Jumat, Mei 17, 2013
Memberi Diri menjadi Teladan
Oleh:
Fitriyah Bunga Elizabeth Sinaga
Jadilah
teladan bagi orang lain
…
kalimat
ini mungkin pernah kita dengar dari orang tua kita atau mungkin kalimat bernada
serupa yang berintikan teladan pernah kita dapatkan di seminar-seminar
kepemimpinan, motivasi yang menggugah, atau saat renungan-renungan
diperdengarkan. Saat itu kemungkinan besar senyum sumringah menghiasi wajah
kita, semangat membara menyatakan teladan itu penting dan keyakinan muncul
bahwa kita bisa melakukannya. Setelah moment tersebut sebagian orang ada yang
tidak menundanya dan belajar konsisten melakukannya, namun tidak sedikit pula
yang menyimpan keinginan untuk menjadikan teladan itu di list antrian akhir
target perubahan pribadinya.
Saat
menerima pesan untuk menjadi teladan, tertarik untuk mencari pengertiannya,
teladan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang patut ditiru
atau dicontoh (perbuatan, kelakuan, sifat, dsb), seringkali harapan untuk
menjadi teladan atau mengikuti teladan seseorang dipesankan dengan harapan agar
kita dapat berlaku baik dan sesuatu yang baik itu dapat ditularkan kepada yang
lainnya sehingga semakin banyak orang menjadi pribadi yang baik. Menarik
menyadari bahwa manusia sebagai mahluk sosial dengan salah satu sifatnya adalah
observational learning atau proses
belajar dengan mengamati, yakni melalui interaksi dengan masyarakat di
sekitarnya, ia bertumbuh dan dipengaruhi oleh pengamatan di luar dirinya. Pengamatan ini termasuk melihat respon
masyarakat terhadap tindakan dari sosok/model yang diamati, apakah tindakan
model tersebut memperoleh tanggapan penghargaan atau justru hukuman. Pilihan
untuk meniru kemudian merupakan hasil dari akumulasi faktor yang kuat dan
mempengaruhinya.
Teladan dan
penghargaan
Menggelitik
saat mengingat salah seorang tokoh yang pernah penulis kagumi, melihat selama
beberapa tahun memiliki rekam jejak/track
record yang baik dan hampir sempurna saat pemikiran, perbuatan dan tindakan
menyatu menjadi sebuah harmoni dalam seorang pribadi yang saat itu menjadi
teladan bagi banyak orang, sampai kemudian suatu peristiwa yang mengecewakan
membalikkan pujian sebagian besar orang menjadi penilaian bahwa tokoh tersebut
tidak layak diteladani, bahwa segala yang dikatakannya hanya sebatas retorika
dan tidak menjadi pedoman hidup. Sebagian lainnya meskipun kecewa menganggap
menjadi seorang teladan atau yang digugu dan ditiru bukanlah perkara mudah,
kesalahan bisa saja terjadi dalam proses pembelajaran tersebut. Sebagian yang
berpendapat demikian tetap memotivasi agar beliau segera bangkit dan melakukan
pembenahan diri. Melalui kisah ini tidak dipungkiri teladan berkaitan dengan
penghargaan. Berbagai respon positif termasuk penghargaan hadir saat
nilai-nilai teladan berbanding lurus dengan harapan masyarakat dan sebaliknya
saat tindakan berbanding terbalik dengan harapan dan nilai masyarakat, segala
respon negative lebih cepat mengalir bahkan
beberapa orang mengguyonkannya melebihi kecepatan cahaya. Harapan dan
penilaian yang besar dari masyarakat kepada pemberi teladan menyangkut segala
hal, bukan hanya perkataan, perbuatan, pemikiran namun segala hal yang lain yang umumnya saat ini sulit ditemukan dan
dicari oleh banyak orang. Jika demikian sering dirasakan tidak jelas
batasannya, sesuatu yang dirasakan berat karena memiliki harapan-harapan yang
tidak biasa dan jikapun sikap masyarakat cenderung kurang mengapresiasi saat
seseorang dalam prosesnya masih terus belajar menjadi seorang teladan, bisa
saja menjadi teladan adalah pilihan yang tidak menjadi tujuan bagi kaum muda,
karena bayangan ketakutan saat berbuat kesalahan dianggap tidak pantas ditiru
dan dipandang sebelah mata, hal ini telah menjadikan sesuatu yang aman dan
nyaman jika berada dalam wilayah territorial abu-abu atau biasa-biasa saja.
Meminjam kata followers pada media
social yakni mereka yang mengikuti dan meneladani seseorang dianggap lebih tidak
dituntut dan sah-sah saja untuk
memberikan apresiasi terhadap pemberi teladan.
Bagaimana kita
bisa menjadi teladan?
Pernahkah
kita berfikir dari jutaan trilyunan Individu di muka bumi semua berharap agar
bisa menemukan sosok yang meneduhkan jiwa dan menjadi suri tauladan, semakin
tinggi tingkatan permasalahan hidup yang kita hadapi, dirasakan sulit menemukan
kehadiran teladan di sekitar kita dan bahkan seorang pemberi teladan bisa
tergerus karena nilai yang diharapkan padanya semakin tinggi ditambah dengan
tidak adanya teladan lain yang menguatkannya.
Lantas harus bagaimana apakah kita tetap mencari atau menjadi jawaban
dari pertanyaan kita sendiri. Tuntutan menjadikan orang lain agar menjadi
teladan seringkali memberikan ketidakstabilan dalam perjalanan hidup
dikarenakan sifat kemanusiaan yang tidak sempurna dan selalu memiliki peluang
untuk berlaku diluar yang diharapkan. Jikapun mencari bagaimana mengenalinya?
Kita
beruntung bahwa Alkitab sudah membantu kita mengenali seorang pemberi teladan,
…. Jadi dari buahnyalah kamu akan
mengenal mereka,” (Matius 7:20),
buah yang dimaksudkan adalah buah Roh yakni
kasih, sukacita, damai sejahtera,
kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.(
Galatia 5 : 22-23).
Melihat
segala nilai-nilai tersebut, beberapa dari kita mungkin tersenyum dan berbisik
di dalam hati dan menseleksi para pemberi teladan bagi kita, bahkan sikap
pesimis bahwa tidak mungkin semuanya dapat dilakukan oleh manusia biasa,
kalimat klise hanya Tuhan yang bisa, menekankan tanggungjawab itu bukan pada
kita dan lebih mudah serta aman jika menyerahkannya pada orang lain.
Membayangkan proses yang panjang serta reaksi orang lain terhadap sikap –sikap
mulia tersebut, kebanyakan berlaku sama yakni menunda hingga siap mental, jiwa
dan raga dan berharap bisa menyulap bahwa satu waktu bisa menjadi teladan.
Kalaulah pemikiran aman tersebut dipilih bisalah kita maklumi bahwa kondisi
yang sering kita persalahkan ada sebabnya. Namun jika kita memilih menjadi
jawabannya, secercah harapan telah dimulai saat ini.
Teladan GMKI FKM
USU
Sesungguhnya
kita sadar, memasuki organisasi ini berawal dari keteladanan yang dirasakan dan
harapan bahwa teladan itu dapat diadopsi oleh anggota serta mengakar dalam
proses pembentukan karakter . GMKI FKM USU sampai saat ini memiliki nilai-nilai
yang sedikit banyak mempengaruhi dalam bidang layanan dimana anggotanya berada.
Teladan yang diwarisi hingga saat ini bisa jadi nilai yang positif tetapi jika
boleh jujur juga masih ada yang negative, diibaratkan dalam kategori
cukup-cukup makan, terdapat nilai-nilai keteladanan yang menurun atau belum
baik untuk ditiru atau bisa jadi nilai yang tidak meningkat sehingga terus
menerus menjadi PR bersama. Kesemuanya penilaian ini kembali lagi menjadi
berkualitas jika koreksi yang jujur
menjadi gerakan yang mengubah. Tidak ada yang salah dalam nilai yang naik turun
ini, karena proses seringkali lebih bermanfaat dibandingkan nilai. tetapi
kenyataan yang perlu kita sadari pula bahwa setiap pihak baik Kampus, keluarga,
mitra dan masyarakat yang menyoroti GMKI FKM USU berharap ada peningkatan nilai
yang memberi arti sehingga penilaian layak diteladani itu menjadi salah satu
kebanggaan. Dan jikapun sekarang sudah layak diteladani hendaknya waspada dan
terus belajar agar teladan dapat ditingkatkan dan bermanfaat bagi orang banyak.
Tantangan kedepan dan tuntutan yang semakin tinggi seiring pertambahan usia
GMKI FKM USU, hendaknya disikapi dengan semakin banyak buah-buah roh
keteladanan itu. Kiranya tidak menuntut satu pihak saja yang bertanggung jawab
untuk menjadi teladan. Baik pengurus, dan anggota memiliki tugas yang kita
emban menjadikan buah-buah roh berdiam sehingga saling mentransfer
perbuatan-perbuatan baik dan layak ditiru. Dalam usia kita bersama yang semakin
dewasa, menjadi refleksi bersama, sejauh mana teladan yang telah kita berikan
untuk kita pribadi dan orang di sekitar kita. Semoga GMKI FKM USU menjadi tempat para pemberi teladan bertumbuh.