Our Diary.
to Share our Life Events

-->
GERAKAN 1000 BUKU
 ANTARA MIMPI DAN KENYATAAN

Oleh: Jasmen Manurung

                                                                   ***
“Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas
-- Mohammad Hatta--

Buku Sebagai Jendela Dunia

Ingat pepatah lama yang mengatakan “Buku adalah Jendela Dunia”? Pepatah sederhana ini jelas menggambarkan kegunaan buku yang utama. Buku diibaratkan sebagai jendela. Jendela adalah suatu ruang yang membuat kita bisa melihat apa yang ada di luar rumah. Demikianlah sejatinya buku. Dengan buku kita diberi kesempatan untuk melihat dunia luar. Berkenalan dengan pemikiran berbagai tokoh besar dunia. Tidak perduli seberapa jauh jarak negara kita dengan penulisnya. St. Agustine lahir di Tagaste, sebuah kota kecil di Afrika Utara. Belajar di Carthage, kemudian mengajar di Roma dan Milan. Namun dengan membaca buku “Persoalan-persoalan Filsafat Agama” karya John K. Roth, kita dapat melihat karya dialog St. Agustine dalam “On Free Choice of the Will”. Bahkan beliau seakan hadir memberikan kuliah dihadapan kita. Padahal bisa kita bayangkan seberapa jauh Afrika Utara dan Roma dari tempat kita berada.

Kita mungkin belum pernah ke Jerusalem, tetapi dengan membaca buku “Jerusalem: Kesucian, Konflik dan Pengadilan Akhir” karya Trias Kuncahyono, kita dapat mengetahui bahwa di Jerusalem ada Tembok Ratapan, Gereja Makam Kristus dan Masjid Al Aqsa yang saling berdampingan. Disaat yang bersamaan hadir konflik yang tak kunjung selesai antara Israel dan Palestina. dengan membaca buku tersebut, kita memperoleh gambaran Jerusalem secara geografi, demografi, politik bahkan sampai konflik. Demikianlah hakekat buku sebagai jendela dunia.

Buku Sebagai Inspirasi

Selain sebagai jendela dunia, buku juga dapat menjadi sumber inspirasi. Mahatma Gandhi memperoleh inspirasi dari buku yang dibacanya. Beliau menjadi tokoh yang ditulis dengan harum dalam sejarah peradaban dunia. Prestasi dan kekuatan pemikirannya datang dari buku yang dibacanya. Abraham Lincoln, Kennedy dan lainnya membuat Amerika menjadi negara yang paling disegani. Hal itu tidak terlepas dari kekuatan buku. Kehausan membaca jugalah yang membuat Jepang menjadi salah satu negara yang maju dan diperhitungkan di dunia. Melalui konsep Restorasi Meiji, Jepang berusaha mengejar Bangsa Amerika dan Eropa. Ribuan buku Asing diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, dan setiap tahunnya dicetak lebih dari satu milliar buku. Jepang kini menikmati hasilnya. Saat ini mereka telah setara, bahkan lebih maju dari negara-negara Eropa. Buku benar-benar menjadi alat untuk memajukan peradaban. Wajarlah jika Milan Kundera berkata: “jika menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah”.

Rendahnya Minat Baca Kita

Meskipun buku dapat menjadi jendela dunia dan inspirasi, namun kenyataannya minat baca bangsa kita masih sangat rendah. Menurut laporan Human Development Indeks 2010 yang dikeluarkan UNDP, posisi minat baca Indonesia berada pada urutan 112 dari 175 negara  dari seluruh negara di dunia.  Kita kalah jauh dari Singapura, Malaysia, Thailand dan berbagai negara di Asia Tenggara. Kita hanya mengalahkan Kamboja dan Laos. Kegetiran inilah yang digambarkan oleh penyair Taufiq Ismail yang mengungkapkan bahwa bangsa kita rabun membaca, pincang menulis. Bayangkan saja, masyarakat Belanda dapat membaca 30 judul buku dalam setahun, sedangkan masyarakat kita hanya membaca satu judul buku, bahkan tidak menyelesaikan satu judul bukupun dalam setahun.

Sesungguhnya kita tidak perlu seperti Jeff Ryan, Kolumnis Slate.com yang membaca 366 buku dalam satu tahun, atau satu buku setiap hari.  Kita cukup seperti N.H. Dini, pengarang wanita  Indonesia yang sangat produktif, yang membaca 3-4 jam setiap hari. Atau seperti masyarakat Jepang yang menyelesaikan 15 judul buku dalam satu tahun. Kedua hal terakhir tentunya lebih rasional.

Mimpi atau Kenyataan?

Rendahnya literasi kita memang bukan hanya karena minat baca yang rendah, tetapi juga disebabkan oleh minimnya ketersediaan buku. Hal inilah yang menjadi dasar penting sebagai latar belakang untuk melakukan gerakan 1000 buku. Namun, bagi sebagian anggota, hal ini hanyalah sebuah mimpi belaka, tetapi tidak bagi saya. Mungkin juga bagi sebagian sahabat-sahabat saya.

Mimpi dan kenyataan bisa diibaratkan seperti dua bandul yang berayun berlawanan. Kadang menjauh pada dua titik ujung, kadang mendekat dan merapat. Mimpi bisa menjauh sejauh-jauhnya dari kenyataan. Orang sering menyebutnya sebagai utopia atau angan-angan. Tetapi mimpi dan kenyataan juga bisa merapat serapat-rapatnya. Inilah yang disebut mimpi yang menjadi kenyataan. Demikian juga dengan gerakan 1000 buku. Gerakan ini bisa menjadi utopia, namun bisa juga akan menjadi kenyataan. Banyak orang menempatkan gerakan ini sebagai mimpi karena pertimbangan jumlah buku yang harus direalisasikan. 1000 buku memang bukan jumlah yang sedikit. Jika dikonversi ke dalam rupiah, maka gerakan ini membutuhkan sekitar Rp. 50.000.000. Hal ini, setara dengan biaya yang dibutuhkan untuk menjalankan program komisariat selama dua periode.  Tetapi mimpi ini bisa menjadi kenyataan. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya?

Mengubah Mimpi Menjadi Kenyataan

Orang bijak berkata: “yang membedakan orang sukses dan orang gagal, terletak pada cara meraih mimpi. Orang gagal akan menikmati mimpi sebagai mimpi sembari memperbaiki bantal dan selimut, sedangkan orang sukses akan bangun, menyingkirkan selimut, lalu bekerja keras untuk meraih mimpi”. GMKI Komisariat FKM USU merupakan kumpulan orang-orang pekerja keras bukan pemimpi, maka mewujudkan gerakan 1000 buku bukan menjadi sesuatu yang utopis. Caranya adalah dengan memaksimalkan semua anggota.

Sampai saat ini, GMKI Komisariat FKM USU sudah memiliki 208 anggota. Jika satu anggota menyumbangkan satu buku dalam satu tahun, maka lima tahun berikutnya kita akan mengumpulkan 1040 buku. Artinya, mimpi kita akan tercapai paling lambat tahun 2018. Tidak sulit bukan? Tapi disinilah letak serpihan persoalannya. Apakah kita memiliki komitment untuk itu? Jika ya, maka benar hipotesis saya, bahwa GMKI Komisariat FKM USU merupakan kumpulan orang-orang pekerja keras. Jika tidak, ya… berarti kita kumpulan dari orang-orang yang utopis.


Jika para tokoh dan negara besar bisa sukses dan menguasai dunia karena inspirasi yang datang dari buku, mengapa kita tidak melakukannya. Saya dan beberapa teman tidak ingin menurunkan keterbatasan yang kami peroleh dalam perjalanan GMKI Komisariat FKM USU. Kami lahir di era teknologi yang belum sedahsyat saat ini. Minim membaca karena keterbatasan referensi yang mudah diakses. Internet harus dibayar dengan tarif yang mahal. Dan berbagai keterbatasan lainnya. Untuk mengatasi inilah, maka dipandang sangat perlu untuk merealisasikan gerakan 1000 buku ini.

Kado Termanis untuk Komisariat

“Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negara”. Demikian pidato John F. Kennedy ditengah kerumunan rakyatnya. Slogan ini membahana di seluruh dunia, khususnya pada tahun 60an. Jika kita ganti kata negara dengan Komisariat, maka pidato ini layak untuk kita renungkan. Sebagai anggota, kita terlalu banyak menuntut kepada Komisariat. Kita berangan-angan seraya mengharapkan Komisariat bak malaikat penolong, yang selalu hadir dalam kesulitan kita. Kita tidak pernah merenung tentang apa yang bisa kita berikan untuk Komisariat. Padahal Komisariat tidak selalu membutuhkan hal-hal yang besar. Menjadi Pengurus Komisariat, Panitia kegiatan komisariat atau cabang.  Komisariat juga sangat membutuhkan kontribusi dalam rupa yang lain. Kontribusi “kecil” namun bermakna besar. Salah satunya adalah dengan mendonasikan satu buku dalam satu tahun. Hal ini sesuatu yang kecil bukan? Tetapi dengan mendonasikan satu buku dalam satu tahun, saudara telah memberikan satu “jendela” kepada saudara-saudara kita di GMKI FKM USU. Dan, mungkin hal ini akan menjadi kado termanis yang bisa kita berikan kepada organisasi ini.  

***

GMKI Komisariat FKM USU GMKI Komisariat FKM USU Author

FACEBOOK