Our Diary.
to Share our Life Events

Kreativitas Program GMKI Komisariat FKM USU

Kreativitas Program GMKI Komisariat FKM USU
Happy P. Pangaribuan
GMKI sebagai organisasi lahir 63  tahun yang lalu telah menjalankan suatu rangkaian sejarah sendiri. GMKI adalah sebuah organisasi yang bersifat gerejawi dan berjiwa nasionalis. Organisasi ini terus berkembang dan bergerak, hal ini bisa dilihat dari banyaknya cabang GMKI yang dibentuk di seluruh Indonesia. GMKI Cabang Medan adalah  satu dari 70 cabang yang ada di Indonesia. GMKI Cabang Medan memiliki 17 Komisariat sebagai perpanjangan tangan Badan Pengurus Cabang dalam rangka memudahkan koordinasi kepada anggota berdasarkan latar belakang Perguruan Tinggi ataupun Fakultas tempat kuliah anggota. Dalam tulisan ini, yang saya soroti adalah GMKI Komisariat FKM USU.
Dua belas tahun sudah keberadaan GMKI di FKM USU, sebuah perjalanan panjang bagi sebuah organisasi untuk melakukan pergerakan dalam mencapai tujuan organisasi. GMKI Komisariat FKM USU terdiri dari  sekelompok mahasiswa yang diajak untuk bergerak dan berkarya didalamnya. Yang menjadi pertanyaan adalah dengan umur 12 tahun apakah kreativitas program GMKI Komisariat FKM USU sudah berdampak signifikan dalam medan pelayanan? Atau ada tidak ada program GMKI Komisariat FKM USU tidak berpengaruh dalam lingkungannya?
Perencanaan Program kerja GMKI Komisariat FKM USU disusun berdasarkan Garis-garis Besar Program dan Kebijakan Umum Organisasi yang diterjemahkan kedalam Arah Strategi dan Kebijakan Umum Organisasi (ASKUO) melalui Sidang Pleno I Pengurus Komisariat GMKI FKM USU, dimana dalam pola pengorganisasianya dibagi kedalam dua bagian pokok yaitu internal dan eksternal.


Pemahaman Organisasi dan Komunikasi
     Pemetaan organisasi dan komunikasi merupakan program internal GMKI komisariat FKM USU. GMKI merupakan suatu organisasi yang memiliki peraturan atau konstitusi yaitu AD/ART dan peraturan pengatur lainnya. Anggaran Dasar tersebut adalah aturan permainan dalam organisasi GMKI sehingga setiap komponen organisasi dapat berjalan dalam rel yang sudah ditentukan. Mengingat semua itu, sangat penting bagi anggota GMKI Komisariat FKM USU untuk mengerti dan memahami konstitusi dan peraturan pendukung lainnya yang ada dalam organisasi GMKI.
Untuk meningkatkan pemahaman anggota tentang konstitusi tersebut, selama 12 tahun program GMKI Komisariat FKM USU yang sering dilakukan dalam bidang organisasi adalah bedah konstitusi dan teknik persidangan. Menurut saya  selama empat tahun mengikuti program ini, kegiatan tersebut masih kurang efektif untuk meningkatkan pemahaman anggota tentang konstitusi. Hal ini mungkin diakibatkan karena kegiatan ini dilakukan dua atau tiga kali dalam satu keperiodean. Anggota yang tidak pernah melakukan diskusi tentang konstitusi diluar program tersebut akan sulit untuk memahami konstitusi dan peraturan pendukung GMKI.
 Organisasi tidak bisa lepas dengan komunikasi, melalui komunikasi yang efektif maka misi organisasi akan lebih mudah dijalankan. Ungkapan Ut Omnes Unum Sint sering kita dengar dalam pertemuan – pertemuan GMKI, mars GMKI ataupun sebagai salam penutupan dalam surat–surat dikalangan GMKI. Ut Omnes Unum Sint  atau agar semua menjadi satu, memberi arti suatu perintah atau pernyataan yang mutlak terhadap semua manusia supaya menjadi satu. Amsal GMKI tersebut adalah alasan yang kuat bagi anggota GMKI Komisariat FKM USU untuk menjalin komunikasi yang baik antar anggota dalam membentuk suatu persekutuan dalam nama Yesus Kristus.
Menurut buku satu dekade perjalanan GMKI Komisariat FKM USU, program yang dirancang oleh pengurus komisariat dalam bidang komunikasi sangat bervariasi. Perkembangan teknologi sangat mendukung kegiatan ini seperti handphone, facebook, twitter, blog, email. Dengan kata lain waktu dan jarak tidak menjadi penghalang untuk membangun komunikasi antar anggota. Perkembangan komisariat dapat disebarluaskan dengan menggunakan alat teknologi, namun bagaimanapun juga pertemuan face to face masih lebih efektif karena dengan bertatapan wajah akan lebih mudah bagi anggota untuk saling mengenal (human of belong in).
Pembinaan  Anggota
         Dalam Anggaran Dasar GMKI pasal 3, salah satu misi GMKI adalah mempersiapkan pemimpin dan penggerak yang ahli dan bertanggung jawab dengan menjalankan panggilan Kristus ditengah-tengah masyarakat, gereja dan perguruan tinggi bagi terwujudnya kesejahteraan, perdamaian, keadilan, kebenaran dan cinta kasih ditengah-tengah manusia dan alam semesta. Dengan demikian, GMKI sebagai sebuah organisasi kader memiliki sebuah sistem pendidikan kader yang jelas dan terpadu dalam melakukan pembinaan-pembinaan terhadap anggotanya. Konsep pelatihan kepemimpinan GMKI disusun dalam PDSPK (Pola Dasar Sistem Pendidikan Kader) yaitu Latihan Kepemimpinan I (Latihan Dasar Kepemimpinan), Latihan Kepemimpinan II (Kursus Latihan Kepemimpinan). Dan Latihan Kepemimpinan III ( Training of Trainer).
          Menurut buku Sewindu GMKI Komisariat FKM USU, latihan dasar kepemimpinan pertama kali dilakukan GMKI Komisariat FKM USU pada tahun 2008 masa bakti Sdr. Jariston Habeahan (Ketua). Pada perode-periode selanjutnya latihan kepemimpinan ini menjadi program rutin GMKI Komisariat FKM USU bidang kader sampai sekarang. Tingkat latihan kepemimpinan yang dilakukan masih sampai tahap latihan kepemimpinan tingkat II (Kursus Latihan Kepemimpinan). Sehingga semenjak tahun 2009, sebagian besar struktur kepengurusan komisariat FKM USU diisi oleh anggota yang pernah melakukan latihan kepemimpinan.
          Sebagai organisasi kekristenan, kader-kader GMKI tidak bisa lepas dengan santapan rohani. Dasar organisasi GMKI adalah “alkitab” sehingga spiritualisme kader-kader GMKI harus tetap dibina. Namun, program GMKI Komisariat FKM USU dalam bidang kerohanian seperti kebaktian, jam doa, penelaahan alkitab, belum dilakukan secara rutinitas.
Medan Pelayanan GMKI Komisariat FKM USU
          GMKI sangat dikenal dengan brand  tiga medan pelayanan yaitu gereja, perguruan tinggi, masyarakat. Sehingga tidak heran, di setiap penutup tulisan dan kata sambutan kader GMKI sering hadir kalimat berikut “akhir kata tinggilah iman kita, tinggilah ilmu kita, tinggilah pengabdian kita”.  Mungkin bagi sebagian anggota GMKI sepele dengan kalimat ini dan menganggap kalimat ini adalah suatu keharusan yang harus dilantunkan oleh kader GMKI. Padahal, kalimat ini adalah suatu peringatan bagi setiap anggota supaya terus meningkatkan pelayanannya. Kesimpulannya, jika kadar pelayanan GMKI stagnan, kalimat diatas hanya sebagai kalimat hiasan yang tidak bermakna.
          Tiga Medan Pelayanan GMKI merupakan program eksternal dalam bidang aksi dan pelayanan. Dalam kurun waktu 12 tahun, program aksi dan pelayanan GMKI Komisariat FKM USU  merupakan program-program besar. Program-program akspel ini sering dijual anggota GMKI Komisariat FKM USU dalam perekrutan anggota baru.
Menurut buku satu dekade perjalanan GMKI komisariat FKM USU, program aksi dan pelayanan seperti kunjungan gereja dan kunjungan masyarakat hampir setiap tahun dilakukan.  Bisa dikatakan program akspel masih monoton atau kurang kreatif. Hal ini bisa diperkuat dengan melihat program akspel dua tahun belakangan ini seperti tentoran mata kuliah dan seminar juga sudah pernah dilakukan pada periode-periode sebelumnya. Program akspel yang baru dalam kurun waktu 12 tahun ini hanya kunjungan ilmiah.
Seyogianya, program-program akspel ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di luar organisasi.  Sehingga melalui program akspel, GMKI dapat menjadi garam dan terang bagi lingkungan tempat dimana dia berada. Apakah melaui program-program GMKI Komisariat FKM USU selama 12 tahun ini sudah berdampak positif dalam perguruan tinggi, gereja dan masyarakat?
Sebagai organisasi eksternal, banyak tantangan yang harus dihadapi GMKI Komisariat FKM USU dalam mengembangkan kreativitas program akspel dalam perguruan tinggi.  Dalam mengadakan kegiatan atas nama organisasi GMKI Komisariat FKM USU di dunia kampus  sangat sulit, ini dikarenakan adanya kebijakan dari pihak kampus untuk membatasi kegiatan organisasi eksternal di dunia kampus. GMKI Komisariat FKM USU harus bekerja sama dengan organisasi organisasi internal yang terdapat di FKM untuk merancang sebuah program, contohnya kegiatan seminar. Sementara kebutuhan setiap organisasi di FKM berbeda-beda, jadi kerja sama yang dibangun tidak bersifat intensif.  Secara sadar maupun tidak sadar kapasitas GMKI Komisariat FKM USU bisa dikatakan lemah di kehidupan kemahasiswaan atau dengan kata lain belum terlalu berdampak di kampus. Sehingga tidak heran, banyak yang berpendapat GMKI Komisariat FKM USU terkesan “eksklusif”.
Bagaimana kehadiran GMKI Komisariat FKM USU dalam gereja? GMKI bersifat gerejawi dan GMKI sering dikatakan sebagai anak gereja. GMKI juga harus tetap menjalankan tugas-tugas Gereja dalam aktivitas kesehariannya yakni Marturia (Bersaksi), Koinonia (Bersekutu), Diakonia (Melayani),namun kenyataannya masih banyak gereja yang belum mengenal GMKI. Setiap tahunnya GMKI Komisariat FKM USU melaksanakan program kunjungan gereja, disamping untuk memperkenalkan GMKI dalam gereja program ini juga merupakan bentuk pelayanan GMKI Komisariat FKM USU dalam menjalankan tugas-tugas Gereja. Kuantitas kunjungan gereja yang dilakukan GMKI Komisariat FKM USU masih sangat minim, dalam satu keperiodean hanya sekitar dua atau tiga kali kunjungan. Apakah dengan kunjungan tersebut GMKI  cukup berdampak dalam perkembangan gereja?
Dalam kalangan masyarakat, jika diajukan pertanyaan “apakah anda mengenal GMKI?”, jawaban yang sering didapatkan adalah “GMKI itu yang sering demontrasi, perokok, ugal ugalan”. Saya sebagai anggota GMKI sangat miris mengetahui pernyataan ini. Apakah hanya sebatas demonstrasi masyarakat mengenal GMKI? Kapan GMKI dikatakan sebagai “Superman” pembela kebenaran, menolong kaum lemah. Paradigma  negatif masyarakat masih tetap menjadi permasalahan dalam GMKI. Terlalu jauh dilihat dalam kalangan masyarakat umum, dalam kalangan mahasiswa FKM pun masih banyak yang apatis terhadap GMKI. Artinya, GMKI Komisariat FKM USU harus lebih kreatif lagi untuk membuat program dalam kalangan masyarakat.         
Pesan Rasul Paulus kepada Pemuda Jemaat Titus
          Di jaman modern ini sangat sedikit pemuda ditemukan yang memiliki rasa sosialisme yang tinggi. Pemuda lebih suka larut dalam dunianya sendiri, hedonisme atau sering disebut dengan “anak jaman”, kenapa tidak? Teknologi yang semakin canggih membuat kaum pemuda kurang peduli dengan keadaan sekitar. Banyak pemuda lebih memilih menghabiskan waktu dengan game on line, facebook, twitter, shopping, blackberry messager, dan lain-lain daripada mengikuti kegiatan-kegiatan sosial. Slogan pemuda jaman sekarang “bukan pemuda namanya kalau tidak bisa mengikuti trend masa kini”.
          Pesan Rasul Paulus (Titus 2:6-7) kepada kaum pemuda, “demikian juga orang-orang muda; nasehatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal, dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu.” Pesan ini  mengartikan bahwa branding-nya orang muda adalah teladan dalam segala hal.
          GMKI Komisariat FKM USU yang didominasi oleh orang muda harus bisa menjadi teladan bagi lingkungannya. Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang telah diberikan Tuhan dan tidak menghabiskan waktu dengan kenikmatan yang ditawarkan oleh dunia. GMKI Komisariat FKM USU harus mengejar keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama.
Dirgahayu GMKI Komisariat FKM USU ke-12
Ut Omnes Unum Sint
Syalom..
GMKI Komisariat FKM USU GMKI Komisariat FKM USU Author

FACEBOOK