PERJALANAN GMKI KOMISARIAT FKM USU MASA BAKTI 2006-2007
Selasa, Mei 10, 2011PERJALANAN GMKI KOMISARIAT FKM USU
MASA BAKTI 2006-2007
Oleh: Gibeon J.P Silitonga
***
Sebuah momen yang paling berharga dimana kita dapat belajar dari pengalaman masa lalu demi masa depan. Hal inilah yang terlintas di benak saya ketika harus menuliskan perjalanan GMKI Komisariat FKM USU masa bakti 2006-2007. Dimana banyak tantangan dan hambatan yang di hadapi untuk menjalankan komisariat ini. Perjalananan komisariat ini akan saya mulai dari sebuah momen yang terpenting dalam komisariat
Rapat Anggota Komisariat (RAKOM)
RAKOM pada periode ini di laksanakan pada tanggal 6-7 mei 2006 dan 12-13 mei 2006, di gedung klasis GBKP pamen, padang bulan, medan. Pada awalnya RAKOM ini berjalan dengan baik namun ditengah acara, yaitu pada saat mendengarkan laporan pertanggung jawaban pengurus komisariat periode 2005-2006 banyak hal yang terjadi. Mulai dari perdebatan-perdebatan tentang ketua sampai kepada permasalah komunikasi diantara pengurus yang masih kurang baik. Pada saat penilaian, perdebatan diantara anggota dan Pengurus Komisariat (PK) semakin seru. Sampai-sampai diwarnai dengan isak tangis dari beberapa pengurus komisariat.
Sesudah selesai penyampaian dan penilaian laporan pertanggung jawaban pengurus komisariat maka RAKOM pun dilanjutkan dengan menetapkan garis-garis besar program (GBP) dan kebijakan umum organisasi (KUO), serta mengadakan pemilihan penanggung jawab.
Ada hal yang menarik pada saat pemilihan ketua komisariat. Pada waktu itu tidak ada satupun anggota yang bersedia untuk menjadi seorang ketua. Sidang diskorsing dengan tujuan untuk mencari calon ketua. Sesungguhnya hal ini bisa dijadikan salah satu indikator untuk menilai GMKI Komisariat FKM USU yang sudah mulai kehilangan kader-kader yang militan. Setelah melalui diskusi dan lobbi, maka salah satu anggota bersedia untuk menjadi ketua, yaitu; Doni Fransiskus Sinaga. Tentunya hal ini menjadikan saudara Doni dipilih secara aklamasi.
Berbanding terbalik dengan proses pemilihan ketua, pemilihan sekretaris diikuti oleh 4 orang calon yaitu: Dahliana Manullang, Rita M Turnip, Yunita F Simanjuntak, serta Enike Siregar. Setelah dilakukan pemilihan secara voting, maka saudara Dahliana Manullang terpilih menjadi sekretaris PK GMKI Komisariat FKM USU masa bakti 2006-2007. .
Tim Formateur
Setelah diadakan pemilihan penanggung jawab komisariat berikutnya RAKOM ini juga memilih tim yang bertugas membantu penanggung jawab terpilih untuk membentuk kepengurusan. Tata cara pemilihan tim ini diatur terlebih dahulu di sidang pleno hasil kerja dari panitia kerja. Nah setelah forum menetapkan maka terpilihlah saudara Doni Fransiskus Sinaga, Dahliana Manullang (mewakili penanggungjawab terpilih/ketua dan sekretaris terpilih), Taroni dan Elfrida Sitohang (mewakili pengurus demisioner/ketua dan sekretaris), serta saudara Leo Erikson Sitepu mewakili anggota peserta rakom. Tim yang terpilih ini berkerja selama 2 minggu untuk memilih dan menyeleksi pengurus komisariat setelah RAKOM selesai. Namun pada kenyataannya tim ini kesulitan untuk membentuk kepengurusan. Hal ini disebabkan oleh semakin berkurangnya kader-kader GMKI yang terpanggil untuk menjadi pengurus komisariat. Akhirnya tim formateur memutuskan untuk memilih anggota yang masih baru maper untuk mengisi struktur yang telah ditetapkan dalam RAKOM (struktur kepengurusan terlampir)
Sidang Pleno I
Sesudah kepengurusan komisariat lengkap maka diadakan pelantikan pengurus di pusat kegiatan Mahasiswa (PKM) GMKI Cabang Medan pada bulan Mei tahun 2006. Jumlah pengurus yang dilantik oleh Badan Pengurus Cabang sebanyak 13 orang.
Selanjutnya, pengurus mengatur waktu untuk mengadakan pertemuan selanjutnya untuk melakukan pembobotan, serta pembongkaran diri. Namun tidak seperti biasanya, apa yang telah disepakati oleh pengurus komisariat tidak berjalan sebagaimana mestinya, ini di karenakan ketua terpilih mengalami gangguan kesehatan untuk jangka waktu yang tak dapat dipastikan.
Setelah hampir tiga bulan vakum maka pengurus komisariat mengadakan pemberitahuan lowong jabatan kepada anggota, serta mengundang anggota untuk mengadakan rapat untuk memecahkan masalah tersebut. Maka anggota menyarankan agar ketua terpilih digantikan melalui sidang pleno I. Akhirnya Gibeon J.P Silitonga terpilih menjadi ketua menggantikan saudara Doni Fransiskus Sinaga. Sebelumnya Gibeon J.P Silitonga menjabat di wakil sekretaris pendidikan kader. Dengan terpilihnya saudara Gibeon menjadi ketua, maka posisi wakli sekretaris pendidikan kader jadi lowong. Pengurus kemudian memilih saudara Niel Bakara untuk menjabat sebagai wakil sekretaris pendidikan kader.
Pembobotan Pengurus
Sebelum melakukan sidang pleno II pada bulan September tahun 2006, pengurus komisariat terlebih dahulu mengadakan pembobotan pengurus komisariat. Pembobotan ini diadakan untuk menambah wawasan serta mempertajam daya analisa dari pengurus komisariat untuk memenuhi kebutuhan anggota komisariat. Pertimbangan utama pelaksanaan pembobotan adalah minimnya pengalaman para pengurus. Setelah menganalisa dari periode tahun sebelumnya maka pengurus komisariat menetapkan beberapa materi untuk dibahas di acara pembobotan tersebut. Beberapa materi tersebut adalah: analisa sosial yang dibawakan oleh Sahat Lumban Raja, SWOT yang dibawakan oleh Mesersius dan Komunikasi Efektif dan Team Work dibawakan oleh Jasmen Manurung. Pembobotan ini dilakukan di rumah saudara Hendra Simamora dan saudara Anicetus Marbun.
Sidang Pleno II
Setelah melakukan pembobotan, maka pengurus komisariat merencanakan mengadakan sidang pleno II yang bertujuan untuk untuk menetapkan program-program yang akan di jalankan selama keperiodean. Pengurus komisariat mengadakan Sidang Pleno II di PKM. Setelah selesai merancang program maka pengurus komisariat mengadakan sosialisasi program kepada seluruh anggota komisariat.
Inti Kebijakan, tujuan GMKI FKM USU
Pada RAKOM tanggal 6-7 mei dan 12-13 mei 2006 ditemukan beberapa permasalahan-permasalah yang dihadapi oleh komisariat, maka RAKOM memutuskan inti kebijakan adalah “optimalisasi fungsi bidang organisasi dan kominikasi dan pendididkan kader” dengan tujuan “penataan organisasi yang baik dan meningkatkan pemahaman anggota tentang konstitusi yang berlaku di GMKI, menjalin komunikasi yang baik antar pengurus maupun dengan antar anggota, senior members friends dan membina hubungan dengan organisasi yang lain, dan peningkatan kualitas kader baik intelektual maupun spritual dalam rangka pemantapan partisipasi organisasi di ketiga medan pelayanan”.
Arah atau Haluan Kebijakan GMKI FKM USU
Pada RAKOM tanggal 6-7 mei dan 12-13 mei 2006 telah ditetapkan GBPKUO untuk satu tahun keperiodean. Selanjutnya GBPKUO ini disederhakan oleh Pj ketua menjadi bentuk yang lebih sederhana. Setelah melihat kekuatan serta potensi yang ada di organisasi, maka ada bagian-bagian dari GBPKUO yang tidak dilakukan, atau dengan kata lain mengadakan pemilah-milahan. Penyederhanaan ini disebut dengan Arahan Strategi dan Kebijakan organisasi (ASKUO), maka yang menjadi arahan atau haluan pada periode 2006-2007 adalah
1. Membangun tata organisasi, sistem serta mekanisme kerja yang memampukan organisasi dapat bekerja efektif, efisien dan peka terhadap lingkungan.
2. Meningkatkan pemahaman serta pelaksanaan konstitusi dan peraturan yang berlaku di GMKI
3. Menjalin hubungan dengan organisasi lain dalam rangka pencapaian visi, misi dan tujuan organisasiGMKI
4. Pengembangan wacana dan pembinaan anggota sesuai dengan kapasitas GMKI komisariat FKM USU
Saya selaku Pj Ketua merasa kesulitan dalam menurunkan atau menyederhanakan GBPKUO menjadi ASKUO dikarenakan kurangnya pengalaman dan wawasan tentang organisasi GMKI dan juga waktu yang relatif singkat. Tetapi dengan bantuan beberapa senior saya dapat menyelesaikan ASKUO yang menjadi dasar penyusunan program-program oleh pengurus komisariat lainnya.
Perjalanan Program
Dalam menjawab inti kebijakan tersebut maka pengurus komisariat membuat program-program yang mengarah ke komunikasi dan kader. Beberapa program-program tersebut adalah :
Naik Gunung
Sesuai dengan arah kebijakan komsariat yaitu untuk memperbaiki komunikasi diantara pengurus maupun antara pengurus dan anggota, maka pengurus mengadakan kegiatan naik gunung Sinabung pada tanggal 22-23 oktober 2006. Program naik gunung tersebut juga diikuti dengan kegiatan penelaahan alkitab (PA) di kaki gunung Sinabung. setelah melakuakan PA, pengurus juga mengarahkan anggota untuk memasak dan memasang tenda sebagai tempat istirahat Kejadian-kejadian ini perlahan-lahan memberikan perbaikan terhadap pola komunikasi diantara anggota. Jumlah anggota yang mengikuti kegiatan ini adalah 21 orang.
Maper
Maper adalah salah satu program wajib dari cabang untuk merekut anggota baru yang akan menjadi generasi di GMKI itu sendiri. Maka untuk merekut anggota baru, pengurus komisariat mengadakan acara penyambutan anggota baru di Sibolangit. Namun acara kurang memberikan dampak yang baik, maka pengurus komisariat mengadakan sosialisasi kelas-kelas serta membagi-bagikan bosur yang berisikan tentang GMKI. Pada saat sosialisasi ini pengurus juga mengudang senior-senior yang sudah berpengalaman seperti saudara Jasmen Manurung, Bobok Simanjuntak serta Leo Erikson Sitepu. Pengurus juga mengadakan pendekatan personal dengan cara memberikan buku serta mengerjakan tugas-tugas dari calon anggota. Akhirnya ada 19 orang yang mendaftar untuk mengikuti MAPER. Dari 19 orang tersebut, 17 orang dinyatakan lulus dan 2 orang tidak lulus.
Pengadaan perlengkapan organisasi
Kebaktian adalah nafas dari pergerakan GMKI FKM USU. Namun dalam setiap melaksanakan kebaktian, pengurus komisariat menghadapi permasalahan yang sama dari tahun ketahun yaitu tidak adanya aset (gitar) yang bisa digunakan pada saat kebaktian. Pengurus selalu mengadakan peminjaman kepada komisariat lain untuk pengadaan peralatan kebaktian. Maka pengurus komisariat menghubungi beberapa senior untuk menggalang dana. Pada akhirnya dana terkumpul dan pengurus berhasil membeli satu dari duah buah gitar yang direncanakan.
English Club
Dengan melihat potensi-potensi yang dimiliki oleh komisariat serta untuk mengaktifkan kembali keinginan anggota untuk belajar bahasa inggeris maka pengurus maka pengurus komisariat mengadakan program english club. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa inggeris anggota, namun pada pelaksanaannya anggota kurang tertarik dan kurang memberikan dukungan kepada program ini, ini terlihat dari sembilan kali pertemuan jumlah anggota yang mengikuti kegiatan ini semakin berkurang, karena anggota lebih memilih bermain bola atau melakukan kegiatan lainnya. Untuk memperlancar english club ini maka pengurus komisariat menghubungi saudara Marlina Simbolon dan Vutry Maria Simarmata untuk menangani program ini.
Retreat
Rutinitas yang begitu padat membuat anggota kurang memperhatikan keadaan disekelilingnya. Keadaan ini membuat beberapa program kurang mendapat dukungan dari anggota komisariat. Maka dengan melihat keadaan ini pengurus komisariat membuat program wisata rohani yang menyegarkan jasmani dan rohani yang selalu melakukan rutinitas sehari-hari. Tetapi anggota kurang mendukung dengan program ini, karena pada keperiodean sebelumnya program ini sudah dibuat dan anggota merasa program ini kurang menarik, sehingga anggota menyarankan agar wisata rohani di gantikan reatreat agar pendalaman serta perenungan diri pun dapat dilakukan dengan hikmat.
Untuk memperlancara kinerja PK, maka pada tanggal 30 januari 2007 pengurus komisariat melantik team kerja retreat, team ini di koordinatori oleh saudari Rita Medawati Turnip, dan tim ini berjumlah 17 orang. Tim ini bekerja dengan pengurus komisariat untuk mempersiapkan kegiatan ini, mulai dari pencarian tempat sampai pada penggalangan dana. Dari 17 tim yang di lantik oleh pengurus komisariat ada beberapa tim yang kurang aktif tetapi itu tidak menghambat kinerja tim ini. Tim ini mengadakan penggalangan dana melalui beberapa aksi dana mulai dari aksi dana kripik, mie goreng dan aksi dana yang lainnya. Serta tim ini juga menggalang dana dari senior-senior GMKI baik dari internal maupun yang ekternal komisariat. Retreit ini direncanakan selama 3 hari, tim ini juga mengundang kakanda Rawalpen, pendeta Nelson Siregar, dan juga pendeta Edwin Sianipar, dan juga saudara Hardi Munthe. Adapun materi-materi yang dibawakan di retreat adalah pembongkaran diri, penelaahan Alkitab “Bangkit dan Bercahayalah”, profil seorang pelayan, dan talk show “Alamku, sahabat”.
Sesuai dengan yang diharapkan para peserta menikmati kegiatan ini. Acara ini membawa dampak perubahan yang besar bagi anggota, anggota lebih mengenal diri dan rasa persaudaraan pun tumbuh kembali ini terbukti dari cara memperhatikan satu sama lain retreat ini berlangsung di traning center KSPPM di parapat.
Catatan akhir
Hal yang menyenangkan bila sebuh tugas dapat diselesaikan dengan penuh rasa tanggung jawab hingga akhir keperiodean. Begitu banyak masalah-masalah yang terjadi di keperiodean. Timbulnya kejenuhan di antara pengurus, karena hampir semua pengurus adalah mantan pengurus pada keperiodean yang lalu. Dan hal yang paling menyakitkan di keperiodean ini adalah saat titik kejenuhan mencapai puncak banyak program yang terbengkalai, sampai dies natalis pun tidak dilaksanakan. Tapi semua masalah dan tantangan adalah sebuah pelajaran yang paling berharga. Saya cukup bersyukur, kaerna sekalipun banyak masalah, akhirnya kami dapat menyesaikan masa kepengurusan dengan baik.