Our Diary.
to Share our Life Events

Wajah Kader GMKI FKM USU Dewasa Ini (Opini)

Oleh : Josia Yosandi Simamora
Tanggal 3 Maret mungkin bukanlah tanggal yang istimewa bagi kebanyakan orang, karena tidak ada yang spesial bagi mereka di tanggal tersebut. Namun tidak demikian halnya bagi para mahasiswa yang tergabung dalam wadah organisasi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Fakultas Kesehatan Masyarakat-Universitas Sumatera Utara, yang belum beberapa lama berselang memperingatinya sebagai hari berdirinya organisasi GMKI di Fakultas Kesehatan Masyarakat USU. GMKI FKM USU telah genap berusia satu dasawarsa, yang  berarti GMKI telah bergerak dan berkarya di kampus FKM USU selama kurang lebih sepuluh tahun. Sepuluh tahun yang telah dilalui organisasi ini sedikit banyak telah memberikan warna bagi kehidupan kemahasiswaan di kampus FKM USU.
            Banyak dinamika yang menghiasi perjalanan GMKI FKM USU dalam mempertahankan eksistensi dan pewujudan visi-misinya di dunia perguruan tinggi. Dari awal berdiri hingga sekarang, GMKI senantiasa diperhadapkan kepada persoalan-persoalan serta hambatan yang tanpa disadari telah berperan membentuk karakter organisasi GMKI. Salah satu persoalan yang dihadapi oleh GMKI saat ini adalah sulitnya merekrut mahasiswa baru untuk bergabung ke GMKI khususnya yang terjadi di Komisariat FKM USU. Minat mahasiswa baru untuk masuk organisasi kemahasiswaan sudah semakin menurun.
Jadi timbullah beberapa pertanyaan, apakah kegunaan berorganisasi dan apa yang ditawarkan organisasi itu sendiri? Apakah perbedaan orang yang masuk organisasi dengan yang tidak? Apa perbedaan GMKI dengan organisasi lainnya? Bagaimana GMKI dewasa ini khususnya di FKM USU? Apa yang menjadi koreksi dari realita yang ada?  
Manusia Hidup di dalam Sebuah Organisasi
Dalam kehidupannya seseorang tidak akan pernah lepas dari organisasi, walaupun seseorang bisa saja tidak terlibat secara langsung di dalam organisasi tetapi aktivitasnya dipengaruhi oleh organisasi.  Hampir sebagian besar tujuan manusia dapat tercapai jika manusia berorganisasi. Seperti perkataan Aristoteles bahwa manusia itu pada dasarnya adalah makhluk sosial (zoon politicon) yang membutuhkan orang lain untuk keberlangsungan hidupnya.
Chester I Barnard (1938) menggambarkan kendala yang dihadapi individu ketika ingin melakukan sesuatu sendirian. Yang pertama ialah “kemampuan biologikal individu yang bersangkutan”. Kemampuan biologikal dalam artian kemampuan jasmani dari individu yang meliputi otak (pemikiran) dan tenaga. Individu sebagai seorang manusia biasa memiliki sebuah kapasitas kerja yang tentu memiliki limit kemampuan dalam melakukan aktivitasnya. Bergerak dari hal tersebutlah maka seorang manusia membutuhkan manusia lainnya untuk membantu pekerjaannya.
Yang kedua ialah “ faktor fisik dari lingkungan individu”. Berbicara mengenai faktor fisik maka berkaitan dengan lingkungan yang tampak oleh mata kita, yaitu alam sekitar yang mana manusia hidup di dalamnya. Manusia hidup bergantung pada alam yang mana menjadi tempat manusia untuk hidup, berkembang, makan, minum dan melakukan semua aktivitas hidupnya. Manusia tidak bisa melawan alam namun dapat mengendalikannya agar jangan sampai rusak dan menimbulkan bencana yang nantinya akan merugikan kehidupan manusia itu sendiri. Melestarikan lingkungan hidup merupakan upaya mengendalikan alam, yang tentu tidak dapat dilakukan seorang diri. Jadi sudahlah jelas bahwa manusia harus hidup bersama dalam sebuah kelompok (organisasi), selain untuk memenuhi kebutuhannya juga agar mendapatkan keuntungan untuk dirinya sendiri.
Organisasi Kemahasiswaan
            Di Perguruan Tinggi, khususnya di Universitas Sumatera Utara kita mengenal dua jenis organisasi, yaitu organisasi Internal dan organisasi Eksternal.Organisasi Internal merupakan organisasi yang disahkan pihak Rektorat dan mendapatkan dana operasional dari Universitas, sedangkan organisasi Eksternal tidak disahkan oleh Rektorat dan mengusahakan dana operasional organisasi secara mandiri. Salah satu contoh organisasi yang termasuk organisasi Internal adalah Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) USU dan contoh organisasi Eksternal adalah GMKI, GMNI, HMI dan masih banyak lagi. Setiap Organisasi Kemahasiswaan baik Internal maupun Eksternal pasti memiliki visi dan misi serta peraturan organisasi yang sifatnya mengikat bagi anggotanya. Dan karena masing-masing organisasi memiliki visi dan misi yang berbeda satu sama lain maka setiap organisasi memiliki ciri khasnya masing-masing.
            Dalam perjalanannya setiap organisasi membutuhkan anggota baru sebagai kebutuhan  regenerasi di tubuh organisasi.Calon anggota baru yang potensial untuk direkrut itu adalah para mahasiswa baru dan mahasiswa yang belum masuk organisasi manapun. Untuk menarik simpati dan ketertarikan calon anggota baru maka setiap organisasi akan berusaha menunjukkan kelebihan dari organisasinya dan apa yang ditawarkan oleh organisasi. Tak jarang terjadi konflik dan gesekan antara organisasi satu dengan yang lain karena persoalan merekrut calon anggota, dan tidak jarang kedua belah pihak saling menjelekkan satu sama lain . Kejadian seperti itu telah menjadi fenomena yang umum yang menjadi dinamika dalam kehidupan kampus .
 Anggota baru yang telah bergabung ke dalam sebuah organisasi berarti  ia telah menerima apa yang menjadi visi dan misi organisasi dan memiliki kewajiban sesuai yang tercantum dalam peraturan organisasi . Selanjutnya anggota baru beserta anggota organisasi lainnya, yang selanjutnya disebut kader akan dikaderi dengan pola pengkaderan organisasi dengan materi-materi yang ditetapkan organisasi. Salah satu materi pengkaderan yang seolah wajib di setiap organisasi kemahasiswaan adalah “kepemimpinan”, dimana setiap kader harus memahami dan menumbuhkan sikap sebagai seorang pemimpin. Kader-kader inilah yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin dalam organisasi tersebut.
Blanchard dan Hersey (1992) menggunakan kata “mempengaruhi prilaku” dalam konteks kepemimpinan, tidak hanya diarahkan pada pencapaian tujuan organisasi semata.Dari teori diatas kita mendapat pengertian bahwa seorang pemimpin selain sebagai fungsi dalam pemrakarsa tindakan organisasi dan memecahkan masalah organisasi dalam kaitan  mencapai tujuan bersama juga menjadi panutan anggota organisasi yang dipimpinnya dalam bertindak dan bersikap.
Sikap Kepemimpinan dalam kaitannya dengan basic ilmu mahasiswa di perkuliahan dapat saling melengkapi. Mahasiswa yang disebut agen peubah (agent of change), yang nantinya setelah menjadi sarjana akan terjun mengabdi ke masyarakat perlu memiliki sikap kepemimpinan disamping menguasai ilmu pengetahuan. Itu semua dimaksudkan agar sarjana yang dihasilkan adalah mereka yang berilmu, kompeten, bertanggungjawab dan berintegritas.
GMKI Mempersiapkan Pemimpin
Keterampilan kepemimpinan tidak tercantum di kurikulum perkuliahan dan bukan didapatkan begitu saja.  Keterampilan tersebut kita dapatkan setelah beproses cukup lama dalam sebuah organisasi. Banyak organisasi yang dapat menjadi wadah pengembangan diri bagi mahasiswa untuk menumbuhkan sikap kepemimpinan. Salah satu organisasi mahasiswa yang dapat membina seorang mahasiswa menjadi pemimpin adalah organisasi GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia).
GMKI sesuai namanya yang mengandung kata “Kristen” adalah organisasi persekutuan mahasiswa Kristen yang bergerak dalam pelayanan di Perguruan Tingggi. Organisasi ini membina mahasiswa menjadi seorang pemimpin dengan prinsip-prinsip kepemimpinan Kristen. Hal ini berkaitan dengan salah satu dari tiga misi yang diemban GMKI seperti  yang tercantum dalam Anggaran Dasar GMKI Pasal 3  yaitu :“.......Mempersiapkan Pemimpin dan Penggerak yang ahli dan bertanggungjawab”. Pemimpin dan Penggerak yang ahli dan bertanggung jawab adalah mahasiswa yang menguasai ilmu pengetahuan sesuai dengan basic keilmuannya di kampus (tinggi iman), bersaksi, bersekutu dan melayani (tinggi ilmu), berintegritas, berkomitmen, dan bertanggungjawab (tinggi pengabdian).
Dalam proses membina dan mempersiapkan pemimpin, GMKI memiliki Pola Dasar Sistem Pendidikan Kader (PDSPK) yang dirumuskan setiap dua tahun sekali untuk mengakomodasi kebutuhan organisasi dan pengkaderan secara terpadu. Pola inilah yang menjadi acuan untuk proses pengkaderan sehingga dihasilkan kader seperti yang diharapkan. Selain kepemimpinan, kader GMKI juga dibina untuk memiliki keterampilan berbicara di depan umum (Retorika), Menulis (Jurnalistik), Manajemen, dan berfikir kritis serta sistematis.
Selama ini Organisasi GMKI dikenal secara baik menghasilkan kader-kader yang cukup berkualitas. Banyak senior-senior GMKI yang telah menduduki jabatan-jabatan strategis di pemerintahan, menjadi aktivis LSM yang vokal, pengusaha yang cukup sukses dan masih banyak lagi. Karena inilah GMKI sering dikatakan sebagai organisasi “Terminal Kader”, yang mana GMKI adalah sebuah tempat persinggahan mahasiswa untuk berproses di dalamnya, dan kemudian dilepas keluar untuk berkarya, bersaksi dan melayani di masyarakat, bangsa, dan negara.
GMKI di FKM USU
            GMKI Cabang Medan memiliki 17 Komisariat yang tersebar di wilayah Kota Medan, salah satunya adalah komisariat FKM USU yang mengadakan Rakom pertama pada tanggal 3 Maret 2001, yang menjadi hari berdirinya Komisariat di FKM USU.  Pada saat itu terpilihlah Suparlan Lingga sebagai Ketua dan Manotar Ambarita sebagai Sekretaris pertama GMKI Komisariat FKM USU1. Sampai saat ini GMKI FKM USU telah sepuluh kali mengadakan RAKOM dan sepuluh kali pula mengalami pergantian tampuk kepemimpinan.
            Wajah pergerakan GMKI FKM USU pada masa awal berdiri dengan saat sekarang ini sudah jauh berbeda, dikarenakan zaman yang telah berubah dan situasi kampus yang tidak seperti dulu lagi. Kader-kader GMKI FKM USU pada masa lalu memiliki peran aktif di kampus dengan menduduki posisi strategis di PEMA FKM USU dan Majelis Mahasiswa, bahkan pernah hampir memenangkan Pemilihan Gubernur PEMA FKM USU. Pada masa itu GMKI bisa dikatakan cukup memiliki pengaruh di kampus FKM USU.
            Kalau kita menyimak hal tersebut di atas, seakan ada yang hilang dari wajah GMKI yang dulunya amat disegani dan dipandang oleh organisasi lainnya di kampus. Melihat dinamika pergerakan GMKI saat ini di FKM USU, peran GMKI kurang begitu terasa di kampus. Beberapa tahun belakangan GMKI tidak begitu berperan aktif di PEMA, penulis mengatakan demikian karena di dalam PEMA tidak ada dijumpai kader GMKI seakan PEMA saat ini adalah milik organisasi tertentu.
            Salah satu yang menjadi alasan sehingga hal itu bisa terjadi adalah krisis kader dalam jumlah kualitas dan juga kuantitas. Anggota GMKI FKM USU saat ini berjumlah lebih seratus orang, termasuk Anggota Luar Biasa2, namun bisa dibilang yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan dan program kurang dari setengah dari jumlah seluruh anggota. Perkuliahan merupakan alasan yang paling sering menjadi alasan anggota ketika tidak dapat menghadiri program. Memang harus diakui kalau sistem SKS dan padatnya jadwal perkuliahan memaksa mahasiswa untuk lebih giat belajar sehingga meminimalkan waktu mahasiswa untuk berorganisasi. Gaya hidup modern dan individualis juga semakin terasa di kehidupan kampus, dan GMKI juga merasakan efeknya. Terlihat dari sulitnya GMKI merekrut mahasiswa baru untuk bergabung ke dalam organisasi GMKI.
Kualitas kader yang dimiliki GMKI saat ini juga belum mampu menjawab kebutuhan organisasi, hal itu tampak jelas dari semakin sulitnya menemukan sosok pemimpin dalam organisasi GMKI itu sendiri. Ironis memang, mengingat GMKI selama ini dikatakan sebagai organisasi Terminal Kader, yang siap melahirkan para calon pemimpin masa depan.
Berangkat dari permasalahan tersebut, GMKI FKM USU sudah berusaha menjawab kebutuhan organisasi akan kader yang berkualitas dan memiliki jiwa pemimpin. Hal ini dapat kita lihat dari program kaderisasi berkesinambungan yang telah dilakukan berupa LDK, dan melaksanakan KLK setelah 2 kali mengadakan LDK. Materi-materi yang diberikan dalam proses LDK dan KLK itu sendiri sudah mengikuti acuan PDSPK GMKI Cabang Medan. Namun output dari kegiatan LDK dan KLK yang dilakukan oleh GMKI FKM USU ternyata belum seperti yang diharapkan.
Apa Yang Bisa Kita Lakukan...
            . Organisasi GMKI mulai dari Komisariat, Cabang, hingga yang paling tinggi di tingkat Pusat mengalami yang namanya masa degradasi. Banyak sudah diskusi yang diadakan untuk membahas masalah kaderisasi di GMKI ini, namun belum juga menunjukkan sebuah perubahan yang nyata dalam proses membentuk kader yang ideal dan berkualitas.
Persoalan mengenai mandeknya proses pengkaderan dan krisis kepemimpinan di GMKI, perlu kita analisis bersama secara mendalam, menyeluruh,terpadu dan melibatkan seluruh civitas GMK. Dengan harapan dapat menemukan akar dan sumber permasalahannya dan kemudian secara bersama-sama mencari siasat dan solusi yang tepat, guna pembenahan aspek kualitas kader GMKI yang selama ini banyak dikeluhkan.
             Selain dengan duduk bersama mencari solusi, GMKI perlu menilik kembali sejarah masa pergerakan GMKI pada awal berdirinya, yang mana  terbentuk  dan bertumbuh dari kelompok-kelompok doa dan PA.  Sesuai Visi GMKI yang tercantum dalam AD GMKI Pasal 1 “ Menghadirkan Syalom Allah di Perguruan Tinggi”. Realita yang terjadi selama ini adalah, GMKI terlalu larut dan keasyikan menyoroti jalannya pemerintahan, kasus korupsi para politisi tanah air dan hal lainnya yang berbau aksi dan demonstrasi tanpa terlebih dahulu membenahi aspek spiritualitas.
Seorang kader GMKI idealnya harus memiliki keimanan dalam hal ini berdoa, bersekutu, bersaksi dan melayani, memiliki ilmu pengetahuan, dan mengabdi pada masyarakat.Agar dapat memiliki ilmu yang tinggi, dan tinggi pengabdian, maka haruslah terlebih dahulu kita membenahi keimanan kita dengan kembali kepada dasar pergerakan dan pelayanan kita yaitu Alkitab.
**Juara II Lomba tulisan artikel (opini) "Satu Dekade Perjalanan GMKI FKM USU".
GMKI Komisariat FKM USU GMKI Komisariat FKM USU Author

FACEBOOK