Jumat, Mei 17, 2013
-->
KADER GMKI YANG MELAYANI
Oleh : Marlina M
Simbolon
Shallom, teman-teman!
Sudah selayaknya kita bersyukur atas penyertaan
Tuhan atas gerakan ini yang sudah menginjak usia 63 tahun. Sejak berdirinya,
sudah banyaklah yang Tuhan kerjakan melalui gerakan ini, kuantitasnya pun terus
bertambah dari level cabang hingga level komisariat di seluruh Indonesia.
Namun, apakah kuantitasnya tersebut dibarengi dengan peningkatan kualitasnya?
Kalau saya ditanya, saya akan menjawab ‘belum tentu’. Sebagai senior GMKI
Komisariat FKM USU yang pernah melayani, saya ingin memberikan pemikiran saya
tentang makna sebuah pelayanan seorang kader yang tentunya harus berkenan
kepada Tuhan, agar pelayanan itu sendiri tidak menjadi sia-sia.
Hakikat
seorang ‘murid’ Tuhan
Prinsip dasar kemuridan berbeda dari prinsip
dasar pendidikan dunia modern, yaitu seorang murid yang ketika itu dipilih
untuk magang bersama gurunya, sehingga melalui hidup bersama, terjadilah proses
belajar bersama, terdidik, tertempa, dan terbentuk dalam pengetahuan, karakter,
keterampilan, dan seluruh kepribadian secara utuh. Dalam bahasa Inggrisnya murid
adalah disciple, kata dasar yang
membentuk kata disiplin.
Tuhan Yesus memanggil para muridNya untuk
hidup, belajar dan melayani bersama Dia. Mereka dipilih oleh Tuhan Yesus bukan
dari kalangan kaum cendekia, ahli Taurat, atau orang-orang terpandang pada
waktu itu. Justru sebaliknya, Tuhan Yesus memakai orang-orang dengan pekerjaan
dan pengetahuan yang dianggap rendah (para nelayan), bahkan yang dianggap
sampah masyarakat (pemungut cukai) untuk menjadi murid (rasul) Kristus yang
menggetarkan dunia oleh hikmat dan kemampuan supranatural mereka serta pola
hidup mengasihi yang berbeda dari adat istiadat-hukum pada waktu itu.
Begitu juga dengan Saulus (alias Paulus),
sebelum bertobat adalah seorang penganiaya umat Kristen Yahudi yang tidak
segan-segan membunuh, namun pada akhirnya Tuhan sendiri yang memanggil dan
memperlayakkannya untuk menyiarkan kebenaran melalui pemberitaan Injil di
beberapa kota.
Dalam Matius
16:24-26 “Lalu
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku,
ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Teman-teman, zaman sudah berubah namun
prinsip kebenaran Tuhan tidakLah berubah, kalau mau menjadi murid Kristus yang
sejati, lakukanlah ketiga hal berikut:
1. Sangkal diri;
artinya kita harus sedia menyangkal diri kita alias tidak menuruti hawa nafsu (seperti
nafsu amarah, kemalasan, iri, dendam, mencemooh, dll).
2. Memikul salib
kita; yaitu menjalani hidup yang penuh tantangan/godaan (dalam pekerjaan,
pelayanan, studi, dll) dengan penuh iman hingga kita berhasil melewatinya); pengertian
lainnya adalah meninggalkan dosa kita baik yang terang-terangan dilakukan
(seperti nyontek pada saat ujian atau korupsi berjamaah) maupun dosa yang
sengaja disembunyikan karena tidak ingin diketahui orang lain. Menyalibkan dosa
tersebut sampai kita benar-benar merdeka alias mampu melepaskan diri dari ikatan
dosa tersebut.
3. Mengikut Tuhan;
artinya mengikuti teladan Yesus. Melayani Tuhan merupakan salah satu wujud
mengikuti telandan Yesus Kristus yang tentunya akan banyak hal yang akan kita
korbankan. Mau melayani Tuhan? Berani bayar harga.
Mungkin teman-teman lantas berpikir, adalah hal
yang mustahil bagi orang seperti kita untuk layak dikatakan murid-Nya karena
terlampau begitu sulit, tapi janganlah kuatir sebab Tuhan pasti akan memberikan
kekuatan dan kuasa-Nya bagi kita sehingga kita lekas sadar dan bertobat. Dalam
sebuah buku berjudul MISI, dikatakan pertobatan mempunyai awal dan banyak
pengulangan, maknanya dapat disimpulkan dengan peringatan Paulus kepada
orang-orang Kristen di Roma: “Janganlah
kamu serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah (terus-menerus) oleh
pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: Apa
yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rm 12:2).
Namun, kita musti paham betul bahwa memang
benar, manusia tercipta tidaklah sempurna dan tidak luput dari dosa dan
berbagai kelemahan, TETAPI, jangan disalah mengerti bahwa setiap kali berbuat
dosa, kita sebagai orang Kristen hanya datang saja kepada Tuhan, lalu dosanya
akan diampuni. INGAT, kalau tidak ada penyangkalan diri, memikul salib dan
penyesalan akan dosa maka dosa tersebut tidak akan diampuni bahkan kita tidak
layak menjadi murid Tuhan.
Motivasi
melayani , haruslah melakukan kehendak Tuhan
Pada
akhir wawancara sebuah pekerjaan, HRD sebuah perusahaan akan bertanya kepada
calon karyawannya “kalau kamu diterima bekerja disini, berapa gaji yang kamu
harapkan?”. Gaji merupakan salah satu motivasi seseorang bersedia bekerja pada
sebuah perusahaan atau instansi. Hal itu berbeda dengan sebuah pelayanan dalam
kekristenan, dimana seseorang tidak dibayar (gaji) justru sebaliknya, turut ‘membayar’,
lantas apa sebenarnya motivasi kita bersedia melayani Tuhan? Atau lebih
specific, apa sebenarnya motivasi kita ber-GMKI?
Ragam
motivasi dalam melakukan pelayanan seperti ber-GMKI, misalnya karena rindu bersekutu
dengan saudara seiman, menambah teman, gemar berdiskusi dan belajar hal baru, hobi
mengorganisir program/kegiatan, dan belajar kepemimpinan, tetapi ada juga yang
dilandasi oleh motivasi ketakutan/paksaan, motivasinya karena tidak punya
motivasi alias bingung mau ngapain di FKM, atau yang mau menyalurkan hobinya
untuk jalan-jalan alias rekreasi dan lain-lain.
Apapun
motivasi kita masuk dan menjadi kader GMKI, saya pikir Tuhan Maha tahu dan
mengerti. Sekalipun motivasi kita awalnya kurang tepat, namun Tuhan dapat
merubah itu semua menjadi murni demi kemuliaan nama-Nya. Selama kita bersedia untuk diubahkan dan
dipakai oleh Tuhan (kali ini hanya oleh Kasih Karunia-Nya) dalam pelayanan kita,
maka Ia pasti akan meluruskan motivasi kita, kehendak Tuhan bukan lagi sesuatu
yang agaknya bertentangan dengan keinginan kita, melainkan sudah sama (perlu
latihan dan persekutuan yang intim dengan Tuhan).
Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.
GMKI merupakan
tempat persiapan kader dengan kompetensi dalam iman, ilmu, kepemimpinan dan
kepekaan sosial yang dapat diaplikasikan dalam tiga medan pelayanannya yakni,
gereja, perguruan tinggi dan masyarakat dengan moto “tinggilah iman, tinggilah
ilmu dan tinggilah pengabdian” hendaknya dipedomani dengan sungguh-sungguh.
Medan pelayanan
pertama yaitu gereja. Gereja
melambangkan persekutuan umat Kristen yang berakar dan bertumbuh dari iman
kepada Allah Tri-Tunggal. Kader GMKI haruslah mengutamakan persekutuan dengan
saudara seiman didalam Tuhan Yesus dengan gemar melakukan pertemuan ibadah, jam
doa, kontak doa, komunitas kelompok kecil, pendalaman Alkitab dan/atau
persekutuan lainnya, yang tujuannya adalah mempertebal iman sehingga kader GMKI
tidak mudah terombang-ambing imannya oleh prinsip dan hikmat duniawi. Tujuan
lainnya adalah memegang teguh pengharapan dari Tuhan, bahwa keselamatan dan
hidup kekal adalah satu-satunya di dalam nama Yesus Kristus. Dan tujuan
berikutnya adalah menerapkan kasih dalam seluruh segi kehidupan. Ini yang
dinamakan mandat penginjilan atau memenangkan jiwa. Yang menjadi landasan utama
kader melakukan mandat penginjilan yaitu perintah Tuhan Yesus dalam amanat
Agung-Nya (Mat 28:19-20). GMKI adalah
rekan sekerja gereja Tuhan, kader GMKI adalah tangan dan kaki-Nya Tuhan.
Medan pelayanan
kedua yaitu Perguruan Tinggi.
Perguruan tinggi adalah tempatnya mahasiswa menggali ilmu, hikmat dan
pengetahuan. Sepakatkah teman-teman kalau belajar giat adalah juga pelayanan? Tentu
saja, teman-teman harus belajar sungguh-sungguh agar kelak dapat memberikan
kontribusi dan perubahan yang berarti bagi kehidupan orang lain. Ini yang
dinamakan tugas mandate kebudayaan. Tuhan Yesus juga pernah melakukan mandat
kebudayaan, seperti menyembuhkan orang-orang sakit, memberi makan 5000 orang
yang kelaparan, dan mengasihi orang miskin. Misalnya, sebagai tenaga promosi
kesehatan yang inovatif sehingga mampu untuk memberdayakan masyarakat marginal
untuk menerapkan pola hidup sehat, sebagai tenaga epidemiolog yang mampu
memutus rantai penularan penyakit dengan melakukan penyelidikan epidemiolog
terhadap suatu KLB penyakit menular dan surveilans di suatu daerah,
administrator kesehatan yang mampu menerapkan prinsip ‘good governance’ dalam
suatu sistem kesehatan, demikian juga dengan ahli gizi, ahli K3, dll.
Kader GMKI yang
melayani juga harus mampu menunjukkan performance akademiknya yang baik. Pelayanan
sebagai kader GMKI atau organisasi Kristen lainnya adalah penting, tapi teman-teman
perlu juga ketahui bahwa studi juga adalah pelayanan, yang kita
pertanggungjawabkan tidak hanya kepada Tuhan dan orang tua, namun juga kepada
diri sendiri dan masyarakat. Cepat atau lambat, masyarakat akan membutuhkan pemimpin
yang Takut akan Tuhan, masyarakat akan membutuhkan kita.
Kader GMKI yang
terbilang mahasiswa, mempunyai keistimewaan tersendiri karena melalui kader,
telah memberikan pelayanan di tengah-tengah kehidupan pemuda dan pemudi calon
pemimpin masa depan bangsa. Masa perkuliahan merupakan masa yang menentukan
pola pikir dan karakter seseorang, apa jadinya seandainya pola pikir dan
karakter ini terbentuk dari prinsip-prinsip yang salah? Kita bisa bayangkan
kerugian dan kemerosotan bangsa yang akan terjadi jika hal itu sampai terjadi.
GMKI harus menjadi wadah pembentukan pola pikir dan karakter mahasiswa.
Medan pelayanan
ketiga adalah masyarakat. Seperti
contoh yang disebutkan diatas tadi, kelak kita akan terjun ke masyarakat dan
akan menerapkan mandate budaya. Hendaklah itu semua didasarkan atas motivasi
pelayanan yang murni, oleh karena kasih dan ketaatan kita kepada Tuhan.
Jadi,
teman-teman segerakan, hendaklah kita menjadi kader GMKI yang melayani dengan
motivasi yang benar dilandasi dengan ketaatan kepada Tuhan dan belas kasih (mercy)
yang kita taruh untuk sesame kita. Sadarilah, bahwa ladang sudah menguning,
siap untuk dituai, namun tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit.
“GMKI menjadilah suatu
pusat sekolah latihan (leershool) dari orang-orang yang mau bertanggungjawab
atas segala sesuatu yang mengenai kepentingan dan kebaikan negara dan bangsa
Indonesia. GMKI bukanlah merupakan Gesellschaft, melainkan ia adalah suatu
Gemeinschaft, persekutuan dalam Kristus Tuhannya. Dengan demikian ia berakar
baik dalam gereja, maupun dalam Nusa dan Bangsa Indonesia”.