Meraba Jejak Peran Kader GMKI di Dunia Kerja (Opini)
Rabu, Mei 04, 2011
Oleh : Lafandi Sitompul
Menulis tentang peran kader GMKI di dunia kerja mungkin lebih baik jika diuraikan oleh orang-orang yang sudah bekerja. Tetapi dalam anggapan saya mendefenisikan peran kader GMKI di dunia kerja juga harus dibuat oleh para anggota GMKI yang belum memasuki dunia kerja tersebut. Karena masa lalu pasti mempengaruhi masa depannya kemudian.Dan tulisan ini dapat digunakan sebagai bahan perbandingan antara pandangan murni seorang kader GMKI yang belum bekerja dengan memproyeksikan dirinya di masa mendatang dengan pandangan para anggota GMKI yang sudah mengalami realitas yang sebenarnya.
Beranjak dari hal ideal
GMKI mempunyai visi dan misi tersendiri yang termuat dalam AD/ART. Yaitu :
Visi :
Terwujudnya kedamaian, kesejahteraan, keadilan, kebenaran, keutuhan ciptaan dan demokrasi di Indonesia berdasarkan kasih.
Misi :
a.Mengajak mahasiswa dan warga perguruan tinggi lainnya kepada pengenalan akan Yesus Kristus selaku Tuhan dan Penebus dan memperdalam iman dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.
Terwujudnya kedamaian, kesejahteraan, keadilan, kebenaran, keutuhan ciptaan dan demokrasi di Indonesia berdasarkan kasih.
Misi :
a.Mengajak mahasiswa dan warga perguruan tinggi lainnya kepada pengenalan akan Yesus Kristus selaku Tuhan dan Penebus dan memperdalam iman dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.
b.Membina kesadaran selaku warga gereja yang esa di tengah-tengah mahasiswa dan perguruan tinggi dalam kesaksian memperbaharui masyarakat, manusia dan gereja.
c.Mempersiapkan pemimpin dan penggerak yang ahli dan bertanggungjawab dengan menjalankan panggilan di tengah-tengah masyarakat, negara, gereja, perguruan tinggi dan mahasiswa, dan menjadi sarana bagi terwujudnya kesejahteraan, perdamaian, keadilan, kebenaran dan cinta kasih ditengah-tengah manusia dan alam semesta.
Secara sederhana melalui visi misi ini kita dapat menggambarkan bagaimana profil seorang Kader GMKI.Pertama, seorang kader GMKI harus menjadi murid dan memuridkan dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. Filosofi menjadi murid tak ubahnya seperti ke duabelas murid Tuhan Yesus yang senantiasa belajar dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan misi Tuhan Yesus. Dengan membuat sebutan Sang Kepala Gerakan Yesus Kristus, secara langsung kader GMKI menegaskan kehidupannya adalah berpusat pada Kristus , kalau boleh saya menggunakan istilah Kristus-sentris. Dengan demikian proses menjadi murid dan memuridkan adalah bagian yang tidak bisa dinafikan dan hanya berhenti hanya pada saat kita mati. Memang dalam misi yang pertama seolah-olah hanya dibatasi pada saat duduk di perguruan tinggi, namun menurut pandangan saya hal itu bukanlah batasan,tapi hanya penekanan sasaran, karena GMKI mengandung unsur kata mahasiswa, sehingga wilayah yang menjadi sasaran utama adalah warga perguruan tinggi.
Kedua, seorang kader GMKI harus menjadi agen peubah yang memperbaharui masyarakat, manusia, dan gereja. Dunia adalah tempat yang dinamis,tidak pernah sama dan berubah terus-menerus. Dan kader GMKI “to present” selalu diarahkan dan diwacanakan untuk memperbaharui masyarakat, manusia, dan gereja secara kontiniu agar menjadi Kristus-sentris bukannya menjadi mamon-sentris. Sekiranya pun GMKI dan orang-orang di dalamnya tidak berbuat apa-apa, dunia akan selalu berubah tapi mengarahkan manusia ke dalam kebinasaan. Peran kita adalah memperbaiki arahnya menuju Kristus.
Ketiga seorang kader GMKI idealnya mampu menjadi pemimpin yang profesional dan bertanggung jawab dalam kehidupan nyata. Menjadi pemimpin tidak selalu merujuk pada posisi dan kekuasaan. Karena setiap manusia juga adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Secara spesifik kader GMKI diharapkan mampu menjadi pemimpin dan penggerak yang ahli dan bertanggung jawab. Dalam terjemahan saya ahli itu adalah professional di bidangnya, bertanggung jawab adalah mampu mewujudkan perilaku dan mewujudkan pilihan atau mengambil keputusan etis yang Kristus-sentris.
Terakhir setiap kader GMKI harus menjadi sarana mewujudkan perdamaian, kesejahteraan, keadilan, kebenaran, keutuhan ciptaan dan demokrasi di Indonesia. Dalam wacana kebangsaan dan Ke-Indonesiaan tempat kita tinggal, gambaran kader GMKI yang seharusnya adalah menjadi saluran perdamaian, kesejahteraan, keadilan, kebenaran, keutuhan ciptaan dan demokrasi baik dalam kehidupan social,kehidupan politik.
Konfrontasi Dengan Realita
Dalam buku Secercah Pemikiran yang dicetak untuk kalangan sendiri oleh GMKI FKM USU, beberapa senior menggunakan istilah yang cukup unik yaitu “Goncangan Iman”. Tentu untuk menuangkan pendapat tentang peran kader GMKI di dunia kerja tentunya tak akan lepas dari istilah ini. Atau paling tidak akan muncul istilah-istilah lain yang kurang lebih bermakna sama.
Ternyata realita tak seelok yang kita bayangkan. Biasanya istilah agent of change begitu mudahnya kita temukan berseliweran di mulut mahasiswa, aktivis, para pelayan rohani level mahasiwa dll. Apa yang terjadi pada kita dan mereka kadang-kadang cukup membuat kita malu terutama setelah berada di dunia kerja. Alih-alih menjadi agent of change, malah menjadi agent to changed (bukannya membawa perubahan, malah diubah keadaan). Disisi lain kita juga patut berbangga hati bagi mereka yang masih mau berjuang menegakkan nilai-nilai yang dianutnya selama ber GMKI.
Contoh realita :
1. Budi melamar di instansi pemerintahan. Sebenarnya nilainya cukup baik. Tetapi begitu mendengar ada peluang menyogok, sebelum keluar pengumuman dia melakukan suap agar diluluskan, lucunya orangtuanya malah mendukung.
2. Reni adalah seorang pegawai di salah satu instansi keuangan milik pemerintah. Suatu hari orangtuanya sakit keras butuh dioperasi. Sayangnya dia tak punya asuransi, di saat yang sama di meja kantornya sudah ada laporan proyek fiktif yang jika ditandatanganinya dia akan mendapatkan fee 30% bernilai puluhan juta rupiah.
3. Ali adalah seorang yang harus rela kehilangan pekerjaan beberapa kali, hanya karena tidak berkompromi dengan kebohongan rekan-rekan dan instansi tempatnya bekerja. Di keluarganya, dia malah dicap sebagai orang tolol dan tak punya pendirian.
Begitulah contoh sederhana realitas, yang tidak boleh kita pandang sebelah mata dan sering menempatkan kita pada posisi sulit terutama di dunia kerja yang tentu saja tak selamanya indah. Sehingga yang perlu kita catat adalah realitas menantang kita setiap hari dengan cara yang berbeda-beda, kompleks dan lebih rumit lagi.
Membangun Kembali Peran Kader GMKI di dunia Kerja
“Kita adalah rekan sekerja Allah” .Ucapan yang singkat dan sederhana. Tapi bisa menjadi kata-kata yang sangat efektif setiap kali kita mendapatkan goncangan iman ataupun bertubrukan dengan kenyataan. Bagaimana GMKI dan orang-orangnya menjadi rekan sekerja Allah, demikianlah peran GMKI dan kader GMKI di dunia kerja.
Menjadi rekan sekerja Allah berarti kita turut dalam proses penciptaan dan pemeliharaan terus menerus akan dunia dan segala isinya. Dunia yang ada dalam diri kita, dunia yang nyata dalam hidup kita sehari-hari, dalam perjalanannya secara mutlak kita bekerjasama dengan spirit/roh kudus. Dengan demikian dunia kerja bukanlah dunia kita sendiri, bukan semata persoalan menghasilkan uang, tapi ada nilai dan hal-hal yang harus kita bangun seturut kehendak Allah, sebagai mana kita menjadi rekan sekerja Allah.
Ada beberapa poin yang bisa dijabarkan dari hal ideal yang diturunkan dari Visi Misi GMKI untuk dikerjakan oleh kader GMKI yang mengaku rekan sekerja Allah :
a.Menjadi Teladan dan Membina Persekutuan
Kadang-kadang ada orang yang menilai keteladanan hanya dari prestasi semata. Prestasi hanyalah salah satu unsur, itupun tergantung ditujukan untuk apa dan siapa. Prestise yang hanya bermuara untuk kepentingan diri sendiri bukanlah teladan GMKI, karena GMKI menganut filosofi Tinggi Pengabdian pada salah satu tri panjinya. Selain itu sopan, ramah, jujur dan hal-hal lain juga harus dibudayakan setiap kader GMKI sebagai bagian dari keteladanan dirinya. Sekaligus hal itu menjadi kesaksian yang hidup bagi penganut agama lain.
Ada juga ungkapan peribahasa yang berkata : Sedapat mungkin jadilah manusia pencipta hal-hal baik, jika tak bisa, jadilah manusia yang memeliharakan hal hal baik yang sudah ada, dan jangan sekali-sekali menjadi manusia perusak. Karena itu keteladanan dimulai dengan tidak merusak hal-hal yang sudah ada misalnya tubuh kita dan lingkungan hidup.
Sementara itu persekutuan secara nyata juga harus diadakan oleh kader GMKI untuk menjaga komunikasinya dengan sesama dan dengan Tuhan, untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar sebagai rekan sekerja Allah. Jika pun tidak ada persekutuan di suatu lingkungan tempat kita bekerja, seyogyanya kader GMKI menjadi motor penggerak yang menggerakkan orang-orang untuk tetap hidup dalam persekutuan, berupaya menumbuhkan sebuah persekutuan baru, sehingga kesetiaan kepada Sang Kepala Gerakan dapat diwujudnyatakan.
b. Membawa kemajuan dan menyumbangkan ide-ide baru
Dalam tanggung jawab memperbaharui masyarakat dan gereja , kader GMKI dalam lingkungan kerjanya harus membawa kemajuan ke arah yang lebih baik dan dituntut kreatif dan mampu menyumbangkan ide-ide baru, jika tidak dimulai dari diri dari dan lingkungan kerja kita, mustahil rasanya membicarakan konteks yang lebih luas lagi.
c.Profesional dan bertanggung jawab
Soal kecerdasan, manusia Indonesia termasuk orang-orang GMKI bukanlah orang yang bisa disepelekan begitu saja. Tetapi betapa susahnya mencari orang-orang yang professional dan bertanggung jawab di negeri ini. Mungkin kita masih ingat salah satu pemimpin cabang kita tak kelihatan sampai sekarang, atau pemilihan pengurus pusat yang kabarnya diwarnai skandal bonus tiket pesawat. Tantangan kita sekarang adalah menjadi insan yang professional dan bertanggung jawab, seperti yang menjadi misi GMKI, yang selalu mampu mengambil keputusan dan tindakan yang berpusat kepada Kristus.
d.Selalu memperjuangkan perdamaian, keadilan, kesejahteraan, kebenaran, keutuhan ciptaan
Melaksanakan cara-cara damai bukan berarti berkompromi dengan ketidakbenaran. Tapi bisa menggunakan cara yang lembut tapi membawa perubahan. Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati adalah jurus jitu yang diajarkan dari firman Allah.
Kemudian cara berpikir global saat ini kadang-kadang lebih kuno dari insting binatang. Seolah olah manusia yang tak punya akses pendidikan atau kalah saing, boleh mati kelaparan, tertindas, jadi gelandangan, Kader GMKI harus menghempang cara berpikir global yang mengarah ke dehumanisasi itu. Di dalam bekerja. Kader GMKI tentu harus memperjuangkan nilai keadilan, kesejahteraan, kebenaran, dan keutuhan ciptaan, tanpa meniadakan kebutuhan dirinya sendiri. Ingat kebutuhan, bukan keinginan, karena keinginan yang terlalu banyak harus kita salibkan agar tidak menghalang-halangi jalan kita yang sempit.
Ut Omnes Unum Sint. Syalom.
**Juara III Lomba tulisan artikel (opini) "Satu Dekade Perjalanan GMKI FKM USU".