yang berkobar
terpatri dalam diri mahasiswa, semangat yang mendasari perbuatan untuk
melakukan perubahan-perubahan atas keadaan yang dianggapnya tidak adil. Intuisi
dan hati kecilnya akan selalu menyerukan idealisme. Mahasiswa tahu ia harus berbuat sesuatu untuk masyarakat,
bangsa, dan negaranya. Suara-suara mahasiswa kerap kali merepresentasikan dan
mengangkat realita sosial yang terjadi di masyarakat. Sikap idealisme mendorong
mahasiswa untuk memperjuangkan sebuah aspirasi pada penguasa, dengan cara
mereka sendiri.Tidak dapat dipungkiri bila generasi muda khususnya para
mahasiswa, selalu dihadapkan pada permasalahan global. Setiap ada perubahan,
mahasiswa selalu tampil sebagai kekuatan pelopor, kekuatan moral dan kekuatan
pendobrak untuk melahirkan perubahan.
REALITA MAHASISWA
INDONESIA SAAT INI
Namun apa yang terjadi,
kebanyakan mahasiswa bangsa kita lebih senang berhura-hura, malas berpikir dan berdiskusi, tidak serius belajar
serta terlanjur terjerumus dalam modernisasi yang membuat mereka menjadi kaum
oportunis. Secara tak sadar, para generasi muda dihinggapi dengan pandangan dan
perilaku umum yang mendidik mereka menjadi bermental instan dan bermental bos.
Pemuda menjadi malas bekerja dan malas mengatasi kesulitan. Hambatan dan proses
pembelajaran tidak diutamakan sehingga etos kerja jadi lemah.
Mereka adalah manusia yang
dididik agar menjadi intelektual yang kontributif, mampu mamahami permasalahan
di sekitarnya, kemudian menganalisis serta menerapkan solusi masalah tersebut
dalam bentuk nyata. Tapi apa daya, definisi tak selaras dengan implementasi.
Mereka belum mampu membuat harapan bangsa ini menjadi kenyataan yang lebih baik
dari sebelumnya. Kebanyakan mereka tidak memaknai peran yang diemban, posisi di
mana mereka berada, serta fungsinya di mata masyarakat. Hanya lebih menonjolkan
individualisme yang demikian melambung.
Terkadang mahasiswa Indonesia
saat ini sudah tidak punya hasrat untuk
menguasai ilmu yang dipelajarinya, entah karena alasan apa, dan diperburuk
dengan mental cepat lulus dengan IPK setinggi-tingginya, mahasiswa ini lalu
menggunakan berbagai teknik kreatif untuk menyontek waktu ujian atau
mengerjakan tugas. Meski isi kepalanya kosong, mahasiswa yang menyontek itu
tetap tertawa-tawa bangga waktu nilai ujiannya A atau justru marah ketika dapat
nilai jelek.Tindakan pembohongan ini juga terjadi tidak hanya waktu ujian.
Mengapa sering kali tanda tangan di absensi mahasiswa lebih banyak daripada
yang hadir di kelas? Berani titip absen tanpa perasaan bersalah atau gelisah
sudah umum bagi mahasiswa Indonesia.
MAHASISWA KRISTEN,
JATI DIRI YANG RUSAK
Bagaimana dengan mahasiswa
Kristen sendiri? Keadaannya juga tidak jauh beda dengan mahasiswa pada umumnya
Mahasiswa Kristen pun banyak melakukan tindakan seperti yang disebutkan di
atas. Mahasiswa Kristen juga banyak yang melakukan kejahatan. Bahkan peran
mahasiswa Kristen sebagai garam dan terang dunia,untuk menerangi dunia yang
rusak ini juga tidak terlihat. Malah terkadang mahasiswa Kristen sendiri
melakukan hal yang lebih parah. Sungguh memprihatinkan kondisi mahasiswa
Kristen saat ini yang telah kebanyakan mengalami krisis identitas sebagai
seorang mahasiswa Kristen.
Seperti halnya terkadang
mahasiswa Kristen juga terpengaruh sikap yang tidak terpuji, seperti hedonisme,
apatisme, dan eksklusivisme. Berapa banyak kita lihat di kampus mahasiswa
Kristen yang hanya mau bergaul dengan sesama Kristen, bahkan terkadang hanya
ada yang mau bergaul dengan teman gerejanya saja. Nampaknya Pemuda dan
mahasiswa Kristen di Indonesia perlu mengubah pandangannya mengenai kemajemukan
berbangsa dan bernegara guna menghilangkan sikap eksklusivisme di tengah
kehidupan masyarakat.
BAGAIMANA SEHARUSNYA
PERAN MAHASISWA KRISTEN?
Jika kita lihat lagi, akar
semua permasalahan yang ada pada bangsa ini disebabkan karena permasalahan
karakter. Karena itu, karakter mahasiswa Kristen sejati sangat diperlukan.
Adalah hal yang mustahil memisahkan antara kepemimpinan Kristen dengan
karakternya, antara kepemimpinan Kristen dengan kehidupan spiritualitasnya. Ini
adalah yang paling penting bila hendak membangun mahasiswa Kristen yang
berhikmat dan berdedikasi tinggi bagi bangsa, seperti Daniel,Sadrakh,Mesakh dan
Abednego pada zamannya. Bangsa ini perlu ditolong terutama dalam membangun
karakternya, dan kita semua harus berperan di dalamnya.
Seorang
mahasiswa Kristen seharusnya memiliki jati diri ganda: warga dunia sekaligus
warga surga. Dua jati diri itu tidak dikotomis, melainkan saling mengisi. Dalam
perspektif iman Kristen yang holistik, mencintai Tuhan menjadi nyata dalam
mencintai sesama dan dalam tingkat berbangsa adalah mencintai negeri.
Pertanyaannya, bagaimana seorang Mahasiswa Kristen mewujudkan cinta akan
negeri? Pertama, sudah sewajarnya mahasiswa Kristen menjadi bagian dari barisan
penegak demokrasi dalam masyarakat yang
majemuk bersama dengan komunitas umat lain yang juga memperjuangkan nilai-nilai
demokrasi dan pluralisme. Kedua, berangkat dari keyakinan bahwa imannya adalah
hidup, mahasiswa Kristen ditantang untuk mewujudnyatakan iman itu dalam
kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Jadi pada dasarnya, iman Kristen diharapkan menjembatani kesenjangan
antara agama dan masyarakat. Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan
oleh mahasiswa Kristen agar dapat menjadi garam dan terang di dunia kampus
maupun di dalam kehidupan sehari-harinya:
1.
Menjadi Murid Kristus
Matius
16:24 menjelaskan 3 langkah untuk menjadi murid Kristus kepada kita, yaitu:
“menyangkal diri”, “memikul salib” dan “mengikut Kristus”.
a. Menyangkal Diri
Menyangkal
diri bukan berarti menghilangkan eksistensi dan makna diri dalam hidupnya.
Menyangkal diri adalah tidak menempatkan diri sebagai pusat hidupnya, tapi
menempatkan Kristus sebagai pusat dan tujuan hidupnya. Orang yang menyangkal
diri memahami hidup sebagai kasih karunia Kristus yang patut disyukuri dan
dijalani dengan penuh tanggung jawab di hadapan-Nya. Apabila kita senantiasa
belajar menyangkal diri, kita akan dapat menjadi murid Kristus yang menempatkan
kehendak Kristus sebagai dasar dan pedoman setiap rencana dan langkah hidup
kita. Orang yang dapat menyangkal diri juga tidak menganggap diri dan
kepentingannya sebagai yang utama, tetapi ia dapat bersikap rendah hati dan
memperhatikan kepentingan orang lain. Dengan demikian sebagai murid Kristus,
kita tidak hanya menempatkan Kristus sebagai pusat dan tujuan hidupnya, tapi
juga senantiasa rendah hati dan peduli pada kepentingan orang lain. Inilah
eksistensi dan makna hidup seorang murid Kristus di tengah kehidupan ini.
b. Memikul Salib
Langkah
berikutnya menjadi murid Kristus adalah bersedia memikul salib. Memikul salib
artinya merangkul kehendak Allah meskipun kehendak-Nya berbeda total dengan apa
yang kita inginkan. Maksudnya memilih hal yang baik meskipun berupa obat yang
pahit dan rela menerima kesusahan ataupun pencobaan dan kesakitan apapun dalam
jalur jalan kita menuju kehidupan yang kekal. Salib itu adalah sesuatu yang
bukan hanya membawa ketidaksenangan, tapi juga berupa beban atau kesakitan.
Menerima salib bukan hanya menolak sesuatu yang menyenangkan, tapi juga
mengijinkan sesuatu yang tidak menyenangkan masuk dalam kehidupan kita. Setiap orang pada dasarnya memiliki salibnya
masing-masing, yang harus dipikul dengan sabar dan taat kepada Kristus. Dalam
memikul salib sebenarnya kita tidak perlu menggembar-gemborkan kesulitan yang
kita alami, tetapi justru kita perlu belajar tetap bersukacita dalam Kristus (1
Petrus 4:12-14).
c. Mengikut Kristus
Mengikut
Kristus artinya setia mengikuti Kristus dan taat melaksanakan segala
firman-Nya. Ketika Yesus mengajak murid-murid yang pertama (Simon Petrus,
Andreas, Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes) untuk menjadi murid Kristus, mereka
meninggalkan jala, perahu, dan ayah mereka, dan mengikut Yesus (Matius
4:18-22). Dari peristiwa ini kita belajar komitmen mengikuti panggilan Kristus,
dan taat melaksanakan segala firman-Nya dalam hidup kita.
Mengikut
Kristus adalah mengutamakan Kristus di atas segalanya, bukan menempatkan
Kristus di bawah kepentingan yang lain. Bila kita mau mengikut Kristus, kita
perlu taat melaksanakan ajaran Kristus dan mempersaksikan kebenaran Kristus
kepada sesama melalui setiap perkataan, sikap, dan perbuatan kita sehari-hari.
Hal utama yang perlu kita laksanakan sebagai murid Kristus adalah meneladani
gaya hidup Kristus untuk hidup saling mengasihi dengan sesama (Yoh. 13:34-35).
Dengan kita hidup saling mengasihi, kita turut mewujudnyatakan misi Kristus
dalam menghadirkan kasih dan damai sejahtera bagi dunia.
Menjadi
murid Kristus bukan suatu prestasi untuk menunjukkan kehebatan dan kemampuan
kita melaksanakan semua ajaran Kristen/gereja. Menjadi murid Kristus adalah
suatu pembelajaran kita dapat terus mengenal Kristus, memberi diri dituntun
oleh Roh Kudus, serta taat melaksanakan setiap ajaran-Nya. Matius 16:24
(menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus) menjelaskan secara
sederhana bagaimana kita dapat terus diproses dan diperlengkapi menjadi murid
Kristus. Bila kita senantiasa berusaha menjadi murid Kristus, maka sebenarnya
kita turut mewujudkan kehendak Allah agar kita hidup serupa dengan Kristus
(Roma 8:29).
2.
Menyeimbangkan
Kuliah dengan Organisasi
Selain
itu, sebagai mahasiswa Kristen, kita juga harus dapat berperan aktif dalam
pelayanan mahasiswa,karena pelayanan mahasiswa adalah pelayanan yang membentuk
karakter pribadi tiap mahasiswa, sehingga mampu menciptakan kader-kader handal
yang dikemudian hari mampu untuk berkarya dan berbakti dengan integritas yang
baik di dalam sistem-sistem birokrasi yang ada.
Namun saat ini, ketertarikan mahasiswa
untuk mengikuti suatu organisasi telah berkurang, hal ini tentunya disebabkan
karena bayaknya aktivitas yang ditawarkan oleh lingkungan sekitar dari
mahasiswa tersebut, yang kadangkala tanpa disadari telah merugikan mahasiswa
tersebut. Setiap hari kita mungkin pernah melihat seperti tempat-tempat
perbelanjaan, bar, tempat game online,
salon, dan tempat rekreasi semuanya telah dipenuhi oleh pengunjung yang
kebanyakan pengunjungnya adalah mahasiswa. Jangankan untuk ikut berorganisasi,
saat ini telah jarang kita temukan
mahasiswa yang menghabiskan waktu luangnya untuk pergi ketempat-tempat
yang bermanfaat untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya. Mereka lebih memilih
untuk pergi ke tempat-tempat yang hanya memberikan kenikmatan sesaat baginya,
sehingga kerap sekali mahasiswa ditemukan telah terjerumus ke dunia narkoba dan
free seks, hal ini tentunya
disebabkan oleh mahasiswa tersebut telah menemukan teman-teman yang membawa dia
terjerumus ke dalam dunia yang seperti itu. Jika sudah demikian kondisi
mahasiswa yang ada disekeliling kita, bagaimana dengan masa depan bangsa kita
nantinya?
Kita juga sering mendengar
mahasiswa yang kerjanya hanya belajar, belajar dan belajar demi IP tinggi dan
cepat lulus. Mahasiswa ini umumnya semakin terkena penyakit yang penting studi
saja. Mahasiswa ini, kalau di kampus, paling tahunya cuma jurusannya, lalu
perpustakaan, setelah itu, pulang ke rumah atau tempat kosnya. Mahasiswa
seperti ini pikirannya cuma belajar saja, sehingga mereka tidak merasa perlu
untuk membangun diri dengan terlibat di unit kegiatan mahasiswa atau organisasi
yang baik di luar kampus. Bahkan kadang mahasiswa ini menganggap segala
aktifitas di luar kelas itu adalah pemborosan waktu. Begitu bangganya mereka dengan prestasi
akademik mereka, seolah-olah kesuksesan hidup setelah lulus kuliah seluruhnya
ditentukan oleh angka-angka itu. Tentu lebih baik kalau nilai atau IP bagus itu
diperoleh dengan cara jujur dan menunjukkan penguasaan akan materi
kuliah.Tetapi,kalau angka-angka itu diperoleh dengan cara yang tidak benar,
lalu apa yang sebenarnya patut dibanggakan oleh mahasiswa ini?
Di titik ekstrim lainnya ada
mahasiswa yang justru sudah kurang peduli lagi dengan kuliah dan studinya, dan
malah fokus dengan kesibukannya di unit kegiatan mahasiswa atau organisasi di
luar kampus. Hal itu baik kalau apa yang mereka kerjakan itu memang sungguh
berguna buat mereka dan rakyat. Apa jadinya kalau sebenarnya yang mereka
kerjakan cuma menghabiskan waktu dan uang, kumpul-kumpul tidak jelas dengan
mahasiswa sejenis, diskusi tanpa arah dan tujuan, lalu main bola, main kartu.
Apa arti semua itu dibandingkan sekian banyak tahun kuliah dan uang yang
terbuang, apalagi kalau akhirnya drop out (DO),lalu apa sebenarnya yang dicari
mahasiswa Indonesia macam ini?
Melihat keadaan yang seperti
ini, mahasiswa harus mampu menyeimbangkan antara kuliah dengan organisasi yang
sedang dia ikuti, agar tidak terjadi ketimpangan. Seorang mahasiswa harus mampu
memberikan yang terbaik di organisasi yang dia ikuti, kemudian juga memberikan
yang terbaik diperkuliahannya, sehingga nantinya mahasiswa tersebut dapat
menjadi panutan bagi mahasiswa lainnnya. Jika keduanya berjalan dengan seimbang
dan mahasiswa Kristen tersebut tetap setia untuk menjadi murid Kristus,
pastinya mahasiswa seperti inilah yang dibutuhkan untuk memajukan negeri kita.
11 TAHUN PERJALANAN
GMKI FKM USU
Saat ini telah banyak
organisasi mahasiswa yang ada di kampus, seperti halnya Gerakan Mahasiswa
Kristen Indonesia (GMKI) merupakan salah satu unit pelayanan mahasiswa Kristen
di kampus. GMKI memiliki beberapa cabang di Indonesia, salah satunya di Medan,
Sumatera Utara. Kemudian berkat kerja keras mahasiswa sebagai pengurus , GMKI
Cabang Medan saat ini telah memiliki anggota di 17 komisariat, salah satunya
yaitu GMKI FKM USU yang terdapat di kampus FKM-USU. GMKI FKM USU telah berdiri
semenjak 11 tahun yang lalu, telah banyak kader-kader yang handal yang telah
dihasilkan oleh GMKI FKM USU. Tentunya itu semua merupakan hasil perjuangan
dari beberapa mahasiswa Kristen yang ingin membangun pribadinya lewat GMKI FKM
USU.
Melihat adanya berbagai masalah
yang dihadapi oleh mahasiswa Kristen di zaman sekarang ini seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya, GMKI FKM USU sudah sejauh manakah berjuang untuk
memberikan yang terbaik di pelayanannya?
Harapannya pelayanan yang diberikan bukanlah hanya semata-mata untuk
melakukan hal-hal yang telah menjadi kebiasaan di GMKI FKM USU selama 11 tahun
ini. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Samuel Escobar, General Director IVCF
Amerika Serikat tahun 1972-1975 dalam buku “Our Heritage” bahwa:
“Salah satu bahaya besar yang dihadapi oleh
pelayanan mahasiswa dan organisasi-organisasi Kristen lainnya adalah menjadi
lembaga-lembaga yang kehilangan visi. Generasi penerus melanjutkan kegiatan
yang ada namun kehilangan semangat yang mendasari kegiatan tersebut. Nama,
dukungan keuangan, dan program tetap ada, tetapi orang-orangnya tidak lagi
berpegang pada visi yang sama dengan pendirinya. Mereka meneruskan tradisi
hanya secara pasif, bukan karena mengalami sendiri dorongan dan pimpinan Roh
Kudus. Akhirnya terjadi kekecewaan, kehilangan motivasi dan gerakan Kristen
tersebut mengalami krisis atau bahkan kehancuran.”
Sebagai suatu organisasi Kristen yang
berdiri di tengah-tengah kampus FKM-USU, GMKI FKM USU harus mampu menentang
keadaan lingkungan yang sering mengajak kita untuk melakukan hal-hal yang
kadang kurang berguna bagi kehidupan kita. Memberikan pelayanan yang terbaik
yang sesuai dengan visi dari GMKI yaitu untuk “menghadirkan syalom Allah”
merupakan salah satu cara yang tepat yang dapat kita lakukan di dalam pelayanan
kita di GMKI FKM USU. Segala kekurangan yang terjadi selama 11 tahun ini
harapannya dapat diperbaiki kedepannya dan yang baik itu tetap dipertahankan.
Sehingga kedepannya GMKI FKM USU dapat menjadi lebih baik dan juga dapat
dijadikan sebagai panutan di tengah-tengah kampus. Pengurus dan anggota harus
memiliki tanggung jawab yang sama untuk membangun ke arah yang lebih baik di
kemudian hari, sehingga pandangan-pandangan buruk dari orang lain terhadap
kita, dapat kita dipatahkan. Kita harus mampu memberikan perubahan di kampus
FKM USU.
Anggota GMKI FKM USU yang telah
memberikan diri untuk melayani, haruslah bersungguh-sungguh untuk memberikan
pelayanan baik sebagai pengurus maupun sebagai anggota. Selain itu, anggota
juga harus mampu menyeimbangkan antara organisasi dengan perkuliahan agar tidak
terjadi ketimpangan. Jika setiap anggota mampu menyeimbangkan kedua hal
tersebut, pastinya pola pikir mahasiswa lain yang tidak mau mengikuti oganisasi
karena takut IP nya akan hancur, nantinya mereka tidak lagi mempunyai pikiran
yang buruk lagi terhadap mahasiswa yang aktif mengikuti organisasi.
Walaupun kita perhatikan selama
ini, di GMKI FKM USU masih ada kita temukan krisis identitas sebagai anggota
maupun pengurus, dimana keduanya tidak sadar akan tugas dan tanggungjawabnya
baik sebagai pengurus dan anggota. Selain itu, sebutan “mahasiswa lama tamat”
masih sering dilontarkan kepada kita anggota GMKI FKM USU. Tidak tahu salah
siapa, apakah selama ini kita terlalu disibukkan dengan program yang ada di GMKI
FKM USU atau memang semuanya berasal dari pribadi kita yang malas belajar untuk
memperoleh nilai yang memuaskan. Semuanya tergantung pribadi kita
masing-masing, mari kita kembali mengintropeksi diri kita melihat sudah sejauh
mana kita berjuang untuk memberikan yang terbaik di tengah-tengah kehidupan
kita. Dan disini juga diperlukan suatu kerja sama antara seluruh anggota, baik
yang masih anggota maupun sudah sebagai senior. Segala pandangan buruk terhadap
GMKI FKM USU yang dilontarkan oleh orang lain, harus dijadikan obat untuk
melangkah ke arah yang lebih baik. Setiap anggota harus saling menopang dan
saling memiliki rasa kekeluargaan antara yang satu dengan yang lainnya.
Sehingga semangat yang dimiliki oleh setiap anggota untuk mengembangkan diri di
GMKI FKM USU tidak akan tergoyahkan lagi oleh keadaan apapun juga.
GMKI FKM USU harus mampu
menjadi garam dan terang di tengah-tengah kampus, sehingga tujuan dari
mahasiswa sebagai Iron Stock,Social Control,Agent of Change,dan Moral Force dapat dicapai oleh setiap anggota GMKI FKM
USU yang telah member diri untuk melayani. Anggota juga harus mampu menjadi
murid Kristus dan juga dapat menyeimbangkan antara perkuliahan dengan mengikuti
organisasi. Marilah terus berlatih di dunia kampus dan organisasi, agar kita dapat
menjadi pribadi yang benar-benar bermanfaat bagi bangsa dan Negara kita
nantinya. Sebab sepatah
kata dari seorang pemuda akan lebih berharga daripada 100 pemuda yang hanya
melihat dan menikmati. Cobalah untuk ambil peran dalam setiap pembangunan dan pengembangan
di lingkungan sosial kita, peran jiwa pemuda kita sangat berarti dalam
prosesnya,
Jadi sudah sejauh
mana usaha peran kita untuk diri kita sendiri dan lingkungan sosial di tempat
kita? Perhatikan diri kita dan lingkungan sosial kita, apa yang perlu dilakukan
untuk meraih masa depan kita dan lingkungan kita yang lebih baik. Karena itu
marilah kita berusaha untuk tetap selalu memberikan yang terbaik di dalam
pelayanan kita.