Jumat, Mei 17, 2013
-->
GERAKAN 1000 BUKU
ANTARA MIMPI DAN KENYATAAN
Oleh: Jasmen Manurung
***
“Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena
dengan buku aku bebas”
-- Mohammad Hatta--
Buku Sebagai Jendela Dunia
Ingat pepatah lama yang mengatakan “Buku adalah Jendela Dunia”? Pepatah
sederhana ini jelas menggambarkan kegunaan buku yang utama. Buku diibaratkan
sebagai jendela. Jendela adalah suatu ruang yang membuat kita bisa melihat apa
yang ada di luar rumah. Demikianlah sejatinya buku. Dengan buku kita diberi
kesempatan untuk melihat dunia luar. Berkenalan dengan pemikiran berbagai tokoh
besar dunia. Tidak perduli seberapa jauh jarak negara kita dengan penulisnya.
St. Agustine lahir di Tagaste, sebuah kota kecil di Afrika Utara. Belajar di
Carthage, kemudian mengajar di Roma dan Milan. Namun dengan membaca buku
“Persoalan-persoalan Filsafat Agama” karya John K. Roth, kita dapat melihat
karya dialog St. Agustine dalam “On Free
Choice of the Will”. Bahkan beliau seakan hadir memberikan kuliah dihadapan
kita. Padahal bisa kita bayangkan seberapa jauh Afrika Utara dan Roma dari
tempat kita berada.
Kita mungkin belum pernah ke Jerusalem, tetapi dengan membaca buku
“Jerusalem: Kesucian, Konflik dan Pengadilan Akhir” karya Trias Kuncahyono, kita
dapat mengetahui bahwa di Jerusalem ada Tembok Ratapan, Gereja Makam Kristus
dan Masjid Al Aqsa yang saling berdampingan. Disaat yang bersamaan hadir
konflik yang tak kunjung selesai antara Israel dan Palestina. dengan membaca buku
tersebut, kita memperoleh gambaran Jerusalem secara geografi, demografi,
politik bahkan sampai konflik. Demikianlah hakekat buku sebagai jendela dunia.
Buku Sebagai Inspirasi
Selain sebagai jendela dunia, buku juga dapat menjadi sumber inspirasi. Mahatma
Gandhi memperoleh inspirasi dari buku yang dibacanya. Beliau menjadi tokoh yang
ditulis dengan harum dalam sejarah peradaban dunia. Prestasi dan kekuatan
pemikirannya datang dari buku yang dibacanya. Abraham Lincoln, Kennedy dan
lainnya membuat Amerika menjadi negara yang paling disegani. Hal itu tidak
terlepas dari kekuatan buku. Kehausan membaca jugalah yang membuat Jepang
menjadi salah satu negara yang maju dan diperhitungkan di dunia. Melalui konsep
Restorasi Meiji, Jepang berusaha
mengejar Bangsa Amerika dan Eropa. Ribuan buku Asing diterjemahkan ke dalam
bahasa Jepang, dan setiap tahunnya dicetak lebih dari satu milliar buku. Jepang
kini menikmati hasilnya. Saat ini mereka telah setara, bahkan lebih maju dari
negara-negara Eropa. Buku benar-benar menjadi alat untuk memajukan peradaban. Wajarlah
jika Milan Kundera berkata: “jika menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban,
hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah”.
Rendahnya Minat Baca Kita
Meskipun buku dapat menjadi jendela dunia dan inspirasi, namun
kenyataannya minat baca bangsa kita masih sangat rendah. Menurut laporan Human Development Indeks 2010 yang
dikeluarkan UNDP, posisi minat baca Indonesia berada pada urutan 112 dari 175
negara dari seluruh negara di
dunia. Kita kalah jauh dari Singapura,
Malaysia, Thailand dan berbagai negara di Asia Tenggara. Kita hanya mengalahkan
Kamboja dan Laos. Kegetiran inilah yang digambarkan oleh penyair Taufiq Ismail
yang mengungkapkan bahwa bangsa kita rabun membaca, pincang menulis. Bayangkan
saja, masyarakat Belanda dapat membaca 30 judul buku dalam setahun, sedangkan
masyarakat kita hanya membaca satu judul buku, bahkan tidak menyelesaikan satu
judul bukupun dalam setahun.
Sesungguhnya kita tidak perlu seperti Jeff Ryan, Kolumnis Slate.com yang
membaca 366 buku dalam satu tahun, atau satu buku setiap hari. Kita cukup seperti N.H. Dini, pengarang
wanita Indonesia yang sangat produktif,
yang membaca 3-4 jam setiap hari. Atau seperti masyarakat Jepang yang
menyelesaikan 15 judul buku dalam satu tahun. Kedua hal terakhir tentunya lebih
rasional.
Mimpi atau Kenyataan?
Rendahnya literasi kita memang bukan hanya karena minat baca yang
rendah, tetapi juga disebabkan oleh minimnya ketersediaan buku. Hal inilah yang
menjadi dasar penting sebagai latar belakang untuk melakukan gerakan 1000 buku.
Namun, bagi sebagian anggota, hal ini hanyalah sebuah mimpi belaka, tetapi
tidak bagi saya. Mungkin juga bagi sebagian sahabat-sahabat saya.
Mimpi dan kenyataan bisa diibaratkan seperti dua bandul yang berayun
berlawanan. Kadang menjauh pada dua titik ujung, kadang mendekat dan merapat.
Mimpi bisa menjauh sejauh-jauhnya dari kenyataan. Orang sering menyebutnya
sebagai utopia atau angan-angan. Tetapi mimpi dan kenyataan juga bisa merapat
serapat-rapatnya. Inilah yang disebut mimpi yang menjadi kenyataan. Demikian
juga dengan gerakan 1000 buku. Gerakan ini bisa menjadi utopia, namun bisa juga
akan menjadi kenyataan. Banyak orang menempatkan gerakan ini sebagai mimpi
karena pertimbangan jumlah buku yang harus direalisasikan. 1000 buku memang
bukan jumlah yang sedikit. Jika dikonversi ke dalam rupiah, maka gerakan ini
membutuhkan sekitar Rp. 50.000.000. Hal ini, setara dengan biaya yang
dibutuhkan untuk menjalankan program komisariat selama dua periode. Tetapi mimpi ini bisa menjadi kenyataan.
Pertanyaannya adalah bagaimana caranya?
Mengubah Mimpi Menjadi Kenyataan
Orang bijak berkata: “yang membedakan orang sukses dan orang gagal,
terletak pada cara meraih mimpi. Orang gagal akan menikmati mimpi sebagai mimpi
sembari memperbaiki bantal dan selimut, sedangkan orang sukses akan bangun,
menyingkirkan selimut, lalu bekerja keras untuk meraih mimpi”. GMKI Komisariat
FKM USU merupakan kumpulan orang-orang pekerja keras bukan pemimpi, maka
mewujudkan gerakan 1000 buku bukan menjadi sesuatu yang utopis. Caranya adalah
dengan memaksimalkan semua anggota.
Sampai saat ini, GMKI Komisariat FKM USU sudah memiliki 208 anggota.
Jika satu anggota menyumbangkan satu buku dalam satu tahun, maka lima tahun
berikutnya kita akan mengumpulkan 1040 buku. Artinya, mimpi kita akan tercapai
paling lambat tahun 2018. Tidak sulit bukan? Tapi disinilah letak serpihan
persoalannya. Apakah kita memiliki komitment untuk itu? Jika ya, maka benar
hipotesis saya, bahwa GMKI Komisariat FKM USU merupakan kumpulan orang-orang
pekerja keras. Jika tidak, ya… berarti kita kumpulan dari orang-orang yang utopis.
Jika para tokoh dan negara besar bisa sukses dan menguasai dunia karena
inspirasi yang datang dari buku, mengapa kita tidak melakukannya. Saya dan
beberapa teman tidak ingin menurunkan keterbatasan yang kami peroleh dalam
perjalanan GMKI Komisariat FKM USU. Kami lahir di era teknologi yang belum
sedahsyat saat ini. Minim membaca karena keterbatasan referensi yang mudah
diakses. Internet harus dibayar dengan tarif yang mahal. Dan berbagai
keterbatasan lainnya. Untuk mengatasi inilah, maka dipandang sangat perlu untuk
merealisasikan gerakan 1000 buku ini.
Kado Termanis untuk Komisariat
“Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa
yang kamu berikan kepada negara”. Demikian pidato John F. Kennedy ditengah
kerumunan rakyatnya. Slogan ini membahana di seluruh dunia, khususnya pada
tahun 60an. Jika kita ganti kata negara dengan Komisariat, maka pidato ini
layak untuk kita renungkan. Sebagai anggota, kita terlalu banyak menuntut
kepada Komisariat. Kita berangan-angan seraya mengharapkan Komisariat bak
malaikat penolong, yang selalu hadir dalam kesulitan kita. Kita tidak pernah
merenung tentang apa yang bisa kita berikan untuk Komisariat. Padahal
Komisariat tidak selalu membutuhkan hal-hal yang besar. Menjadi Pengurus
Komisariat, Panitia kegiatan komisariat atau cabang. Komisariat juga sangat membutuhkan kontribusi
dalam rupa yang lain. Kontribusi “kecil” namun bermakna besar. Salah satunya
adalah dengan mendonasikan satu buku dalam satu tahun. Hal ini sesuatu yang
kecil bukan? Tetapi dengan mendonasikan satu buku dalam satu tahun, saudara
telah memberikan satu “jendela” kepada saudara-saudara kita di GMKI FKM USU.
Dan, mungkin hal ini akan menjadi kado termanis yang bisa kita berikan kepada
organisasi ini.
***