Our Diary.
to Share our Life Events

Memberi Diri menjadi Teladan
Oleh: Fitriyah Bunga Elizabeth Sinaga

Jadilah teladan bagi orang lain
kalimat ini mungkin pernah kita dengar dari orang tua kita atau mungkin kalimat bernada serupa yang berintikan teladan pernah kita dapatkan di seminar-seminar kepemimpinan, motivasi yang menggugah, atau saat renungan-renungan diperdengarkan. Saat itu kemungkinan besar senyum sumringah menghiasi wajah kita, semangat membara menyatakan teladan itu penting dan keyakinan muncul bahwa kita bisa melakukannya. Setelah moment tersebut sebagian orang ada yang tidak menundanya dan belajar konsisten melakukannya, namun tidak sedikit pula yang menyimpan keinginan untuk menjadikan teladan itu di list antrian akhir target perubahan pribadinya.
Saat menerima pesan untuk menjadi teladan, tertarik untuk mencari pengertiannya, teladan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang patut ditiru atau dicontoh (perbuatan, kelakuan, sifat, dsb), seringkali harapan untuk menjadi teladan atau mengikuti teladan seseorang dipesankan dengan harapan agar kita dapat berlaku baik dan sesuatu yang baik itu dapat ditularkan kepada yang lainnya sehingga semakin banyak orang menjadi pribadi yang baik. Menarik menyadari bahwa manusia sebagai mahluk sosial dengan salah satu sifatnya adalah observational learning atau proses belajar dengan mengamati, yakni melalui interaksi dengan masyarakat di sekitarnya, ia bertumbuh dan dipengaruhi oleh pengamatan di luar dirinya.  Pengamatan ini termasuk melihat respon masyarakat terhadap tindakan dari sosok/model yang diamati, apakah tindakan model tersebut memperoleh tanggapan penghargaan atau justru hukuman. Pilihan untuk meniru kemudian merupakan hasil dari akumulasi faktor yang kuat dan mempengaruhinya. 
Teladan dan penghargaan
Menggelitik saat mengingat salah seorang tokoh yang pernah penulis kagumi, melihat selama beberapa tahun memiliki rekam jejak/track record yang baik dan hampir sempurna saat pemikiran, perbuatan dan tindakan menyatu menjadi sebuah harmoni dalam seorang pribadi yang saat itu menjadi teladan bagi banyak orang, sampai kemudian suatu peristiwa yang mengecewakan membalikkan pujian sebagian besar orang menjadi penilaian bahwa tokoh tersebut tidak layak diteladani, bahwa segala yang dikatakannya hanya sebatas retorika dan tidak menjadi pedoman hidup. Sebagian lainnya meskipun kecewa menganggap menjadi seorang teladan atau yang digugu dan ditiru bukanlah perkara mudah, kesalahan bisa saja terjadi dalam proses pembelajaran tersebut. Sebagian yang berpendapat demikian tetap memotivasi agar beliau segera bangkit dan melakukan pembenahan diri. Melalui kisah ini tidak dipungkiri teladan berkaitan dengan penghargaan. Berbagai respon positif termasuk penghargaan hadir saat nilai-nilai teladan berbanding lurus dengan harapan masyarakat dan sebaliknya saat tindakan berbanding terbalik dengan harapan dan nilai masyarakat, segala respon negative lebih cepat mengalir bahkan  beberapa orang mengguyonkannya melebihi kecepatan cahaya. Harapan dan penilaian yang besar dari masyarakat kepada pemberi teladan menyangkut segala hal, bukan hanya perkataan, perbuatan, pemikiran namun segala hal yang lain  yang umumnya saat ini sulit ditemukan dan dicari oleh banyak orang. Jika demikian sering dirasakan tidak jelas batasannya, sesuatu yang dirasakan berat karena memiliki harapan-harapan yang tidak biasa dan jikapun sikap masyarakat cenderung kurang mengapresiasi saat seseorang dalam prosesnya masih terus belajar menjadi seorang teladan, bisa saja menjadi teladan adalah pilihan yang tidak menjadi tujuan bagi kaum muda, karena bayangan ketakutan saat berbuat kesalahan dianggap tidak pantas ditiru dan dipandang sebelah mata, hal ini telah menjadikan sesuatu yang aman dan nyaman jika berada dalam wilayah territorial abu-abu atau biasa-biasa saja. Meminjam kata followers pada media social yakni mereka yang mengikuti dan meneladani seseorang dianggap lebih tidak dituntut dan sah-sah saja untuk  memberikan apresiasi terhadap pemberi teladan.

Bagaimana kita bisa menjadi teladan?
Pernahkah kita berfikir dari jutaan trilyunan Individu di muka bumi semua berharap agar bisa menemukan sosok yang meneduhkan jiwa dan menjadi suri tauladan, semakin tinggi tingkatan permasalahan hidup yang kita hadapi, dirasakan sulit menemukan kehadiran teladan di sekitar kita dan bahkan seorang pemberi teladan bisa tergerus karena nilai yang diharapkan padanya semakin tinggi ditambah dengan tidak adanya teladan lain yang menguatkannya.  Lantas harus bagaimana apakah kita tetap mencari atau menjadi jawaban dari pertanyaan kita sendiri. Tuntutan menjadikan orang lain agar menjadi teladan seringkali memberikan ketidakstabilan dalam perjalanan hidup dikarenakan sifat kemanusiaan yang tidak sempurna dan selalu memiliki peluang untuk berlaku diluar yang diharapkan. Jikapun mencari bagaimana mengenalinya?
Kita beruntung bahwa Alkitab sudah membantu kita mengenali seorang pemberi teladan, …. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka,” (Matius 7:20), buah yang dimaksudkan adalah buah Roh yakni  kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.( Galatia 5 : 22-23).
Melihat segala nilai-nilai tersebut, beberapa dari kita mungkin tersenyum dan berbisik di dalam hati dan menseleksi para pemberi teladan bagi kita, bahkan sikap pesimis bahwa tidak mungkin semuanya dapat dilakukan oleh manusia biasa, kalimat klise hanya Tuhan yang bisa, menekankan tanggungjawab itu bukan pada kita dan lebih mudah serta aman jika menyerahkannya pada orang lain. Membayangkan proses yang panjang serta reaksi orang lain terhadap sikap –sikap mulia tersebut, kebanyakan berlaku sama yakni menunda hingga siap mental, jiwa dan raga dan berharap bisa menyulap bahwa satu waktu bisa menjadi teladan. Kalaulah pemikiran aman tersebut dipilih bisalah kita maklumi bahwa kondisi yang sering kita persalahkan ada sebabnya. Namun jika kita memilih menjadi jawabannya, secercah harapan telah dimulai saat ini.
Teladan GMKI FKM USU
Sesungguhnya kita sadar, memasuki organisasi ini berawal dari keteladanan yang dirasakan dan harapan bahwa teladan itu dapat diadopsi oleh anggota serta mengakar dalam proses pembentukan karakter . GMKI FKM USU sampai saat ini memiliki nilai-nilai yang sedikit banyak mempengaruhi dalam bidang layanan dimana anggotanya berada. Teladan yang diwarisi hingga saat ini bisa jadi nilai yang positif tetapi jika boleh jujur juga masih ada yang negative, diibaratkan dalam kategori cukup-cukup makan, terdapat nilai-nilai keteladanan yang menurun atau belum baik untuk ditiru atau bisa jadi nilai yang tidak meningkat sehingga terus menerus menjadi PR bersama. Kesemuanya penilaian ini kembali lagi menjadi berkualitas jika  koreksi yang jujur menjadi gerakan yang mengubah. Tidak ada yang salah dalam nilai yang naik turun ini, karena proses seringkali lebih bermanfaat dibandingkan nilai. tetapi kenyataan yang perlu kita sadari pula bahwa setiap pihak baik Kampus, keluarga, mitra dan masyarakat yang menyoroti GMKI FKM USU berharap ada peningkatan nilai yang memberi arti sehingga penilaian layak diteladani itu menjadi salah satu kebanggaan. Dan jikapun sekarang sudah layak diteladani hendaknya waspada dan terus belajar agar teladan dapat ditingkatkan dan bermanfaat bagi orang banyak. Tantangan kedepan dan tuntutan yang semakin tinggi seiring pertambahan usia GMKI FKM USU, hendaknya disikapi dengan semakin banyak buah-buah roh keteladanan itu. Kiranya tidak menuntut satu pihak saja yang bertanggung jawab untuk menjadi teladan. Baik pengurus, dan anggota memiliki tugas yang kita emban menjadikan buah-buah roh berdiam sehingga saling mentransfer perbuatan-perbuatan baik dan layak ditiru. Dalam usia kita bersama yang semakin dewasa, menjadi refleksi bersama, sejauh mana teladan yang telah kita berikan untuk kita pribadi dan orang di sekitar kita. Semoga GMKI FKM USU menjadi  tempat para pemberi teladan bertumbuh.


GMKI Komisariat FKM USU GMKI Komisariat FKM USU Author

FACEBOOK