REPOSISI GMKI KOMISARIAT FKM USU DITENGAH MASALAH KESEHATAN LOKAL
Rabu, Mei 02, 2012
REPOSISI
GMKI KOMISARIAT FKM USU DITENGAH MASALAH KESEHATAN LOKAL
Oleh:
Bisara L. Tobing
Pendahuluan
Peran
GMKI Komisariat FKM USU ditengah-tengah masalah kesehatan local kelihatannya
sangat minmal kalau tidak mau dikatakan tidak ada sama sekali. Beberapa
kegiatan yang saya ikuti masih terbatas kepada diskusi-diskusi dengan tema-tema
yang kurang menggigit atau latihan kepemimpinan. Hasilnya sdah pasti hanya
peningkatan pengetahuan dan wacana-wacana berbasis kekecewaan, ingin itu dan
ini tanpa tindak lanjut yang nyata, membumi.
Baru-baru
ini saya bertemu dengan dua orang adik-adik GMKI, tujuannya “meminta” masukan
apa yang bisa mereka lakukan. Menurut mereka, di semester ini mereka memiliki
banyak waktu luang dan tidak tau mau berbuat apa. Saya mengusulkan untuk
membuat forum diskusi. Mereka mengatakan bahwa itu sudah mereka lakukan. “Kalau
demikian kenapa kamu tidak mencoba menjadi relawan saja di berbagai lembaga
swadaya masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan pastilah mereka memiliki
bnayka kegiatan. Pengetahuan dan pengalaman di dunia nyata akan bertambah, kamu
bisa merasakan groove-nya, dan syukur-syukur kamu bisa diangkat menjadi staf
honorer”, kata saya.
Kami
teruskan perbincangan dengan mendiskusikan beberapa hal yang harus mereka
lakukan untuk mewujudkan hal tersebut. Akhirnya merekapun permisi pulang.
Makna dari
pertemuan
Bagi
saya, pertemuan singkat itu menceritakan banyak hal, apalagi kalau saya kaitkan
dengan berbagai pengalaman sebelumnya “bergaul” dengan komunitas GMKI
Komisariat FKM USU. Pertama, saya merasa sebagai akibat tidak adanya pembinaan
dari para senior, yang biasa disebut sebagai “senioren” maka para junior
menjadi seperti anak ayam kehilangan induk, tidak mengenali bahwa dalam dirinya
sebenarnya terkandung potensi yang sangat besar. Saya jadi teringat akan cerita
anak elang yang dibesarkan oleh induk ayam. Anak elang itu berperilaku
sebagaimana anak ayam, menganggap dirinya anak ayam, padahal, sejatinya dia
adalah anak elang yang memiliki benyak kelebihan dibandingkan dengan anak ayam.
Salah satunya adalah bawa dia bisa terbang. Saya pernah mencoba mengeksplorasi
seberapa dekat hubungan antara mahasiswa sebagai anggota GMKI dengan para dosen
sebagai senioren. Kesan saya, jarak antara keduanya sangat jauh. Saya harus
terus terang mengatakan bahwa hanya ada satu dosen yang dekat yaitu teman saya
Prof. Dr. Albiner Siagian. Satu lagi adalah Prof. David H. Simanjuntak, sayang
beliau sudah pensiun. Yang lain? No comment! Refleksinya sederhana. Bila GMKI
Komisariat FKM USU melakukan kegiatan maka partisipasi dosen sangat miskin.
Baik dalam perayaan Paskah, Natal dan kegiatan lainnya. Support yang didapat
juga sangat minimal, jangan-jangan hanya “bantu doa doing”. Menurut saya, inilah
jadinya kalau burung elang tidak mau membesarkan anaknya.
Kedua
adalah masalah cara pandang atau mind set. Pengalaman saya bekerja dengan
beberapa anggota GMKI Komisariat FKM USU menunjukkan bahwa mereka bukanlah
orang yang dapat diandalkan. Saya tidak tahu apakah saya yang kurang beruntung
atau memang demikianlah adanya. Pernah dalam satu kegiatan saya berinisitaif
merekrut beberapa, dalam briefing saya kemukakan bahwa kalian harus merasa
beruntung karena tidak banyak orang yang memiliki kesempatan ikut kegiatan ini,
kalian akan memperoleh pengalaman, menambah panjang Curriculum Vitae dan
mendapatkan sedikit uang. Kelihatannya semua berjalan baik-baik saja sampai
mendekati hari H, mereka ber-ulah dengan mempermasalahkan honorarium padahal
dari awal dijelaskan bahwa dana untuk kegiatan sangat minim. Saya sangat kecewa
dan mengatakan “jangan pernah berpikir bahwa saya membutuhkan saudara tetapi
sebenarnya saudaralah yang membutuhkan saya”. Saya katakan demikian karena
memang demikianlah adanya. Hal tersebut sangat membekas sampai saat ini,
sehingga saat ini saya menjadi sangat selektif dalam mengajak anggota GMKI
untuk bekerja sama.
Posisi GMKI
Komisariat FKM USU
Saya
tidak tahu pasti bagaimana posisi GMKI Komisariat FKM USU ditengah masyarakat
kampus dan masyarakat pada umumnya. Tapi, bercermin dari beberapa hal yang
mampu saya cermati, saya rasanya tidaklah terlalu bermakna. Mungin ada baiknya
kita pertanyakan kembali, apa sebenarnya GMKI? Apa peran yang kita harapkan
atau apa ekspektansi kita dari GMKI? Apa peran yang ingin kita perankan didalam
organisasi yang disebut sebagai GMKI Komisariat FKM USU?
Saya
tidak percaya “lagi” bahwa GMKI dilandasi oleh ritual-ritual kegamaan. Jika
memang itu yang diharapkan maka menurut saya, gereja-lah tempatnya. Bukankah
dalam keseharian, kita masing-masing adalah
jemaat gereja dan mungkin saja aktif diberbagai kelompok/persekutuan
doa? Sedangkan, apabila GMKI dianggap sebagai wadah bagi mahasiswa Kristen,
pertanyaan saya adalah “untuk apa”? Untuk apa kita punya ember sebesar lapangan
Benteng atau lapangan Merdeka kalau tidak ada isinya?
Kalau
dikatakan bahwa GMKI adalah saluran untuk menyuarakan aspirasi mahasiswa
Kristen maka saya akan ablik bertanya, “apa kiranya”? Jaman sudah sangat jauh
berbeda bila dibandingkan dengan saat saya menjadi mahasiswa hamir tigapuluh
tahun yang lalu. Toh organisasi mahasiswa tidak punya suara dalam pemilihan
dekan atau rector. Dalam penentuan kepala departemen juga tidak.
Ditengah-tengah
kehidupan organisasi ekstra-kurikuler di kampus, menurut saya, GMKI tidak lebih
menonjol jika dibandingkan dengan organisasi setingkat seperti HMI, GMNI dan
yang lainnya. Kegiatannya juga sangat rutin, LDK dan peringatan hari besar
Kristen plus bakti social. Yang bersifat kerjasama antar organisasi tidak
pernah saya dengar. Alasannya macam-macam, padahal, setidaknya saya sudah dua
kali bekerjasama dengan HMI dalam acara yang saya pandang cukup penting.
Seringkali, dalam tukar pendapat dengan anggota GMKI, ada persepsi bahwa HMI
adalah HMI dan GMKI adalah GMKI, padahal HMI bukanlah musuh GMKI. Sikap
memandang perbedaan ini akan mempertegas
jarak sehingga ruang untuk berkegiatan juga semakin sempit. GMKI hars mampu
bekerjasama dengan HMI, GMNI dan organisasi sejenis lain.
Ditengah
masyarakat, GMKI seolah-olah sebuah organisasi mahasiswa yang eksklusif. Belum
pernah saya dengar ada karya yang bisa menjadi ingatan masyarakat. Seberapa
kerap GMKI mencuri hati masyarakat?
Bagi
saya, berorganisasi adalah sarana untuk berlatih. Semakin beragam dan dinamis makan
akan semakin baik pula hasilnya.
Pandai membawa
diri
Saya
mengharapkan agar anggota GMKI semakin pandai membawa diri. Punya banyak teman
dan relasi akan sangat banyak gunanya. Yang saya amati, anggota GMKI seringkali
menunjukkan sikap yang sangat membatasi diri. Kurang luwes, kurang terbuka,
kurang berani berfikir dan bertindak dilaur kotak padahal istilah “thinking out
of the box” merupakan istilah yang sudah sangat umum.
Saya
tidak ingin mengatakan bahwa saya punya banyak teman dari berbagai kalangan,
tetapi faktanya adalah bahwa sebahagian besar teman saya bukanlah mantan
anggota GMKI. Sampai sekarangpun saya masih berteman baik dengan pak Eddy
Syahrial, Herry Firdaus, Ary Tinendung yang sekarang menjadi pengurus pusat
HMI.
Pandai
membawa diri bukanlah berarti manjadi alas kaki bagi yang lain. Bagi saya,
pandai membawa diri berarti cakap mengetahui kebutuhan orang lain dan cekap
memberikan bantuan bila diperlukan.
Me-reposisi
Peran GMKI
Apapun
ceritanya saya kira sudah saatnya untuk me-reposisi peran GMKI dari organisasi
yang terkesan eksklusif memjadi organisasi yang bertindak keluar dan tidak lagi
mengurusi keperluan dan kebutuhan internal. Termasuk pribadi-pribadi yang ada
didalamnya.
Yang
kedua, GMKI harus sudah memulai menjalin kerjasama yang lebih tulus dan terbuka
dengan organisasi ekstra-kurikuler lain. Kerjasama ini harus ditujukan kepada
perluasan pemberdayaan tenaga kesehatan masyarakat dan diwujudkan dalam bentuk
kegiatan-kegiatan yang sederhana dan berdampak positip dan luas bagi
masyarakat. Baik dalam bentuk forum-forum diskusi bersama maupun aktifitas
nyata di masyarakat.
Pengurus
GMKI harus mampu menjembatani jarak prikologis dengan para senioren. Berbagai
upaya harus dijalankan tanpa rasa takut dan segan bahwa senioren tersebut
adalah sekaligus dosen di FKM. Partisipasi yang rendah dari senioren saya kira
bukan saja karena senioren memang manjaga jarak dengan GMKI tetapi juga sikap
dan gaya yang kurang taktis, kurang strategis dan kurang luwes dari pengurus
GMKI Komisariat FKMU USU.
Mungkin
saja perlu catchword baru yang dapat
menggalang persatuan dan kesatuan serta kerjasama dengan berbagai pihak. Catch word UOUS dan salam pergerakan
seolah-olah membawa pikran kita kepada situasi peperangan padahal sejatinya
kita sedang hidup dalam masa damai-damai saja.
Pola-pola
komunikasi dan bertindak kelihatannya harus diperbaiki supaya jauh dari kesan
eksklusif dan berpihak. Sudah terbukti bahwa jaringan akan menjadi kunci
keberhasilan. Apabila kita tidak mau terbuka dan membentuk jaringan maka lebih
baik GMKI dibubarkan saja dan kita kembali ke gereja masing-masing.
Selamat
ulang tahun, selamat bertransformasi dan salam sehat.
Tuhan
memberkati. Amin!