Kreativitas Program GMKI Komisariat FKM USU
Jumat, Mei 17, 2013
Kreativitas Program GMKI Komisariat FKM USU
Happy P. Pangaribuan
GMKI sebagai
organisasi lahir 63
tahun yang lalu telah menjalankan suatu
rangkaian sejarah sendiri. GMKI adalah sebuah organisasi yang bersifat gerejawi dan
berjiwa nasionalis. Organisasi ini terus berkembang dan bergerak, hal ini bisa
dilihat dari banyaknya cabang GMKI yang dibentuk di seluruh Indonesia. GMKI Cabang Medan
adalah satu dari 70 cabang yang ada di Indonesia. GMKI Cabang Medan memiliki 17
Komisariat sebagai perpanjangan tangan Badan Pengurus Cabang dalam rangka
memudahkan koordinasi kepada anggota berdasarkan latar belakang Perguruan
Tinggi ataupun Fakultas tempat kuliah anggota. Dalam tulisan ini, yang saya soroti
adalah GMKI Komisariat FKM USU.
Dua belas
tahun sudah keberadaan GMKI di FKM USU, sebuah perjalanan panjang bagi sebuah
organisasi untuk melakukan pergerakan dalam mencapai tujuan organisasi. GMKI
Komisariat FKM USU terdiri dari
sekelompok mahasiswa yang diajak untuk bergerak dan berkarya didalamnya.
Yang menjadi pertanyaan adalah dengan umur 12 tahun apakah kreativitas program
GMKI Komisariat FKM USU sudah berdampak signifikan dalam medan pelayanan? Atau
ada tidak ada program GMKI Komisariat FKM USU tidak berpengaruh dalam
lingkungannya?
Perencanaan Program kerja GMKI Komisariat FKM USU disusun
berdasarkan Garis-garis Besar Program dan Kebijakan Umum Organisasi yang
diterjemahkan kedalam Arah Strategi dan Kebijakan Umum Organisasi (ASKUO)
melalui Sidang Pleno I Pengurus Komisariat GMKI FKM USU, dimana dalam
pola pengorganisasianya dibagi kedalam dua bagian pokok yaitu internal dan eksternal.
Pemahaman
Organisasi dan Komunikasi
Pemetaan organisasi dan komunikasi
merupakan program internal GMKI komisariat FKM USU. GMKI
merupakan suatu organisasi yang
memiliki peraturan atau konstitusi yaitu AD/ART dan peraturan pengatur lainnya. Anggaran Dasar tersebut adalah aturan permainan dalam organisasi GMKI
sehingga setiap komponen organisasi dapat berjalan dalam
rel yang sudah ditentukan. Mengingat semua itu, sangat penting bagi anggota
GMKI Komisariat FKM USU untuk mengerti
dan memahami konstitusi dan peraturan pendukung lainnya
yang ada dalam organisasi GMKI.
Untuk
meningkatkan pemahaman anggota tentang konstitusi tersebut, selama 12 tahun
program GMKI Komisariat FKM USU yang sering dilakukan dalam bidang organisasi
adalah bedah konstitusi dan teknik persidangan. Menurut saya selama empat tahun mengikuti program ini,
kegiatan tersebut masih kurang efektif untuk meningkatkan pemahaman anggota
tentang konstitusi. Hal ini mungkin diakibatkan karena kegiatan ini dilakukan
dua atau tiga kali dalam satu keperiodean. Anggota yang tidak pernah melakukan
diskusi tentang konstitusi diluar program tersebut akan sulit untuk memahami
konstitusi dan peraturan pendukung GMKI.
Organisasi
tidak bisa lepas dengan komunikasi, melalui komunikasi yang efektif maka misi
organisasi akan lebih mudah dijalankan. Ungkapan Ut Omnes Unum Sint
sering kita dengar dalam pertemuan – pertemuan GMKI, mars GMKI ataupun sebagai
salam penutupan dalam surat–surat dikalangan GMKI.
Ut Omnes Unum Sint atau agar
semua menjadi satu, memberi arti suatu perintah atau pernyataan yang mutlak
terhadap semua manusia supaya menjadi satu.
Amsal GMKI tersebut adalah alasan yang kuat bagi anggota GMKI Komisariat FKM
USU untuk menjalin komunikasi yang baik antar anggota dalam membentuk suatu
persekutuan dalam nama Yesus Kristus.
Menurut
buku satu dekade perjalanan GMKI Komisariat FKM USU, program yang dirancang
oleh pengurus komisariat dalam bidang komunikasi sangat bervariasi.
Perkembangan teknologi sangat mendukung kegiatan ini seperti handphone, facebook, twitter, blog, email. Dengan
kata lain waktu dan jarak tidak menjadi penghalang untuk membangun komunikasi
antar anggota. Perkembangan komisariat dapat disebarluaskan dengan menggunakan
alat teknologi, namun bagaimanapun juga pertemuan face to face masih lebih efektif karena dengan bertatapan wajah
akan lebih mudah bagi anggota untuk saling mengenal (human of belong in).
Pembinaan Anggota
Dalam Anggaran Dasar GMKI pasal 3, salah
satu misi GMKI adalah mempersiapkan pemimpin dan penggerak yang ahli dan
bertanggung jawab dengan menjalankan panggilan Kristus ditengah-tengah
masyarakat, gereja dan perguruan tinggi bagi terwujudnya kesejahteraan,
perdamaian, keadilan, kebenaran dan cinta kasih ditengah-tengah manusia dan
alam semesta. Dengan
demikian, GMKI sebagai sebuah organisasi kader memiliki sebuah sistem
pendidikan kader yang jelas dan terpadu dalam melakukan pembinaan-pembinaan
terhadap anggotanya. Konsep pelatihan kepemimpinan GMKI disusun dalam PDSPK (Pola Dasar
Sistem Pendidikan Kader) yaitu Latihan Kepemimpinan I (Latihan Dasar Kepemimpinan),
Latihan Kepemimpinan II (Kursus Latihan Kepemimpinan). Dan Latihan Kepemimpinan
III ( Training of Trainer).
Menurut
buku Sewindu GMKI Komisariat FKM USU, latihan dasar kepemimpinan pertama kali
dilakukan GMKI Komisariat FKM USU pada tahun 2008 masa bakti Sdr. Jariston
Habeahan (Ketua). Pada perode-periode selanjutnya latihan kepemimpinan ini
menjadi program rutin GMKI Komisariat FKM USU bidang kader sampai sekarang.
Tingkat latihan kepemimpinan yang dilakukan masih sampai tahap latihan
kepemimpinan tingkat II (Kursus Latihan Kepemimpinan). Sehingga semenjak tahun
2009, sebagian besar struktur kepengurusan komisariat FKM USU diisi oleh
anggota yang pernah melakukan latihan kepemimpinan.
Sebagai
organisasi kekristenan, kader-kader GMKI tidak bisa lepas dengan santapan
rohani. Dasar organisasi GMKI adalah “alkitab” sehingga spiritualisme
kader-kader GMKI harus tetap dibina. Namun, program GMKI Komisariat FKM USU
dalam bidang kerohanian seperti kebaktian, jam doa, penelaahan alkitab, belum
dilakukan secara rutinitas.
Medan
Pelayanan GMKI Komisariat FKM USU
GMKI
sangat dikenal dengan brand tiga medan pelayanan yaitu gereja, perguruan
tinggi, masyarakat. Sehingga tidak heran, di setiap penutup tulisan dan kata
sambutan kader GMKI sering hadir kalimat berikut “akhir kata tinggilah iman kita, tinggilah ilmu kita, tinggilah
pengabdian kita”. Mungkin bagi
sebagian anggota GMKI sepele dengan kalimat ini dan menganggap kalimat ini
adalah suatu keharusan yang harus dilantunkan oleh kader GMKI. Padahal, kalimat
ini adalah suatu peringatan bagi setiap anggota supaya terus meningkatkan pelayanannya.
Kesimpulannya, jika kadar pelayanan GMKI stagnan, kalimat diatas hanya sebagai
kalimat hiasan yang tidak bermakna.
Tiga
Medan Pelayanan GMKI merupakan program eksternal dalam bidang aksi dan
pelayanan. Dalam kurun waktu 12 tahun, program aksi dan pelayanan GMKI Komisariat
FKM USU merupakan program-program besar.
Program-program akspel ini sering dijual anggota GMKI Komisariat FKM USU dalam
perekrutan anggota baru.
Menurut
buku satu dekade perjalanan GMKI komisariat FKM USU, program aksi dan pelayanan
seperti kunjungan gereja dan kunjungan masyarakat hampir setiap tahun
dilakukan. Bisa dikatakan program akspel
masih monoton atau kurang kreatif. Hal ini bisa diperkuat dengan melihat
program akspel dua tahun belakangan ini seperti tentoran mata kuliah dan
seminar juga sudah pernah dilakukan pada periode-periode sebelumnya. Program
akspel yang baru dalam kurun waktu 12 tahun ini hanya kunjungan ilmiah.
Seyogianya, program-program akspel ini
dilaksanakan dengan tujuan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di
luar organisasi. Sehingga melalui program
akspel, GMKI dapat menjadi garam dan terang bagi lingkungan
tempat dimana dia berada. Apakah melaui
program-program GMKI Komisariat FKM USU selama 12 tahun ini sudah berdampak
positif dalam perguruan tinggi, gereja dan masyarakat?
Sebagai
organisasi eksternal, banyak tantangan yang harus dihadapi GMKI Komisariat FKM
USU dalam mengembangkan kreativitas program akspel dalam perguruan tinggi. Dalam mengadakan kegiatan atas nama
organisasi GMKI Komisariat FKM USU di dunia kampus sangat sulit, ini dikarenakan adanya
kebijakan dari pihak kampus untuk membatasi kegiatan organisasi eksternal di
dunia kampus. GMKI Komisariat FKM USU harus bekerja sama dengan organisasi
organisasi internal yang terdapat di FKM untuk merancang sebuah program,
contohnya kegiatan seminar. Sementara kebutuhan setiap organisasi di FKM
berbeda-beda, jadi kerja sama yang dibangun tidak bersifat intensif. Secara sadar maupun tidak sadar kapasitas GMKI
Komisariat FKM USU bisa dikatakan lemah di kehidupan kemahasiswaan atau dengan
kata lain belum terlalu berdampak di kampus. Sehingga tidak heran, banyak yang
berpendapat GMKI Komisariat FKM USU terkesan “eksklusif”.
Bagaimana kehadiran GMKI Komisariat FKM
USU dalam gereja? GMKI bersifat gerejawi dan GMKI sering dikatakan sebagai anak
gereja. GMKI juga harus tetap menjalankan tugas-tugas Gereja
dalam aktivitas kesehariannya yakni Marturia (Bersaksi), Koinonia
(Bersekutu), Diakonia (Melayani),namun
kenyataannya masih banyak gereja yang belum mengenal GMKI. Setiap tahunnya GMKI
Komisariat FKM USU melaksanakan program kunjungan gereja, disamping untuk
memperkenalkan GMKI dalam gereja program ini juga merupakan bentuk pelayanan
GMKI Komisariat FKM USU dalam menjalankan
tugas-tugas Gereja. Kuantitas kunjungan gereja yang dilakukan GMKI Komisariat
FKM USU masih sangat minim, dalam satu keperiodean hanya sekitar dua atau tiga
kali kunjungan. Apakah dengan kunjungan tersebut GMKI cukup berdampak dalam perkembangan gereja?
Dalam
kalangan masyarakat, jika diajukan pertanyaan “apakah anda mengenal GMKI?”,
jawaban yang sering didapatkan adalah “GMKI itu yang sering demontrasi,
perokok, ugal ugalan”. Saya sebagai anggota GMKI sangat miris mengetahui
pernyataan ini. Apakah hanya sebatas demonstrasi masyarakat mengenal GMKI?
Kapan GMKI dikatakan sebagai “Superman” pembela kebenaran, menolong kaum lemah.
Paradigma negatif masyarakat masih tetap
menjadi permasalahan dalam GMKI. Terlalu jauh dilihat dalam kalangan masyarakat
umum, dalam kalangan mahasiswa FKM pun masih banyak yang apatis terhadap GMKI. Artinya,
GMKI Komisariat FKM USU harus lebih kreatif lagi untuk membuat program dalam
kalangan masyarakat.
Pesan Rasul Paulus kepada Pemuda Jemaat Titus
Di
jaman modern ini sangat sedikit pemuda ditemukan yang memiliki rasa sosialisme
yang tinggi. Pemuda lebih suka larut dalam dunianya sendiri, hedonisme atau sering disebut dengan “anak jaman”, kenapa tidak? Teknologi
yang semakin canggih membuat kaum pemuda kurang peduli dengan keadaan sekitar.
Banyak pemuda lebih memilih menghabiskan waktu dengan game on line, facebook, twitter, shopping, blackberry messager, dan
lain-lain daripada mengikuti kegiatan-kegiatan sosial. Slogan pemuda jaman
sekarang “bukan pemuda namanya kalau tidak bisa mengikuti trend masa kini”.
Pesan
Rasul
Paulus (Titus 2:6-7) kepada kaum pemuda, “demikian juga orang-orang muda; nasehatilah
mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal, dan jadikanlah dirimu
sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan
bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu.” Pesan ini mengartikan bahwa branding-nya orang muda adalah
teladan dalam segala hal.
GMKI Komisariat FKM USU yang
didominasi oleh orang muda harus bisa menjadi teladan bagi lingkungannya.
Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang telah diberikan Tuhan dan tidak
menghabiskan waktu dengan kenikmatan yang ditawarkan oleh dunia. GMKI Komisariat
FKM USU harus mengejar keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama.
Dirgahayu GMKI
Komisariat FKM USU ke-12
Ut Omnes Unum Sint
Syalom..