GMKI FKM USU YANG DIIMPIKAN (Opini)
Rabu, Mei 04, 2011
Oleh : Arito Silaban
Profil Sarjana kesehatan Masyarakat
Sebagai seorang mahasiswa FKM USU tentulah harus tahu terlebih dahulu Profil seorang sarjana kesehatan masyarakat. Profil disini arti sederhananya kompetensi yang harus dimiliki seorang sarjana kesehatan Masyarakat ketika menamatkan kuliahnya di kampus. Apa apa saja kompetensi yang dimaksud? Menurut Soekidjo, 2003, ahli kesehatan masyarakat harus pintar dalam mengadvokasi, mampu dalam pemberdayaan masyarakat terutama di bidang kesehatan contohnya, melakukan penyuluhan, pengorganisasian, dan pelatihan kepada masyarakat. Dengan kata lain harus komunikatif, progressif, ahli berpidato dan lain-lain. Apabila mahasiswa sudah paham hal di atas, tentu akan ada niat untuk mencapainya. Seorang sarjana kesehatan masyarakat harus bisa menganalisis masalah, memilah, mendefinisikan masalah, menghubungkan fenomena di bidang kesehatan, dan menyusun pemecahan masalah terutama dibidang kesehatan. Dengan kata lain sorang sarjana kesehatan harus bisa berpikir metodologis yaitu cara berpikir untuk menghasilkan solusi pemecahan masalah secara sistematis, logis, empiris, rasional (ilmiah).
Kemudian timbul pertanyaan, apakah Standard Kompetensi di atas dapat dicapai dengan kuliah di FKM USU saja?. Apakah sistem perkuliahan di FKM USU sudah sesui dengan harapan? Apakah dosen-dosen di FKM USU melatih mahasiswa dan mendidik mahasiswa menjadi ahli kesehatan yang dimaksudkan di atas? Dan apakah mahasiswa mengetahui hal tersebut? Kita tentu dapat menilai sistem perkuliahan yang ada di FKM USU saat ini, dan boleh kita katakan belum sesuai dan belum mengarah ke sana. Di FKM USU, sering kita diperhadapkan dengan sistem perkuliahan yang monoton, dosen mengajar satu arah, dimana mahasiswa hanya sebagai pendengar ceramah dari para dosen. Disamping itu, sangat jarang mahasiswa dilatih berbicara, contohnya menyuluh tentang kesehatan atau melatih yang lainnya, hanya diberi tugas membuat makalah atau paper sebagai syarat untuk menambah nilai mahasiswa. Selanjutnya, perkuliahan di FKM USU cenderung hanya berorientasi ke nilai mahasiswa. Oleh karena itu, sangat disayangkan, ternyata banyak alumni dari fakultas ini, tidak memiliki skil yang memadai dan bahkan tidak jarang alumni tidak mampu mampu mengimplementasikan ilmu yang didapatkan dari perkuliahan(kognitif) di masyarakat. Untuk itu perlu adanya wadah untuk membantu mahasiswa dalam menggapai standard kompetensi tersebut. Organisasi hadir disana, dimana organisasi sebagai Elementary School diharapkan dapat memenuhi kebutuhan mahasiswa yang tergabung di dalamnya.
Minat, bakat dan aktivitas yang dilakukan mahasiswa FKM USU
Tuhan memberikan talenta(bakat) kepada setiap manusia, dan bakat yang diberikan berbeda-beda bentuknya. Ada orang yang berbakat menyanyi, berbicara, main musik, olahraga, menulis dan lain-lain. Demikian juga dengan minat, manusia mempunyai minat yang berbeda-beda. Contoh, ada orang yang berminat membaca, diskusi, bernyanyi, olahraga, menulis dan lain-lain.
Setiap manusia melakukan perenungan dan mencari apa yang menjadi talenta yang diberikan Tuhan padanya. Ketika manusia sudah menemukan talenta, contohnya seseorang telah menemukan bakat bernyanyi, awalnya dia akan mencari tempat/wadah dimana dia dapat menggali dan mengembangkannya. Contohnya ada beberapa mahasiswa baru stambuk 2010 telah bergabung di Konsolasio yaitu paduan suara yang terkenal dengan kualitas nya yang bagus. Demikian juga dengan minat, seseorang akan mencari wadah dimana minatnya dapat tersalurkan, contoh seseorang berminat berdiskusi, secara otomatis dia akan memilih bergabung dengan Kelompok Diskusi dan Aksi Sosial. Mereka mengharapkan bergabung di wadah tersebut dan berkembang disana, tapi belum tentu mereka akan betah bernaung disana.
Masih ada faktor-faktor penghambat yang dapat mengakibatkan mereka keluar dari wadah tersebut, contohnya masalah kenyamanan, dan persekutuan disana.
Demikian juga halnya dengan keberagaman mahasiswa FKM USU, setiap mahasiswa memiliki minat, bakat, kegemaran, hobi yang berbeda beda. Banyak mahasiswa yang berbakat bernyanyi, berbicara, menulis dan sebagainya. Kemudian mempunyai hobi yang berbeda beda, ada yang hobi bermain bola, menonton, bermain games elektronik. Sudah tentu mahasiswa lebih tertarik apabila kita mengajak mereka mengikuti kegiatan yang sesuai dengan minat mereka dan mengajak mereka bergabung dengan suatu wadah. Meskipun seperti telah dijelaskan di atas masih perlu diperhatikan agar mereka betah di wadah tersebut.
Coba kita amati aktivitas mahasiswa FKM USU pada saat tidak lagi masuk kuliah di kelas. Kita dapat melihat kebanyakan mahasiswa akan duduk Di Sanggar Akademik melakukan aktivitas On Line selama berjam-jam, dan itu terjadi hampir setiap hari. Sangat baik ketika On Line, mahasiswa mengakses informasi, mengerjakan tugas kuliah, namun saya berani mengatakan bahwa melakukan hal di atas tidaklah terlalu memakan waktu yang lama sampai berjam jam. Jadi timbul pertanyaan, apa yang mereka kerjakan? Penulis menyarankan kita tidak langsung berpersepsi negatif terhadap mereka. Memang ketika fenomena seperti itu ada, kemungkinan besar kita berpikiran bahwa mereka bermain main, main facebook dan lain-lain. Selain di sanggar, tidak sedikit mahasiswa yang bermain-main Di Kantin FKM USU. mereka menghabiskan waktu berjam-jam di sana.
Mahasiswa adalah kaum intelektual
Kaum intelektual melekat pada diri seorang mahasiswa, karena mahasiswa adalah orang-orang yang sehari-harinya dianggap tugasnya belajar dan belajar. Mahasiswa mendalami ilmu sesuai dengan jurusannya masing masing. Berbeda dengan pelajar yang pada dasarnya harus dibimbing dan diarahkan terlebih dahulu baru mengerti apa yang harus diperbuat. Idealnya seorang mahasiswa harus aktif mencari ilmu, menganalisis serta mendalaminya sampai mereka paham dan menguasainya.
Latar belakang kekristenan
Di dalam teori kompormitas pada komunikasi, yaitu kecenderungan sejumlah orang melakukan sesuatu yang sama karena kesamaan karakteristik. contohnya jika ada permasalahan yang menyangkut sara, mahasiswa FKM USU yang beragama Kristen akan sangat mudah dikumpulkan dan antusiasnya akan tinggi. Oleh karena itu jika ada wadah (organisasi) yang dapat mempersatukan mahasiswa kristen, menampung aspirasi dan menyediakan kebutuhan mereka, menurut teori di atas cenderung mudah bergerak dan organisasi itu akan cepat berkembang.
Lalu bagaimana keberadaan organisasi kekristenan di FKM USU?. jika mengacu ke teori di atas, idealnya GMKI akan cepat berkembang. Namun faktanya GMKI di FKM USU tidak menjadi organisasi yang besar disana.. Pertanyaannya, mengapa demikian?
GMKI FKM USU
Organisasi GMKI yaitu organisasi mahasiswa yang berbasis Kekristenan hadir di FKM USU. Ada pun visi organisasi ini adalah terwujudnya kedamain, kesejaheraan, keadilan, keutuhan ciptaan dan demokrasi di Indonesia berdasarkan kasih. Dan misinya sangat jelas yaitu mengajak mahasiswa dalam mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat, membina mahasiswa Kristen , mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin yang ahli dan bertanggungjawab. Tidak ada yang buruk dengan GMKI FKM USU, justru organisasi ini memiliki nilai-nilai yang sangat baik yang bisa menjadi pedoman hidup baik selama kuliah maupun nantinya di masa yang akan datang. Organisasi ini adalah wadah mahasiswa untuk menggali dan mengembangkan potensi dirinya, yaitu minat dan bakatnya. Selain itu di organisasi ini mahasiswa dilatih kemampuan berbicaranya, dan bersosialisasi.
Oleh karena itu perlu diteliti lebih jauh, bagaimana seharusnya sebuah organisasi GMKI FKM USU berada. Kita mulai dengan pertanyaan bagaimana caranya membuat organisasi ini mempunyai nilai tawar kepada mahasiswa? Apakah GMKI sudah dapat menjadi wadah untuk menampung minat dan bakat mahasiswa, sehingga kecenderungan di awal mahasiswa tertarik bergabung di dalamnya? Dan apakah GMKI di FKM USU memberikan kenyamanan kepada kader yang baru bergabung? Atau pertanyaan sederhananya apa yang menjadi ciri khas GMKI FKM USU?(ciri khas yang positif).
Instrospeksi dan ciri khas
Kata introspeksi diri tepat untuk GMKI FKM USU. Jauh sebelumnya kita harus berpikiran maju dengan cara melihat kekurangan kita, sehingga dapat diperbaiki dan ditingkatkan kualitas organisasi baik pelayanannya maupun peningkatan kapasitas kadernya.
Saya menyampaikan pendapat saya tentang GMKI FKM USU. Saya mengawali dari pengalaman saya selama bergabung di organisasi ini, telah banyak suka duka, pujian dan sindiran dari berbagai pihak terutama dari mahasiswa FKM USU. Sama seperti di negeri ini, tetap ada pro kontra ada yang mendukung, suka, senang, berpikiran positif terhadap kepemimpinan Presiden SBY dan ada juga yang tidak puas, bahkan tidak suka. Demikian juga dengan keberadaan GMKI FKM USU ini. Boleh kita lihat dari kesediaan mahasiswa FKM USU untuk bergabung disini, banyak mahasiswa yang tidak mau tahu tentang organisasi ini, dan terlihat dari banyaknya mahasiswa FKM USU enggan untuk dekat-dekat dengan orang GMKI. Setelah bergabung tidak sedikit yang akhirnya secara perlahan-perlahan keluar dari organisasi ini. Sebaliknya memang masih ada beberapa orang yang memandang organisasi ini baik. Contohnya masih ada beberapa mahasiswa yang mengikuti kegiatan yang dilakukan. Oleh karena itu, sebagai seorang kader GMKI, kita tidak usah merasa rendah diri.
Lalu, apa yang harus diperbuat?. Cukup sederhana, pertama: kita harus menciptakan ciri khas GMKI FKM USU. Ciri khas yang diciptakan contohnya berupa GMKI FKM USU menjadi wadah belajar Biostatistik, dan kadernya ahli di bidang tersebut. Disamping itu, kader GMKI terkenal pintar bicara di depan umum dan kritis, dan selalu ada stok kader yang bersaing sehat di Pema FKM USU. Dua ciri khas di atas sudah cukup membuat mahasiswa tertarik bergabung dengan GMKI FKM USU. Kedua kita berusaha untuk mengurangi citra buruk GMKI, contohnya kader yang lama tamat, ke depan dibuat usaha agar kader tidak terlalu lama tamat, citra buruk merokok dan kumpul-kumpul dikantin, meskipun penilaian ini relatif karena merokok di sebagian orang tidaklah sesuatu masalah, tapi bagi yang lainnya adalah masalah, namun sebagai mahasiswa kesehatan lebih baik kita berusaha mengurangi merokok.
Dengan mengutip kata orang pintar “Dimana ada keinginan, di situ ada jalan”. Jadi marilah berkarya. Penulis yakin bahwa kita dapat mewujudkan hal-hal di atas dan membawa perubahan kearah yang lebih baik, sehingga ke depan, eksistensi organisasi GMKI di FKM USU dapat teruji. Amin.
**Juara I Lomba tulisan artikel (opini) "Satu Dekade Perjalanan GMKI FKM USU".