Our Diary.
to Share our Life Events

REPOSISI GMKI KOMISARIAT FKM USU DITENGAH MASALAH KESEHATAN LOKAL


REPOSISI GMKI KOMISARIAT FKM USU DITENGAH MASALAH KESEHATAN LOKAL
Oleh: Bisara L. Tobing


Pendahuluan
Peran GMKI Komisariat FKM USU ditengah-tengah masalah kesehatan local kelihatannya sangat minmal kalau tidak mau dikatakan tidak ada sama sekali. Beberapa kegiatan yang saya ikuti masih terbatas kepada diskusi-diskusi dengan tema-tema yang kurang menggigit atau latihan kepemimpinan. Hasilnya sdah pasti hanya peningkatan pengetahuan dan wacana-wacana berbasis kekecewaan, ingin itu dan ini tanpa tindak lanjut yang nyata, membumi.

Baru-baru ini saya bertemu dengan dua orang adik-adik GMKI, tujuannya “meminta” masukan apa yang bisa mereka lakukan. Menurut mereka, di semester ini mereka memiliki banyak waktu luang dan tidak tau mau berbuat apa. Saya mengusulkan untuk membuat forum diskusi. Mereka mengatakan bahwa itu sudah mereka lakukan. “Kalau demikian kenapa kamu tidak mencoba menjadi relawan saja di berbagai lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan pastilah mereka memiliki bnayka kegiatan. Pengetahuan dan pengalaman di dunia nyata akan bertambah, kamu bisa merasakan groove-nya, dan syukur-syukur kamu bisa diangkat menjadi staf honorer”, kata saya.

Kami teruskan perbincangan dengan mendiskusikan beberapa hal yang harus mereka lakukan untuk mewujudkan hal tersebut. Akhirnya merekapun permisi pulang.

Makna dari pertemuan
Bagi saya, pertemuan singkat itu menceritakan banyak hal, apalagi kalau saya kaitkan dengan berbagai pengalaman sebelumnya “bergaul” dengan komunitas GMKI Komisariat FKM USU. Pertama, saya merasa sebagai akibat tidak adanya pembinaan dari para senior, yang biasa disebut sebagai “senioren” maka para junior menjadi seperti anak ayam kehilangan induk, tidak mengenali bahwa dalam dirinya sebenarnya terkandung potensi yang sangat besar. Saya jadi teringat akan cerita anak elang yang dibesarkan oleh induk ayam. Anak elang itu berperilaku sebagaimana anak ayam, menganggap dirinya anak ayam, padahal, sejatinya dia adalah anak elang yang memiliki benyak kelebihan dibandingkan dengan anak ayam. Salah satunya adalah bawa dia bisa terbang. Saya pernah mencoba mengeksplorasi seberapa dekat hubungan antara mahasiswa sebagai anggota GMKI dengan para dosen sebagai senioren. Kesan saya, jarak antara keduanya sangat jauh. Saya harus terus terang mengatakan bahwa hanya ada satu dosen yang dekat yaitu teman saya Prof. Dr. Albiner Siagian. Satu lagi adalah Prof. David H. Simanjuntak, sayang beliau sudah pensiun. Yang lain? No comment! Refleksinya sederhana. Bila GMKI Komisariat FKM USU melakukan kegiatan maka partisipasi dosen sangat miskin. Baik dalam perayaan Paskah, Natal dan kegiatan lainnya. Support yang didapat juga sangat minimal, jangan-jangan hanya “bantu doa doing”. Menurut saya, inilah jadinya kalau burung elang tidak mau membesarkan anaknya.

Kedua adalah masalah cara pandang atau mind set. Pengalaman saya bekerja dengan beberapa anggota GMKI Komisariat FKM USU menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang yang dapat diandalkan. Saya tidak tahu apakah saya yang kurang beruntung atau memang demikianlah adanya. Pernah dalam satu kegiatan saya berinisitaif merekrut beberapa, dalam briefing saya kemukakan bahwa kalian harus merasa beruntung karena tidak banyak orang yang memiliki kesempatan ikut kegiatan ini, kalian akan memperoleh pengalaman, menambah panjang Curriculum Vitae dan mendapatkan sedikit uang. Kelihatannya semua berjalan baik-baik saja sampai mendekati hari H, mereka ber-ulah dengan mempermasalahkan honorarium padahal dari awal dijelaskan bahwa dana untuk kegiatan sangat minim. Saya sangat kecewa dan mengatakan “jangan pernah berpikir bahwa saya membutuhkan saudara tetapi sebenarnya saudaralah yang membutuhkan saya”. Saya katakan demikian karena memang demikianlah adanya. Hal tersebut sangat membekas sampai saat ini, sehingga saat ini saya menjadi sangat selektif dalam mengajak anggota GMKI untuk bekerja sama.


Posisi GMKI Komisariat FKM USU
Saya tidak tahu pasti bagaimana posisi GMKI Komisariat FKM USU ditengah masyarakat kampus dan masyarakat pada umumnya. Tapi, bercermin dari beberapa hal yang mampu saya cermati, saya rasanya tidaklah terlalu bermakna. Mungin ada baiknya kita pertanyakan kembali, apa sebenarnya GMKI? Apa peran yang kita harapkan atau apa ekspektansi kita dari GMKI? Apa peran yang ingin kita perankan didalam organisasi yang disebut sebagai GMKI Komisariat FKM USU?

Saya tidak percaya “lagi” bahwa GMKI dilandasi oleh ritual-ritual kegamaan. Jika memang itu yang diharapkan maka menurut saya, gereja-lah tempatnya. Bukankah dalam keseharian, kita masing-masing adalah  jemaat gereja dan mungkin saja aktif diberbagai kelompok/persekutuan doa? Sedangkan, apabila GMKI dianggap sebagai wadah bagi mahasiswa Kristen, pertanyaan saya adalah “untuk apa”? Untuk apa kita punya ember sebesar lapangan Benteng atau lapangan Merdeka kalau tidak ada isinya?

Kalau dikatakan bahwa GMKI adalah saluran untuk menyuarakan aspirasi mahasiswa Kristen maka saya akan ablik bertanya, “apa kiranya”? Jaman sudah sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan saat saya menjadi mahasiswa hamir tigapuluh tahun yang lalu. Toh organisasi mahasiswa tidak punya suara dalam pemilihan dekan atau rector. Dalam penentuan kepala departemen juga tidak.

Ditengah-tengah kehidupan organisasi ekstra-kurikuler di kampus, menurut saya, GMKI tidak lebih menonjol jika dibandingkan dengan organisasi setingkat seperti HMI, GMNI dan yang lainnya. Kegiatannya juga sangat rutin, LDK dan peringatan hari besar Kristen plus bakti social. Yang bersifat kerjasama antar organisasi tidak pernah saya dengar. Alasannya macam-macam, padahal, setidaknya saya sudah dua kali bekerjasama dengan HMI dalam acara yang saya pandang cukup penting. Seringkali, dalam tukar pendapat dengan anggota GMKI, ada persepsi bahwa HMI adalah HMI dan GMKI adalah GMKI, padahal HMI bukanlah musuh GMKI. Sikap memandang perbedaan ini  akan mempertegas jarak sehingga ruang untuk berkegiatan juga semakin sempit. GMKI hars mampu bekerjasama dengan HMI, GMNI dan organisasi sejenis lain.

Ditengah masyarakat, GMKI seolah-olah sebuah organisasi mahasiswa yang eksklusif. Belum pernah saya dengar ada karya yang bisa menjadi ingatan masyarakat. Seberapa kerap GMKI mencuri hati masyarakat?

Bagi saya, berorganisasi adalah sarana untuk berlatih. Semakin beragam dan dinamis makan akan semakin baik pula hasilnya.


Pandai membawa diri
Saya mengharapkan agar anggota GMKI semakin pandai membawa diri. Punya banyak teman dan relasi akan sangat banyak gunanya. Yang saya amati, anggota GMKI seringkali menunjukkan sikap yang sangat membatasi diri. Kurang luwes, kurang terbuka, kurang berani berfikir dan bertindak dilaur kotak padahal istilah “thinking out of the box” merupakan istilah yang sudah sangat umum.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa saya punya banyak teman dari berbagai kalangan, tetapi faktanya adalah bahwa sebahagian besar teman saya bukanlah mantan anggota GMKI. Sampai sekarangpun saya masih berteman baik dengan pak Eddy Syahrial, Herry Firdaus, Ary Tinendung yang sekarang menjadi pengurus pusat HMI.

Pandai membawa diri bukanlah berarti manjadi alas kaki bagi yang lain. Bagi saya, pandai membawa diri berarti cakap mengetahui kebutuhan orang lain dan cekap memberikan bantuan bila diperlukan.




Me-reposisi Peran GMKI
Apapun ceritanya saya kira sudah saatnya untuk me-reposisi peran GMKI dari organisasi yang terkesan eksklusif memjadi organisasi yang bertindak keluar dan tidak lagi mengurusi keperluan dan kebutuhan internal. Termasuk pribadi-pribadi yang ada didalamnya.

Yang kedua, GMKI harus sudah memulai menjalin kerjasama yang lebih tulus dan terbuka dengan organisasi ekstra-kurikuler lain. Kerjasama ini harus ditujukan kepada perluasan pemberdayaan tenaga kesehatan masyarakat dan diwujudkan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang sederhana dan berdampak positip dan luas bagi masyarakat. Baik dalam bentuk forum-forum diskusi bersama maupun aktifitas nyata di masyarakat.

Pengurus GMKI harus mampu menjembatani jarak prikologis dengan para senioren. Berbagai upaya harus dijalankan tanpa rasa takut dan segan bahwa senioren tersebut adalah sekaligus dosen di FKM. Partisipasi yang rendah dari senioren saya kira bukan saja karena senioren memang manjaga jarak dengan GMKI tetapi juga sikap dan gaya yang kurang taktis, kurang strategis dan kurang luwes dari pengurus GMKI Komisariat FKMU USU.

Mungkin saja perlu catchword baru yang dapat menggalang persatuan dan kesatuan serta kerjasama dengan berbagai pihak. Catch word UOUS dan salam pergerakan seolah-olah membawa pikran kita kepada situasi peperangan padahal sejatinya kita sedang hidup dalam masa damai-damai saja.

Pola-pola komunikasi dan bertindak kelihatannya harus diperbaiki supaya jauh dari kesan eksklusif dan berpihak. Sudah terbukti bahwa jaringan akan menjadi kunci keberhasilan. Apabila kita tidak mau terbuka dan membentuk jaringan maka lebih baik GMKI dibubarkan saja dan kita kembali ke gereja masing-masing.

Selamat ulang tahun, selamat bertransformasi dan salam sehat.

Tuhan memberkati. Amin!
  •  
GMKI Komisariat FKM USU GMKI Komisariat FKM USU Author

FACEBOOK